Studi Kritis tentang Pemahaman Jamaah Tabligh

 

MENYINGKAP KESALAH FAHAMAN TERHADAP JAMAAH TABLIGH

Segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara Seluruh Alam, Salawat dan Salam semoga tetap dilimpahkan kepada sebaik-baik Nabi Rasul Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya sampai hari pembalasan.

Selanjutnya, kalau anda belum pernah melihat seseorang, atau kelompok/jama’ah dari dekat, dengan bersahabat atau dengan partisipasi, anda tidak dapat menghukuminya dengan pandangan yang benar. Sebab sudab jelas bahwa apa saja yang anda dengar dari orang-orang itu belum tentu benar dan tepat. Maka dari itu Allah memerintahkan kita:

“Apabila seseorang fasiq datang membawa berita kepadamu, maka selidikilah …“

Rasulullah bersabda:

“Cukuplab seseorang dikatakan pembohong, bila ia memberitakan segala yang ia dengar”.

Saya, penulis kata pengantar ini dengan segala kerendahan hati menuturkan bahwa saya telah menyelesaikan studi di Madrasah Deoband, mendapat Asy-Syahadah AI-Alamiyyah di Universitas Khoirul-madaris, Multan Pakistan pada tahun 1382 H. Kemudian saya mengajar di beberapa Pesantren antara lain Sahiwal, Faishol Abad, Jehiem, Rawalpindi di Islamabad.

Hubungan saya dengan Amir Jama’ah Tabligh di Pakistan yaitu H. Basyir Ahmad rahimahullah, cukup rapat, tetapi saya belum tahu kepentingan aktifitas jama’ah ini. Sampai akhirnya Allah SWT memberi kehormatan kepada saya untuk dapat diterima di Fakultas Da’wah dan Ushuludlin, universitas Islam Madinah AI-Munawwarah Pada hari ketiga dari diterimanya saya di Universitas Islam, saya dan Seluruh mahasiswa asalPakistandiundang oleh Syaikh Sa’id Ahmad ke Masjid An-Nuur.

Beliau telah menerangkan kepentingan usaha yang agung ini. Dan sejak itulah ucapan Syaikh Sa’id begitu berkesan dihati saya dan saya mendapat kesempatan untuk melihat jama’ah ini dari dekat.

Pada tahun 1395 H saya mendapat kesempatan untuk khuruj fisabilillah selarna 40 hari keSudan. Saya menjadi tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang hatinya telah terbakar oleh kesedihan dan kerisauan yang dalam karena melihat keadaan umat Islam di hari ini Dalam kerja besar ini mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi. Dan karena keikhlasan dan kesungguhan mereka dalam da’wah. Allah SWT telah memberikan hidayah kepada banyak hamba-hambanya,

Dalam penjalanan khuruj tersebut di stasiun kereta api (Syindi) saya telab melihat seorang pemudaTunisbersarna dengan seorang gadis Amerika. Waktu itu kami dalam perjalanan menuju kePort Sudan. PemudaTunistersebut ikut naik di kendaraan kami, maka seorang diantara kami berbicara kepadanya tentang iman, sehiugga Allah SWT telab memberikan karunia hidayah kepadanya. Setelab kepulangan kami ke Saudi Arabia, pemuda tersebut telah datang untuk melaksanakan Umroh dan ia telah hafal beberapa juz AI-Qur an. Adalab sangat kebetulan sekali, pemuda itu termasuk keturunan As-Sadaat dan ia mempunyal keluarga di Madinah AI-Munawwarah.

Setelab tamat dari fakultas Da’wah dan Ushuluddin di Universitas Islam Madinah Al-Munawwrah saya menjadi tenaga da’i dari Lembaga Riset Jamiyah, Fatwa, Da’wah dan Bimbingan Islam di Mauratius kemudian di negeni Bahrain dan bekerja disana selama 12 tahun. Dalarn masa itu, saya telah mengunjungi banyak negara. Sungguh saya belum pernah melihat pengaruh jama’ah manapun yang menyamai pengaruh Jama’ah Tabligh. Dan karena takut dari pengaruh jama’ah ini, sebagian orang menentangnya dan melemparkan tuduhan-tuduhan yang berbahaya. Tetapi karena keikhlasan mereka, Allah SWI’ selalu menolong dan membela mereka dengan bantuan gaibNya.

Buku yang ada dihadapan anda, saya beri nama “Jilaaul Adzhan” (menyingkap tabir kesalah fahaman terhadap Jama’ah Tabligh) yang merupakan kumpulan surat-surat para ulama yang Mukhlis di Kerajaan Saudi Arabia, yang diketuai oleb Yang Terhormat Syaikh Abdul Aziz bin Abdillab bin Haz (semoga Allah senantiasa menjaga beliau). mi merupakan bantuan gaib dan Allah Aza Wajalla untuk Jama’ah Tabligh. Kumpulan surat-surat mereka mengandung dorangan semangat untuk jama’ah ini, serta anjuran dan galakan untuk belajar dan mengajar, juga dorongan semangat untuk memperbaiki aqidah.

Yang lebih penting lagi surat-surat tersebut mengajak untuk menyelamatkan ummat dari perpecahan dan perselisihan menuju persatuan Maka dari itu saya telah berfikir untuk menyebar luaskan surat-surat tersebut seperti apa adanya, supaya ummat Islam bersatu diatas satu kalimah. Umat Islam yang terpecah-pecah di zaman ini menghajatkan kepada persatuan lebih besar lagi dan pada di zaman sebelumnya.

Keamanan dan ketentraman tidak mungkin terwujud kecuali dengan kembali kepada Al-Quran dan AI-Sunnah, mempraktekkan tuntutan-tuntutan keduanya, melaksanakan da’wah dan dengan mewujudkan solidaritas Islam.

Akhirnya saya mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Syaikh As-Sayyid Nafis Al-Huseiny, semoga Allah SWT menjaga beliau yang telah memerintahkan kepada saya untuk melaksanakan kewajiban saya dengan sebaik-baiknya terhadap usaha yang agung ini.

Sebagai penutup saya mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh penanggung jawab di kantor Dar AI-Hasan untuk percetakan dan terjemah di markas FB, Ayyub Market,Islamabad. Mereka itu adalah Syaikh Raghib Hasan, Syaikh Ahmad Hasan, semoga Allah SWT menjaga beliau berdua, juga pakar lay out saudara Sulaiman Haidar, semoga Allah menjaganya, yang telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk penulisan dan pencetakan buku ini dalam bentuk yang baik dan indah. Semoga Allah membalas kebaikan mereka semua.

Saya berdo’a kepada Allah SWT agar menjadikan usaha saya yang sederhana ini penyebab persatuan ummat islam. Dan semoga Allah SWT memberikan taufik kepada ummat ini untuk melaksanakan kerja mereka yang hakiki yaitu amar ma’ruf nahi munkar, sehingga berhasil meraih kembali kehormatan dan kejayaan mereka seperti dimasa yang lalu. Amin.

Shalawat dan salam semoga tetap dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga beliau dan seluruh sahabat.
Ghulam Mustofa Hasan

 
 
 
 
GERAKAN KEAGAMAAN DI PERGURUAN TINGGI UMUM ;
Studi Kasus di Kampus Universitas Brawijaya MalangOleh: Huda AliBalai Penelitian Agama dan Kemasyarakatan
1995/1995

Dinamika gerakan mahasiswa Indonesia memiliki akar yang relatif panjang, dimulai sejak awal abad ini ketika sejum­lah kecil penduduk pribumi mendapat kesempatan belajar di Perguruan Tinggi di negeri Belanda atau di Nusantara yang didirikan pemerintah kolonial Belanda. Situasi sosial di masa penjajahan telah menumbuhkan kesadaran mereka mengenai arti penting posisi yang mereka miliki guna mempelopori perubahan sosial dan memimpin rakyat terjajah mencapai kemerdekaan. Kesadaran semacam inilah yang tampaknya menja­di landasan bagi berkembangnya tradisi kepedulian sosial mahasiswa Indonesia hingga saat ini; suatu tradisi yang garis persambungannya ditarik dari sejarah gerakan kebang­kitan nasional yang diprakarsai oleh mahasiswa di tahun 1908, Sumpah Pemuda di tahun 1928, revolusi fisik 1945 yang melahirkan kemerdekaan sekaligus para pemimpin bangsa dari kalangan mahasiswa, gerakan perlawanan mahasiswa tahun 1966, serta gerakan mahasiswa dasawarsa 1970-an.

Tradisi kepedulian sosial dalam bentuk gerakan itu mengan­dung warna politik yang sangat kuat, dalam arti gerakan­-gerakan tersebut baik secara eksplisit maupun implisit, bertujuan mempengaruhi proses pengambil keputusan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kenegaraan.
Berdasarkan data hasil penelitian ini menunjukan bahwa pembinaan keagamaan di kampus UNIBRAW cukup aktif dan menumbuhkan berbagai kreativitas keagamaan para mahasiswanya, baik dalam bentuk kelompok-kelompok diskusi sampai dengan pembentukan lembaga sosia1 keaga­maan, maupun dalam bentuk perayaan dan pameran keaga­maan.

Untuk memelihara keutuhan persatuan kampus yang berwenang Civitas Akademika UNIBRAW mengambil langkah preventif agar tidak terjadi perpecahan dengan melarang pembentukan firqah-firqah yang memberi peluang kepada terjadinya perpecahan mahasiswa.

Gerakan keagamaan yang pengikutnya konsisten menjauhi bentuk-bentuk kepartaian dan masalah-masalah politik telah memungkinkan dapat melaksanakan aktifitas keaga­maan di kampus UNIBRAW, sebagaimana jama’ah Tabligh.

Berdasarkan analisis kajian ini merekomendasikan kelompok-kelompok diskusi keagamaan sebaiknya diberi dukungan agar dapat berkembang dan hasilnya dapat diapli­kasikan dalam suatu lembaga. Sedangkan untuk memperdalam agama dan menambah pengetahuan agama para mahasiswa yang terasa masih kurang dari kuliah agama kurikuler maka sebaiknya kegiatan keagamaan yang tidak menumbuhkan firqah-firqah diberi kebebasan dan dukungan di kampus***

Sumber : Kementerian Agama RI

INDONESIAN ISLAM IN A GLOBAL CONTEXT:

A POLYPHONY OF VOICES Title: PESONA JAMA’AH TABLIGH DALAM

 

nugroho trisnu bratatrisnubrata@yahoo.com

(Tulisan ini pernah dipresentasikan dalam 4th International Symposium of Journal Antropologi Indonesia July 12-15, 2005 di UI Jakarta).

PENDAHULUAN

Makalah ini berusaha mengkaji fenomena gerakan dakwah Islam yang menamakan dirinya “Jama’ah Tabligh”. Komunikasi terjadi antara saya dengan anggota Jama’ah Tabligh ketika mereka secara sengaja mendatangi rumah saya di Yogyakarta. Dalam kurun waktu 8 tahun, sudah sekitar 4 kali Masjid di tempat saya tinggal didatangi oleh Jama’ah Tabligh. Setiap kali anggota Jama’ah Tabligh menginap di Masjid dekat rumah saya, mereka hampir tiap malam datang ke rumah saya dan rumah-rumah tetangga yang bergama Islam. Ada beberapa keunikan yang menjadi identitas Jama’ah Tabligh, mulai dari penampilan, cara berpakaian, kebiasaan keluar rumah untuk berdakwah selama berhari-hari, cara makan bersama, metode berdakwah, hingga menghindari politik dan kekerasan dalam berdakwah Islam.

 

“Jama’ah” secara harfiah sering disamakan dengan kelompok atau bersama-sama, misalnya sholat berjama’ah artinya sholat bersama-sama yang dipimpin oleh seorang imam dan diikuti oleh para makmum. Kata “tabligh” adalah salah satu sifat yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW dari empat sifat beliau (sidiq = benar, amanah = bisa dipercaya, fathonah = cerdas, dan tabligh = menyampaikan). Tabligh atau menyampaikan dalam hal ini adalah menyampaikan dakwah ajaran-ajaran agama Islam kepada orang lain. Hal ini kalau kita bahas tentang asal kata dari Jama’ah Tabligh. Pada aspek penampilan, cara berpakaian para karkun (bhs. India) yaitu para aktifis Jama’ah Tabligh tampak khas.

Para lelaki biasanya berpakaian dominan warna putih dengan baju “Afghani clothes” atau baju Afghanistan yang biasa dipakai oleh orang-orang Afganistan, India, Pakistan, dan Banglades. Ada juga warna baju lain seperti coklat, biru, hitam, dll. Baju ini berlengan panjang, dan menjulur ke bawah sampai lutut dengan belahan disisi kiri bawah dan kanan bawah. Istilah model baju ini saya dengar dari laki-laki pedagang baju di Mekah saat kami sekeluaraga pergi haji ke Mekah pada tahun 1998. Menurut si pedagang baju itu, Afghani clothes berbeda dengan “gamis” yang biasa dipakai oleh para pria Arab. Gamis adalah baju yang menjulur ke bawah sampai hampir menutupi mata kaki, biasanya berwarna putih dan berlengan panjang. Para istri dari karkun ini biasanya berjilbab dan memakai cadar (penutup wajah), mereka lebih banyak tinggal di rumah dan menjadi manajer rumah tangga. Para suami lebih banyak berada di luar rumah untuk mencari rejeki dan berdakwah agama Islam.

Jama’ah Tabligh didirikan oleh Maulana Muhammad Ilyas Al-Kandahlawy pada tahun 1920-an (?) di Uttar Pradesh, India. Sebagian besar pengikutnya berada di India, Pakistan, dan Bangladesh. Sejak 1980-an organisasi dakwah ini melebarkan sayapnya ke Timur Tengah, Asia Tenggara (terutama Indonesia, Malaysia, Thailand), Australia, dan Amerika (Majalah GATRA, 27 November 2004). Walaupun para pengikut Jama’ah Tabligh berasal dari berbagai negara akan tetapi gaya berpakaian mereka cenderung sama yaitu lebih suka memakai Afghani clothes, dari pada memakai gamis.

PEMBAHASAN

Berawal dari sebuah peristiwa saat mengikuti kursus persiapan masuk perguruan tinggi di Yogyakarta, salah satu tentor mengajak dan setengah memaksa kepada saya untuk mendatangi pengajian di Masjid Al-Ittihad di Jalan Kaliurang Yogya. Saat itu saya tidak mau. Lain waktu tetangga saya juga pernah mengajak dengan setengah memaksa untuk mendatangi pengajian di Masjid Al-Ittihad di Jalan Kaliurang Yogya. Saya tetap tidak mau dengan berbagai alasan yang saya sampaikan.

Mulai saat itu saya bertanya-tanya di dalam hati, sebenarnya pengajian di tempat itu model pengajian seperti apa ? Apakah sebuah pengajian Islam sempalan seperti yang banyak dibicarakan orang? Pertanyaan itu terjawab setelah beberapa tahun berlalu yaitu pada saat saya telah hampir selesai kuliah di Jurusan Antropologi UGM. Beberapa orang laki-laki dengan baju khas dan sebagian memakai sorban (ikat kepala) dengan membawa alat-alat masak serta perlengkapan makan mohon ijin kepada pemuka masyarakat untuk bermalam sekitar 3 hari di Masjid Kampung saya tinggal.

Ketua Takmir Masjid dan Ketua RW pada awalnya ragu-ragu karena penampilan para pendatang itu terlihat asing, mungkin ada perasaan khawatir dan curiga menghinggapi perasaan para tokoh masyarakat di kampung saya itu. Ketika wakil dari orang-orang asing itu datang ke rumah saya untuk minta ijin kepada saya karena saya sebagai ketua pemuda kampung, saya langsung mengijinkan. Dalam pikiran saya inilah kelompok pengajian yang dahulu setengah memaksa saya untuk bergabung dengan mereka, saat inilah saya bisa tahu lebih banyak keberadaan mereka.

Di depan jama’ah sholat magrib setelah sholat berlangsung, saya katakan bahwa “innamal mukminuna ikhwah, bahwa semua orang Islam itu bersaudara” sehingga saudara yang datang dari jauh perlu disambut kedatangannya. Akhirnya diterimalah mereka menginap di masjid kami, akan tetapi ada juga satu dua warga yang tetap curiga dan menolak mereka walaupun pendapat mereka ini tidak bisa diwujudkan. Kecurigaan terhadap sesama orang Islam ini karena didasari oleh ketidaktahuan, lebih dari itu adalah wacana yang dikembangkan pada jaman Orde Baru bahwa Islam di Indonesia hanya ada 2 yaitu Islam tradisional yaitu NU dan Islam modern yaitu Muhamadiyah.

Dikotomi Islam yang mengkutub pada Gerakan Muhamadiyah dan Nahdhatul Ulama yang menjadi simbol Islam Modernis dan Islam Tradisional selama puluhan tahun telah menjadi wacana baku dalam mengkaji Islam di Indonesia. Orang selalu saja mengkaitkan Islam dengan Muhamadiyah dan NU. Jika ada gerakan atau kelompok di luar Muhamadiyah dan NU maka akan segera dicap sebagai Islam sempalan, dan lebih ekstrem lagi dicap sebagai Islam aliran sesat yang harus dilarang dan dibubarkan. Mengapa Muhamadiyah dan NU menjadi mainstream wacana Islam di Indonesia? Apakah karena jumlah masa yang besar ?

Jawabannya, bahwa Muhamadiyah dan NU selain karena jumlah masanya yang besar, juga karena kedua organisasi Islam itu mau mendukung penguasa Orde Baru. Beberapa orang pemerintah ditempatkan menjadi pengurus di kedua organisasi itu. Penerimaan Pancasila oleh Muhamadiyah dan NU sebagai satu-satunya azas adalah simbol ketundukan kedua organisasi itu terhadap kekuasaan pemerintah Orde Baru. Dalam konteks ini Pancasila diposisikan sebagai totem, atau malah sebagai sebagai “agama” yang dipaksakan oleh oleh pemerintah untuk diterima oleh semua lapisan masyarakat. Pada sebagian orang muslim fenomena itu adalah proses pemusrikan pada orang Islam di Indonesia.

Sejak kekuasaan Orde Baru tumbang pada 21 Mei 1998 yang membuka kran keterbukaan termasuk dalam beragama Islam, mulailah bermunculan gerakan Islam di luar mainstraim NU dan Muhamadiyah. Contoh gerakan itu antara lain; Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi dengan Laskar Jihad-nya, FPI, Majlis Mujahidin, Jama’ah Tabligh, dll. Reformasi 1998 juga telah memutar pendulum wacana Islam di Indonesia dari wacana Islam tradisional vs Islam modern, bergeser menjadi wacana Islam kaaffah vs Islam moderat.

Berbagai kelompok Islam ini–walau tidak semuanya–mewakili sayap Islam kaffah yaitu berusaha mengimplementasikan syariat atau ajaran Islam ke dalam hidup sehari-hari secara kaaffah atau secara utuh dan menyeluruh. Ajaran Islam coba mereka aplikasikan dalam kehidupan di dalam rumah tangga, di dalam proses perdagangan/perniagaan, di kantor, atau di tempat-tempat umum seperti terminal atau bandar udara secara damai dan tidak mengganggu hak-hak orang lain. Sikap toleransi sosial (tasamuh) juga hidup subur di dalam komunitas Islam ini. Di sisi lain seperti NU dan Muhamadiyah dan yang lain menempatkan diri pada posisi Islam moderat, yang ingin menerapkan ajaran atau syariat Islam dengan menyesuaikan kondisi masyarakat kekinian. Gerakan Islam Liberal yang dipelopori oleh Ulil Absar Abdalla di Jakarta juga menjadi fenomena menarik untuk dikaji lebih mendalam pada kesempatan lain.

Jama’ah Tabligh dalam hal ini termasuk pada posisi Islam kaafah. Kelompok-kelompok Islam seperti Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir Indonesia, Salafi, FPI, Majlis Mujahidin, atau Jama’ah Tabligh dll. tidak semuanya berdiri setelah Orde Baru tumbang. Sebagian sudah ada dan berdakwah secara bawah tanah serta melakukan kaderisasi secara intensif, misalnya Gerakan Tarbiyah yang sudah muncul sejak tahun 1970-an secara bawah tanah dan meminjam model pembinaan kader dari model gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Gerakan Tarbiyah ini pada awal kemunculannya di tahun 1998 melalui “wajah” KAMMI (Kesatuan Mahasiswa Muslim Indonesia) dengan ketuanya Fahri Hamzah, kader jebolan Gerakan Tarbiyah.

KAMMI yang diback-up para senior Gerakan Tarbiyah bertransformasi menjadi Partai Keadilan (PK). PK tidak mencapai electoral thresshold pada pemilihan umum 1999 sehingga bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Organisasi Salafi juga sudah muncul sejak jaman Orde Baru dengan pusatnya di Pondok Pesantren Ihya’us Sunnah di Sleman Yogyakarta di bawah pimpinan Ustadz Ja’far Umar Tholib. Di bawah Ja’far Umar Tholib organisasi ini menjadi terkenal karena pembentukan Laskar Jihad Ahlus Sunah Wal Jama’ah (ASWJ) yang dikirim ke medan perang di Ambon dan Maluku.

Ada juga Salafi yang berpusat di Pondok Pesantren Jamilurrohman di Jalan Imogiri Bantul Yogyakarta di bawah Ustadz Abu Nida. Jama’ah Tabligh juga sudah muncul sejak jaman Orde Baru, di Yogyakarta pusat aktifitasnya adalah Masjid Al-Ittihad di Jalan Kaliurang di dekat kampus UGM Yogyakarta. Ini adalah contoh beberapa gerakan atau organisasi yang selamat dari tangan kejam pemerintah Orde Baru. Gerakan Islam atau kelompok Islam yang pernah dihancurkan oleh pemerintah karena dicap sebagai Islam sempalan misalnya adalah kelompok Islam di Lampung yang dipimpin oleh Warsidi. Kelompok ini kemudian diberi stigma sebagai Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) Warsidi, diserbu oleh aparat keamanan dan yang masih hidup dibawa ke pengadilan.

Contoh lain adalah kelompok Haur Koneng di Jawa Barat juga dibubarkan oleh pemerintah, atau Islam Jama’ah yang kemudian berganti nama menjadi LEMKARI dan kini bernama LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia). Istilah GPK adalah stigma yang dipropagandakan oleh pemerintah orde baru sehingga berlanjut dengan terbentuknya public opinion, bahwa pihak yang dicap sebagai GPK memang musuh pemerintah, musuh negara, dan musuh masyarakat sehingga harus dihancurkan. Ternyata masyarakat biasanya mendukung sikap pemerintah itu. Stigma atau label sebagai GPK identik dengan istilah ekstrimis pada jaman perang kemerdekaan Indonesia tahun 1945-1949. Rakyat Indonesia yang melawan pemerintah kolonialis Belanda dengan mengangkat senjata dicap sebagai kaum ekstremis oleh penguasa kolonial Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia pasca Perang Dunia II.

Istilah ekstremis ini diadopsi oleh pemerintah Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dengan munculnya stigma ekstrem kiri bagi pihak oposisi yang berbasis pada pemikiran sosialisme dan marxisme, dan ekstrem kanan bagi oposan dengan basis pemikiran dari ajaran Agama Islam. Pada era kekinian terjadi metamorfosis stigma yaitu kaum teroris bagi umat Islam yang berani melawan peradaban Barat dengan mengangkat senjata. Berbagai stigma di muka apabila kita lihat secara teliti ternyata terdapat pola yang sama. Stigma sebagai ektremis, ektrem kanan dan ekstrem kiri, Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK), maupun teroris pada dasarnya diciptakan oleh pihak pemegang kekuasaan. Logika kekuasaan di mana kekuasaan yang ada di tangan mereka selalu terancam oleh pihak oposisi, memotivasi para penguasa untuk meniadakan penentangan dan perlawanan dengan cara yang keras dan kejam terhadap para penentang penguasa.

Kaum oposan yang telah berani melawan pemegang kekuasaan karena kekuasaan dianggap telah membelenggu dan menindas mereka, sebelum secara fisik dihancurkan oleh para penguasa maka terlebih dahulu dihancurkan citranya (image-nya) dengan membentuk opini publik. Apabila opini publik telah terbentuk di masyarakat secara luas maka penghancuran fisik seperti penyerbuan oleh aparat keamanan dan menyeret ke pengadilan terhadap para penentang pemerintah ke pengadilan. Di sini opini publik berfungsi sebagai alat legitimasi bagi penindasan oleh penguasa terhadap kaum oposan. Terbentuknya opini publik tidak bisa dilepaskan dari peran media massa baik media massa cetak maupun media massa elektronik. Media massa menjadi jembatan yang menghubungkan dan menyebarluaskan opini dari pembuat opini kepada khalayak.

Opini publik tentang Jama’ah Islamiah (JI) yang dibangun oleh pemerintah Amerika Serikat dan diamini oleh banyak penguasa di berbagai negara di Asia Tenggara, sedikit banyak ternyata mendapat counter opinion (opini tandingan) dari masyarakat Islam secara luas. Diksi atau pilihan kata Jama’ah Islamiyah mungkin saja terdapat maksud untuk menggiring memori masyarakat terhadap organisasi Islam Jama’ah yang berpusat di Kediri, Jawa Timur pada masa Orde Baru. Karena memiliki citra buruk maka Islam Jama’ah berganti nama menjadi LEMKARI, kemudian berubah lagi menjadi LDII sampai sekarang. Sebagai siasat untuk bisa tetap eksis maka LDII berlindung di bawah GOLKAR dan massa LDII menjadi underbow GOLKAR. Jama’ah Islamiyah berbeda dengan Islam Jama’ah yang citranya buruk.

Terlepas ada atau tidak organisasi Jama’ah Islamiyah (JI) di Asia Tenggara, di balik frase Jama’ah Islamiyah terkandung makna bahwa Jama’ah Islamiyah itu artinya adalah kelompok, golongan atau semua orang yang beragama Islam. Ketika Jama’ah Islamiyah yang maknanya secara luas adalah “semua orang Islam”, dicap sebagai kaum teroris maka banyak orang yang buta politik seperti saya, merasa sakit hati terhadap Amerika Serikat dan sekutunya. Umat Islam yang berusaha melaksanakan ajaran Islam secara baik dengan mencintai Allah (hablumminallah) dan mencintai sesama manusia (hablumminannas) mengapa dikatakan sebagai kaum teroris yang menghancurkan kehidupan manusia?

Jama’ah Tabligh yang menjadi sentra kajian tulisan ini juga telah membuktikan bahwa Islam adalah agama yang cinta damai. Jamaah Tabligh di mata saya adalah sebuah gerakan penyebaran agama Islam yang berusaha terus menerus merekrut anggota dengan jalan persuasif. Selama kurun waktu 8 tahun kelompok jamaah Tabligh ini sudah sekitar 4 sampai 5 kali menginap di masjid kampung saya untuk menyebarkan dakwah Islam. Model dakwah mereka ada yang dinamakan “jaulah” dan “khuruj”. Jaulah adalah berkeliling mendatangi rumah-rumah orang Islam yang terletak di sekitar masjid tempat para karkun itu menginap. Mereka ini bersilaturahmi (menjalin hubungan persaudaraan) dan kemudian menyampaikan kebaikan-kebaikan ajaran Islam. Khuruj adalah keluar atau meninggalkan lingkungan sehari-hari dengan tujuan menyampaikan dakwah Islam. Bisa saja mereka meninggalkan lingkungan tempat tinggal dan keluarga, meninggalkan pekerjaan, dan secara berjamaah pergi ke luar kota, atau keluar propinsi atau bahkan ke luar dari batas negara. Biasanya mereka berkhuruj selama 3 hari dalam satu bulan, 40 hari dalam satu tahun, atau 4 bulan selama seumur hidup.

Para karkun yang sering mengunjungi rumah saya di Yogyakarta sering berdiskusi sampai larut malam tentang berbagai hal terutama yang berhubungan dengan Islam. Mereka ada yang datang dari Yogyakarta, dari Jakarta, dari Lampung, atau dari Medan Sumatera Utara. Mereka berpandangan bahwa Islam adalah sistem hidup yang paling baik, maka berbahagialah orang Islam yang menjalankan ajaran agamanya. Mereka selalu mengajak memeluk ajaran Islam secara kaaffah yaitu menyeluruh, utuh, atau tidak sepotong-sepotong yang dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari. “Udkhullu fisilmi kaaffah = masuklah ke dalam Islam secara kaaffah”, kata mereka dengan mngutip salah satu ayat di dalam Al-Qur’an. Mereka selalu saja tidak henti-hentinya mengajak solat wajib berjamah di masjid bagi laki-laki, selalu berbuat baik kepada sesama manusia tanpa membedakan agama, meninggalkan larangan-larangan agama, dan mereka juga tidak pernah mengatakan bahwa mereka berasal dari organisasi dakwah bernama Jama’ah Tabligh, mereka selalu mengedepankan kesatuan Islam.

Mungkin saja dengan meminggirkan identitas golongan mereka, mereka bertujuan untuk tidak terjebak pada perdebatan antar kelompok-kelompok Islam. Dengan bahasa dan penampilan yang rendah hati dan mempesona lawan bicara, mereka ini selalu menghindarkan diri dari khilafiyah (beda pendapat) dan menghindarkan diri dari siyasah (politik praktis). Walaupun tidak berpolitik praktis, akan tetapi pada saat memilih pemimpin mereka bermusyawarah dan bermufakat. Pemimpin bisa dipilih dengan cara itu, dan bisa diganti dengan cara yang sama. Siapa saja bisa menjadi pemimpin asalkan memiliki sifat-sifat sidiq = benar, amanah = bisa dipercaya, fathonah = cerdas, dan tabligh = menyampaikan. Seperti halnya pada saat solat berjamaah maka siapa saja bisa menjadi imam asalkan bisa melafalkan ayat-ayat Qur’an, dalam kondisi yang baik, dan dianggap mampu oleh makmum.

Dari fenomena Jamaah Tabligh ini apabila ada yang mengatakan bahwa sistem kekuasaan Islam itu anti demokrasi dan otoriter, tentu itu adalah pendapat yang sangat keliru. Sistem demokrasi “masyarakat Barat” seharusnya berani membuka hati bahwa secara antropologis, masyarakat Islam juga memiliki tata cara dan sopan santun dalam berdemokrasi. Masyarakat Islam tidak perlu dipaksa-paksa untuk menganut sistem “demokrasi ala Barat”. Bahkan secara ekstrem mereka orang Islam dicap sebagai kaum teroris yang harus diperangi dan dimusnahkan dari muka bumi, hanya karena berusaha mempertahankan identitas sebagai masyarakat muslim.

Untuk kasus ini tentu saja para antropolog sedunia harus ikut turun tangan untuk memberikan penjelasan-penjelasan rasional, sistematis, dan jernih kepada para “pendekar demokrasi” ala Barat mengenai kerangka berpikir masyarakat muslim. Masyarakat muslim tentu tidak akan memerangi masyarakat penganut demokrasi barat apabila masyarakat muslim tidak “diganggu” kehidupannya. Kasus Jamaah Tabligh menunjukkan bahwa mereka selalu menghindari perbedaan pendapat, apalagi yang menjurus pada benturan fisik.

Bayan (ceramah, pengajian) yang disampaikan oleh ustadz tiap sehabis solat berjamaah yang dilakukan secara rutin pada komunitas Jama’ah Tabligh, biasanya berisi 6 hal standar yaitu; 1) keutamaan Laaillahaillallah Muhamadarrosulullah, 2) membesarkan nama Allah dengan cara menjalankan sholat secara khusuk, 3) ilmu dan dzikir, 4) ikram atau memuliakan sesama manusia, 5) mengikhlaskan niat, dan 6) pentingnya setiap muslim melakukan dakwah dan tabligh (Majalah GATRA, 27 November 2004).

Dari materi dakwah ini kita bisa melihat bahwa Jama’ah Tabligh tidak mengajarkan ummat Islam untuk memusuhi orang lain, tetapi selalu mengajarkan kebaikan. Para antropolog jangan mengulangi kesalahan besar seperti yang dilakukan oleh Snouk Horgronye seorang antropolog dari Belanda. Dia menyumbangkan ilmu antropologinya untuk terjadinya pembantaian Rakyat Aceh dan berujung pada penindasan dan penjajahan oleh Belanda terhadap Rakyat Aceh. Penulisan buku “Pedang Samurai dan Bunga Seruni (The Chrysanthemum and The Sword)” oleh seorang antropolog wanita dari Amerika Ruth Benedict, yang kemudian menjadi awal penghancuran Bangsa Jepang pada Perang Dunia II, tidak perlu diulangi oleh para antropolog kekinian.

Para antropolog jangan bersedia menjadi ahli kebudayaan tentang masyarakat Muslim yang telah diberi stigma sebagai teroris, demi kepentingan pemerintah Amerika, yang bisa berujung pada penghancuran masyarakat Muslim.

KESIMPULAN

Jama’ah Tabligh adalah potret dari gerakan dakwah Islam kekinian yang bersifat lintas negara. Islam yang terlihat pada wajah Jama’ah Tabligh adalah santun, rendah hati, dan cenderung menghindari khilafiyah (beda pendapat). Para aktivis Jama’ah Tabligh (karkun) secara rajin dan kontinyu ber-khuruj untuk menyampaikan dakwah Islam dengan cara yang mempesona, agar Islam menjadi sistem hidup para pemeluknya di dalam kehidupan sehari-hari. Agar pemeluk agama Islam melaksanakan ajaran Islam secara kaaffah, secara menyeluruh dan tidak sepotong-sepotong.

42 thoughts on “Studi Kritis tentang Pemahaman Jamaah Tabligh

    • Selama tidak ada ajaran dalam Al Qur’an dan Al Hadist, memang Bid’ah,…. itu betul mas,… tapi mari kita kupas sedikit lah… Bid’ah artinya kan Sia – sia,… kan cuma sia2… artinya kita masih bisa mengambil hikmah dibalik kesia2an itu kan?
      Misalnya mengadakan kenduri kita bisa bersilaturahmi dengan saudara, tetangga ato yang lain. kan banyak tuch manfaat dari yang disebut bid’ah….. kecuali bid’ah yang mengarah ke SYIRIK…. itu mmg harus kita jauhi bener2….. tul nggak?

  1. sahabat sy merupakan slahsatu dari JT, truz sy bilang kpd beliau kalau JT itu bid’ah lantas bilau bilang balik k sy, mendingan kamu cepat2 bertobat krna tlah mengatakan kalau JT itu bid’ah, sy jd bingung tadinya sy yg harusnya mengatakan pada beliau, kalau dia cepat2lah bertobat agar tdk mengikuti lg ajaran bid’ah tersebut,

  2. seperti itulah akhi keadaan org2 yang berbuat bid’ah, mereka menganggap bid’ah yang dilakukannya adalah sunnah, mereka menganggapnya sebuah kebaikan, padahal perbuatan mereka itu dapat merusak agama islam yang sudah sempurna, makanya wajarlah kalau bid’ah itu lebih dicintai iblis dari pada maksiat,karna bid’ah dapat merusak agama islam, agama agama terdahulu juga rusak akibat dari perbuatan bid’ah, tapi agama islam ini akan allah jaga, akan selalu ada ahlus sunnah yang akan membantah ahlul bid’ah

  3. bid’ah lebih dicintai iblis dari pada maksiat , orang orang yang berbuat maksiat itu sadar dia sedang berbuat salah dia menyadari perbuatannya salah,seperti contohnya orang orang yang berzina,dia sadar kalau dia itu sedang melakukan kesalahan,sadar kalau zina itu dosa, sementara orang orang yang berbuat bid’ah dia tidak menyadari kalau perbuatannya itu kesalahan, mereka tidak menyadari perbuatan bid’ahnya itu perbuatan dosa,mereka malah menganggap perbuatan bid’ahnya itu adalah amalan kebaikan

    • Jadi tolong Mas awie diisi ya, berdasarkan cerita diatas

      Sheikh Ahmad bin Yahya An-Najmi adalah ahli sunnah,
      Sheikh Abu Bakar Jabir Aljazairy adalah ahli ………….

  4. bahkan mereka menganggap bid’ah itu sunnah, orang yang bermaksiat lebih mudah untuk kita nasihati karna dia menyadari perbuatannya itu salah, sementara orang yg berbuat bid’ah sangat sulit untuk dinasihati karna dia menganggap dia sedang melakukan kebaikan, karena dia menganggap bid’ahnya itu amalan shalih, coba aja deh kita nasihati orang yg berbuat bid’ah,pasti dia mengatakan “loh koq berdakwah dilarang, loh koq berdakwah koq sesat, dsb” , maka sangat sulit untuk dinasihati dan sangt sulit untuk bertaubat

  5. Abu najih bin sariah ra menerangkan: Rasulullah saw memberi nasihat kepada kami,nasihat itu menggetarkan hati dan mencucurkan air mata kami, kami bertanya, “wahai rasulullah,nasihat itu seakan akan merupakan nasihat yang terakhir,maka berilah kami wasiat!” Nabi saw bersabda, Aku wasiatkan kepadamu agar tetap selalu bertakwa kepada Allah yg maha tinggi dan maha mulia,serta tetap mendengar perintah dan taat,walaupun yang memerintah kalian itu seorang budak,sesungguhnya …….

  6. ” kelanjutan hadits ”

    Sesungguhnya orang yang masih hidup diantara kalian, akan melihat banyak perselisihan, maka wajib atasmu memegang teguh akan sunahku dan sunah khulafaur rasyidin yang diberi petunjuk oleh Allah, dan berpegang teguhlah pada sunah sunah itu dan jauhilah urusan yang di buat buat (bid’ah) , sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” HR. Abu daud dan At tirmidzi .

  7. @ ibnu

    selama antum masih mencampur adukkan sunah dan bid’ah, antum tidak akan pernah bisa membuktikan,

    sederhana di dalam sunah lebih baik dari pada bersungguh sungguh di dalam bid’ah .

  8. ya akhi mari kita do’akan saja kak ibnu, semoga kecintaan dia kepada sunah dan kebenciannya kepada bid’ah melebihi kita, semoga kak ibnu diberikan hidayah oleh Alloh subhana wata’ala dan di beri taufiq,.

  9. saudara saudaraku semua yg di jt, tinggalkanlah cara cara dakwah yg diajarin ilyas, karna memang cara cara seperti itu tidak diajarin oleh rosululloh saw,karna memang cara dakwah yg di ajarin ilyas itu akan menjauhkan kita dari ilmu, karna memang cara dakwah yg diajarin ilyas itu bid’ah, sebelum semuanya terlambat mari kita bertaubat saudara saudaraku , oia tetep dijaga ya sholat jamaahnya,tetep jgn dicukur jenggotnya, mari kita sama sama nuntut ilmu saudaraku,masih banyak yg blm kita ketahui,.

    • YA ASAL JGN MENUNTUT ‘ILMU NYA HANYA KPD PEMAHAMAN YG BATHIL SPT SEKTE SEMPALAN WAHHABY… YG GHULUW THD ORG2 YG MEREKA SEBUT ‘ULAMA (PADAHAL HNYA BERISI ORG2 PINTER YG PINTER MENJILAT DUBUR PENGUASA IBN SAUD)

    • BERILMU SEBELUM BERAMAL
      (a) Beramal itu memerlukan ilmu, dan ini sudah jelas dipahami semua orang.

      (b) Berilmu itu berarti “mempunyai ilmu”, TETAPI pengertiannya BUKAN BERATI “menumpuk-numpuk ilmu”.
      (c) Rasulullah SAW menyuruh orangtua untuk menyuruh anaknya kalau sudah 7 tahun untuk SHOLAT. Seberapa BANYAK ILMU ketika anak itu disuruh untuk Sholat?

      (d) Abu Bakar RA masuk Islam, kemudian Abu Bakar RA langsung terjun da’wah dan besoknya 5 orang masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Seberapa BANYAK ILMU Abu Bakar RA ketika masuk Islam dan langsung terjun da’wah saat itu?

      (e) Seorang ayah menyuruh anak-anaknya puasa di bulan Ramadhan. Seberapa BANYAK ILMU PUASA ketika menyuruh anak-anaknya untuk puasa di bulan Ramadhan?

      – Apakah ayah itu harus hafal seluruh dalil-dalil perihal puasa, kemudian menyuruh anaknya puasa di bulan ramadhan?

      – Apakah anak-anaknya itu harus hafal dahulu dalil puasa, kemudian puasa di bulan ramadhan?

      (f) Artinya “BERILMU SEBELUM BERAMAL”, itu memang benar adanya. TETAPI ummat Islam harus bisa memahami pemahaman yang benar, jangan akhirnya harus banyak dahulu dalil, kemudian terjun da’wah. Nanti akhirnya banyak dahulu dalil, baru menyuruh anaknya untuk sholat dan puasa. Akhirnya anak-anaknya banyak yang tidak sholat dan puasa, KARENA orangtuanya harus harus BANYAK ILMU DAHULU baru menyuruh sholat.

      (g) sama halnya dengan Ummat Islam, karena HARUS BANYAK ILMU DAHULU UNTUK DA”WAH, maka akhirnya ummat Islam banyak yang TIDAK SHOLAT, TIDAK PUASA, dikarenakan ummat Islam meninggalkan dari da’wah itu sendiri.

      (h) KESALAHAN MEMAHAMI, MAKA AKAN BERDAMPAK PADA KEKERDILAN BERPIKIR DAN BERAMAL. Dan ini yang banyak terjadi di kalangan Ummat Islam sekarang ini.

      https://nexlaip.wordpress.com/2012/05/30/berilmu-sebelum-beramal-tetapi-bukan-menumpuk-numpuk-ilmu/

      http://haitanrachman.wordpress.com/

      Moh. Haitan Rachman
      haitanrachman.wordpress.com

    • BERILMU SEBELUM BERAMAL
      (a) Beramal itu memerlukan ilmu, dan ini sudah jelas dipahami semua orang.

      (b) Berilmu itu berarti “mempunyai ilmu”, TETAPI pengertiannya BUKAN BERATI “menumpuk-numpuk ilmu”.
      (c) Rasulullah SAW menyuruh orangtua untuk menyuruh anaknya kalau sudah 7 tahun untuk SHOLAT. Seberapa BANYAK ILMU ketika anak itu disuruh untuk Sholat?

      (d) Abu Bakar RA masuk Islam, kemudian Abu Bakar RA langsung terjun da’wah dan besoknya 5 orang masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Seberapa BANYAK ILMU Abu Bakar RA ketika masuk Islam dan langsung terjun da’wah saat itu?

      (e) Seorang ayah menyuruh anak-anaknya puasa di bulan Ramadhan. Seberapa BANYAK ILMU PUASA ketika menyuruh anak-anaknya untuk puasa di bulan Ramadhan?

      – Apakah ayah itu harus hafal seluruh dalil-dalil perihal puasa, kemudian menyuruh anaknya puasa di bulan ramadhan?

      – Apakah anak-anaknya itu harus hafal dahulu dalil puasa, kemudian puasa di bulan ramadhan?

      (f) Artinya “BERILMU SEBELUM BERAMAL”, itu memang benar adanya. TETAPI ummat Islam harus bisa memahami pemahaman yang benar, jangan akhirnya harus banyak dahulu dalil, kemudian terjun da’wah. Nanti akhirnya banyak dahulu dalil, baru menyuruh anaknya untuk sholat dan puasa. Akhirnya anak-anaknya banyak yang tidak sholat dan puasa, KARENA orangtuanya harus harus BANYAK ILMU DAHULU baru menyuruh sholat.

      (g) sama halnya dengan Ummat Islam, karena HARUS BANYAK ILMU DAHULU UNTUK DA”WAH, maka akhirnya ummat Islam banyak yang TIDAK SHOLAT, TIDAK PUASA, dikarenakan ummat Islam meninggalkan dari da’wah itu sendiri.

      (h) KESALAHAN MEMAHAMI, MAKA AKAN BERDAMPAK PADA KEKERDILAN BERPIKIR DAN BERAMAL. Dan ini yang banyak terjadi di kalangan Ummat Islam sekarang ini.

      https://nexlaip.wordpress.com/2012/05/30/berilmu-sebelum-beramal-tetapi-bukan-menumpuk-numpuk-ilmu/

      http://haitanrachman.wordpress.com/

      Moh. Haitan Rachman
      haitanrachman.wordpress.com

  10. @awie: alhamdulillah jama’ah da’wah (tabligh) telah mengajarkan ana bersikap dengan manhaj nubuwah kepada orang-orang yang ghuluw (berlebihan) dalam tutur kata dan sikapnya……sungguh perkara bid’ah adalah dibenci, dan memahami sunnah bukan dengan kebencian…

  11. Sesungguhnya menuntut ‘ilmu adalah perkara yang fardhu, dan jama’ah da’wah (tabligh) tidak diajarkan untuk menghindarinya…na’udzubillah!! bahkan kita diajarkan untuk ber’ilmu dan menyertainya dengan dzikrullah (mengingat ALLAH) supaya tidak jatuh pada sifat ghuluw, sombong, takabbur, ‘ujub, riya, dll.

  12. Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i ra., ia berkata:
    “……..dan barang siapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, hendaklah dia bicara yang baik atau diam.” (HR. Muslim)

  13. Hadis riwayat Abu Syuraikh Al-Khuza’i ra., ia berkata:
    “….dan barang siapa beriman kepada ALLAH dan hari akhir, hendaklah dia bicara yang baik atau diam.” (HR. Muslim)

    Jadi, apabila kapasitas ‘ilmu kita masih terbatas…hendaklah kita menahan diri dari bicara / membuat pernyataan yang menyakiti hati saudara kita. Sedangkan bahasa ‘alim ulama lebih baik dari bahasa hawa nafsu ketika menyampaikan perselisihan/perbedaan pendapat dalam suatu perkara…..wALLAHU ‘ALAM

  14. Dari hal kebaikan, JT memang banyak disanjung. Akan tetapi, di dalam kebaikannya lebih banyak yang menyesatkan ummah. Kebohongan2nya sangat indah, sehingga membuat ummah tertarik, sebagaimana kitab pedomannya (Fadhail ‘Ammal) yang selalu diagung2kannya. Padahal isinya tidak lebih dari kebohongan2 Al-Kandahlawi. Semoga Allah SWT mengampuni para JT…………. !!!!

    • wahai ummat,, wahai manusia ,,wahai orang2 yang ngaku diri nya orang2 salavyyin,,,,! jangan ber-koaaaarrr……. akidah sy sdh merasa benarr,bebas dr kemusyrikan,, dgn hnya du2k di majelis ta’lim,, mendengar wasiat dr syeikh2,, dngan tanpa ada pengorbanan iman sprti yg di lakukan oleh as-shohabah, ketahuilah,,,! ummat sekarang memang tidk menyembah berhala, tp tanpa d sadari, ummat islam bnyak yg yakin kpda uang,,dngan uang bs slesai masalah..! apakah ini bukan kemusyrikan? atau yg d sebut syirik hnya orng2 yg bljr ilmu perbintangan???? ente bisa nya men-salah kan,,,, apa usaha ente2 terhdp ummat??? kajiaaan??? ibarat nya sprti “orang yg baca buku tentg nikah, apakah hnya dngan bca2 lagsg keluar anak??

  15. akhi yg di jt ana salut dgn semangat dawah antum dan pesan ana cobalah dakwah antum ditambah dngan ilmu ilmu syari agar umat jadi lbh pintar , perbandingan orng berilmu dngan ahli ibadah seperti perbandingan antara bulan dan bintang [ fadoil amal bab ilmu ] tuk akhi yg salafi ana kagum dngan cara bermanhaj antum tapi manhaj yg bagus jangan sampai dikotori dngan cara cara yg tdk bagus sampaikan nasihat dngan cara yg baik dan lemah lembut tugas kita hanya menyampaikan yg hak menurut Alquran dan sunnah yg shahih selebihnya urusan Alloh, syukron

    • ‘ILMU SYAR’I ITU BKN ‘ILMUNYA ORANG2 WAHHABY TOH? ITU YG HRS DI FAHAMI…

      TANTANG BID’AH, PEMBAHASAN ANTARA SUNNI DAN WAHABY GA AKAN PERNAH ADA UJUNGNYA…. KARENA KONSEP BID’AH MENURUT MOSLEM SUNI BERBEDA DGN KONSEP BID’ALA ALA WAHABY

  16. Aslm untuk saudaraku yang aktif di wahaby atau salafy atau ahlussunnah,

    Berkaitan dengan pernyataan yang antum semua bilang bahwasanya Iblis lebih menyukai orang yang berbuat bid’ah daripada berbuat maksiat mohon disertai dengan dalil dari qur’an dan hadits. Tapi jangan di qiyas kan atau dicocok-cocokan seperti kebiasaan antum semua. Kan kebiasaan antum dikit-dikit dalil pas dikasih dalil minta dalil yang harus menunjukan dengan jelas perintah itu.

    Kebetulan ana punya ustadz yang sedang ngambil program S3 Hadits di pakistan sana jadi ana bisa tabayyun sedikit lah dengan dalil tersebut. Oh ya antum semua ada yang tau apa syarat kelulusan program S3 Hadits? Karena antum kan para ahlul ilmi jadi ana yang jahil ini bisa sedikitlah menimba ilmu dari antum semua.

    Jazakallahu.

  17. BERILMU SEBELUM BERAMAL
    (a) Beramal itu memerlukan ilmu, dan ini sudah jelas dipahami semua orang.

    (b) Berilmu itu berarti “mempunyai ilmu”, TETAPI pengertiannya BUKAN BERATI “menumpuk-numpuk ilmu”.
    (c) Rasulullah SAW menyuruh orangtua untuk menyuruh anaknya kalau sudah 7 tahun untuk SHOLAT. Seberapa BANYAK ILMU ketika anak itu disuruh untuk Sholat?

    (d) Abu Bakar RA masuk Islam, kemudian Abu Bakar RA langsung terjun da’wah dan besoknya 5 orang masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Seberapa BANYAK ILMU Abu Bakar RA ketika masuk Islam dan langsung terjun da’wah saat itu?

    (e) Seorang ayah menyuruh anak-anaknya puasa di bulan Ramadhan. Seberapa BANYAK ILMU PUASA ketika menyuruh anak-anaknya untuk puasa di bulan Ramadhan?

    – Apakah ayah itu harus hafal seluruh dalil-dalil perihal puasa, kemudian menyuruh anaknya puasa di bulan ramadhan?

    – Apakah anak-anaknya itu harus hafal dahulu dalil puasa, kemudian puasa di bulan ramadhan?

    (f) Artinya “BERILMU SEBELUM BERAMAL”, itu memang benar adanya. TETAPI ummat Islam harus bisa memahami pemahaman yang benar, jangan akhirnya harus banyak dahulu dalil, kemudian terjun da’wah. Nanti akhirnya banyak dahulu dalil, baru menyuruh anaknya untuk sholat dan puasa. Akhirnya anak-anaknya banyak yang tidak sholat dan puasa, KARENA orangtuanya harus harus BANYAK ILMU DAHULU baru menyuruh sholat.

    (g) sama halnya dengan Ummat Islam, karena HARUS BANYAK ILMU DAHULU UNTUK DA”WAH, maka akhirnya ummat Islam banyak yang TIDAK SHOLAT, TIDAK PUASA, dikarenakan ummat Islam meninggalkan dari da’wah itu sendiri.

    (h) KESALAHAN MEMAHAMI, MAKA AKAN BERDAMPAK PADA KEKERDILAN BERPIKIR DAN BERAMAL. Dan ini yang banyak terjadi di kalangan Ummat Islam sekarang ini.

    https://nexlaip.wordpress.com/2012/05/30/berilmu-sebelum-beramal-tetapi-bukan-menumpuk-numpuk-ilmu/

    http://haitanrachman.wordpress.com/

    Moh. Haitan Rachman
    haitanrachman.wordpress.com

  18. ilmu tidaklah di ukur dengan banyaknya riwayat dan tulisan, akan tetapi hakekat ilmu itu cahaya yang tertancap dalam hati seseorang sehingga di dapat membedakan antara hak dan batil,,,,,qoola imaamul gozali, ketika orang itu menuduh orang salah,,maka dirinya sendirilah yang salah..karena hakekat kebenaran adalah milik Allah swt.
    syukran….

  19. Saudara sekalian yang menamakan dirinya salafy, saya memiliki seorang teman lama yang saat bertemu bergelimang maksiat dan jauh dari agama, bergaul sebulan lebih dengan saya sampai kemudian mendapat hidayah dan menyadari kekeliruannya kemudian berusaha meninggalkan kemaksiatannya, alhamdulillah, kemudian dia bergabung dengan pengajian salafy sehingga lama tidak berjumpa, suatu saat saya berjumpa lagi dengannya dengan melihat perubahan yang banyak, tidak lagi maksiat tetapi dengan ibadah dan pengetahuannya tentang agama, hanya satu yang membuat saya sedih, setelah shalat berjamaah, dia langsung bilang masih banyak diantara jamaah tadi yang salah dalam shalat , kemudian dengan emosi mulai mencaci maki beberapa saudara muslim yang saya rasa dari beberapa perkataannya menjurus kepada fitnah, apa yang terjadi dalam masa menghilangnya dia dan pelajaran apa yang didapat sehingga apa yang keluar dari lidahnya sangat mengerikan ?.

    Kalau mau flash back dimana sebelumnya saya selalu berbuat baik terhadap dia sambil sesekali menasihati dengan lembut saat dia bergelimang dengan maksiat, sampai Allah memudahkan dia mendapat petunjuk untuk memperbaiki kesalahannya dan meninggalkan perbuatan buruknya, tidak mencaci makinya, menghinanya, tetapi sekarang dia setelah mendapat ilmu dari pengajian salafy outputnya seperti itu tidak mau mengajak dengan hikmah malah marah2 kepada orang2 yang mungkin belum dikenalnya atau mereka mungkin saja orang 2 yang baru saja mengenal agama dan mau berusaha memperbaiki dirinya (dia berbuat ini karena katanya telah belajar ilmu pengetahuan di Salafi).

    Ada lagi saya kenal seseorang yg dikenal juga dalam kesesatannya, kemudian mendapat petunjuk untuk meninggalkan kemaksiatannya kemudian belajar kepada ulama yang dikenal aktif di jamaah tabligh, kemudian ikut program pendidikan dengan metode khuruj, yang sering dianggap oleh orang yang mengaku salafy itu adalah metode orang-orang yang tidak berilmu dsb.

    Outputnya adalah teman saya yang ikut jamaah tabligh itu kembali bergaul kepada teman2nya yang masih dalam kemaksiatan sambil menasihati mereka dengan hikmah sampai akhirnya mereka meninggalkan kemaksiatannya kemudian menjadi ahli belajar ilmu, menghafal alqur’an, ahli ibadah, baik kepada orang tua, memuliakan ulama, semangat dalam kebaikan, (mereka berbuat ini karena telah belajar ilmu pengetahuan)

    kisah NYATA !

    Jangan sampai gara2 orang – orang yang mengaku salafy ini membuat banyak orang yg serupa dengan teman saya yang pertama menjadi terhalang dari berubah menjadi baik

  20. afwan y’ akhi awie….jaman sekarang ini bnyk sekali metode da’wah..tp da’wah yg menyerupai da’wahnya para nabi itulah yg telah di buat saudara2 kita di jama’ah tabligh…da’wah di bawah terik matahari..berjumpa ummat..dari satu kampung ke kampung lainnya…dari satu lembah ke lembah lainnya..dari satu lorong ke lorong lainnya…cacian..hinaan..fitnah yg mendera mereka..mereka balas dengan bangun di tengah malam dengan Do’a Hidayah beserta cucuran air mata mereka dikarenakan kecintaan mereka pada saudara nya…yaitu sesama muslim dan semua ummat….agar Alloh Azza Wa Jalla turun hidayah kpd smua manusia..agar ummat islam dapat mengamalkan agama secara sempurna dan agar smua manusia dpt masuk surga berbondong-bondong..terbebas dari Azabny Alloh d Akhirat kelak.. itulah yg pernah di buat oleh nabi terdahulu dan juga di buat oleh Rosulullohi Salallohu’alihi Wasallam dan para sahabatnya……sementara saudara2 kita yg menklaim dirinya pengikut Salafushsholih da’wah mereka hanya sebatas d ruang ber AC..yaitu di Radio2 mereka…dan mereka mengklaim bahwa da’wah di Radio adalah da’wahnya Ahlu Sunnah…y’ akhi harap antum2 ketahui di kalangan Jamah Tabligh banyak Para ‘Alim ‘ulamanya..para penghafal Hadits..para penghafal Qur’an..karena mungkin yg antum lihat di masjid antum yg bertamu dari jamaah tabligh orang2 awam…yg backgroundnya mungkin dahulunya ahli maksiat..dll..jd wajar kalau mereka msh ikut2an dan msh sangat jauh dari ‘Ilmu..y’akhi ana hanya ksh saran klo ad jamaah tabligh sedang berada d masjid antum2..cobalah antum2 bicara dengan mereka…bersihkan hati antum dari dengki…mereka adalah saudara2 kita juga..alhamdulillah asbab pergerakan Jamaah Tabligh..org2 yg dahulunya tidak mengenal agama jadi kenal pada agamanya…yg dahulu tidak cinta kepada Sunnah sekarang mereka dengan bangga memperlihatkan penampilan Sunnahnya…bahkan tidak malu mereka memanjangkan janggut2 mereka walaupun mereka bekerja d kantoran…dan banyak masjid2 yg tidak makmur jadi makmur asbab mereka…sekarang pertanyaannya apa yg telah antum perbuat y’ akhi awie utk agama ini….??…antum hendaknya tabayyun..jgn hanya “kata ust. ini..Kata Ust..itu….”

  21. Org Salafi-wahabi sebenarnya punya niat baik,dan berdasar hadits Nabi:”Addinu nasihah” yaitu agama itu selain berisi Tuntunan,juga berisi nasihat/pesan utk kebaikan bersama yg menghindarkan seseorang dari kesesatan. Mungkin bagi orang tertentu,apa yg dikemukakakan oleh orang yg digolongkan Salafi itu dianggap kasar atau caci-maki,bahkan dibilang fitnah,padahal mereka melakukan perbuatan sesuai dgn yg terdapat dalam surah “Al-.Ashri”,yaitu selalu menyampaikan pe san Kebenaran(Watawa saubil Haqqi)agar tidak masuk golongan yg merugi kelak dihari Akhirat. Janganlah anda2 ber buruk sangka terhadap pendapat org Salafi-Wahabi,cobalah dengan pikiran yg jernih dan hati yg lapang.

    Mungkin bisa disertakan kisah shahabat, kisah nabi SAW yang mencaci maki atau berbuat kasar saat menasihati muslim lainnya sesuai “Al-.Ashri” sebagai landasan untuk berbuat seperti itu?

    • Mungkin bisa disertakan kisah shahabat, kisah nabi SAW yang mencaci maki atau berbuat kasar saat menasihati muslim lainnya sesuai “Al-.Ashri” sebagai landasan untuk berbuat seperti itu? agar sahabat yang lain nanti bisa belajar dari informasi yang antum berikan🙂

  22. Ad-daruquthni meriwayatkan
    dari ibnu umar r.a ,dia
    berkata,”Nabi s.a.w
    memanggil abdurrahman bin
    auf seraya
    bersabda ,”Siapkanlah
    perlengkapanmu,karena aku
    hendak memberikan amanat
    kepadamu untuk memimpin
    pasukan’.” Ad-daruquthni juga
    menyebutkan hadits tersebut
    yg di dalamnya
    disebutkan,”kemudian
    abdurrahman bin auf pergi
    menemu para sahabat yg lain.
    Kemudian setelah rombongan
    terbentuk ,akhirnya mereka
    melanjutkan perjalanan hingga
    tiba di sebuah desa yg bernama
    dumatul jandal.ketika
    memasuki desa itu,mereka
    menyebar utk berdakwah kpd
    para penduduk supaya masuk
    islam.Mereka bergerak di
    kampung itu selama 3 HARI .
    Pada hari ke 3. Al-ashba’ bin
    amr al-kalbi, seorang
    pemimpin
    Nasrani ,menyatakan
    keislamanya. kemudian
    abdurrahman bin auf menulis
    surat kepada nabi s.a.w .untuk
    mengabarkan tentang
    keislaman al-ashba,dan yg
    membawa surat tersebut adl
    seseorang dari juhainah yg
    bernama rafi’ bin mukaits.
    Setibanya surat abdurrahman
    di tangan Nabi s.a.w. Maka
    nabi s.a.w menulis surat
    balasan kepada abdurrahman
    bin auf,yg isinya supaya
    abdurrahman bin auf menikahi
    putri al-ashba’ .abdurrahman
    pun menikahi putri al-ashba’
    seperti yg diperintahkan nabi
    s.a.w kepadanya, kemudian
    lahirlah anak laki-laki yg
    bernama abu salamah bin
    abdurrahman. Demikian
    dituturkan dalam Al-ishabah:1/
    108

  23. Ad-daruquthni meriwayatkan
    dari ibnu umar r.a ,dia
    berkata,”Nabi s.a.w
    memanggil abdurrahman bin
    auf seraya
    bersabda ,”Siapkanlah
    perlengkapanmu,karena aku
    hendak memberikan amanat
    kepadamu untuk memimpin
    pasukan’.” Ad-daruquthni juga
    menyebutkan hadits tersebut
    yg di dalamnya
    disebutkan,”kemudian
    abdurrahman bin auf pergi
    menemu para sahabat yg lain.
    Kemudian setelah rombongan
    terbentuk ,akhirnya mereka
    melanjutkan perjalanan hingga
    tiba di sebuah desa yg bernama
    dumatul jandal.ketika
    memasuki desa itu,mereka
    menyebar utk berdakwah kpd
    para penduduk supaya masuk
    islam.Mereka bergerak di
    kampung itu selama 3 HARI .
    Pada hari ke 3. Al-ashba’ bin
    amr al-kalbi, seorang
    pemimpin
    Nasrani ,menyatakan
    keislamanya. kemudian
    abdurrahman bin auf menulis
    surat kepada nabi s.a.w .untuk
    mengabarkan tentang
    keislaman al-ashba,dan yg
    membawa surat tersebut adl
    seseorang dari juhainah yg
    bernama rafi’ bin mukaits.
    Setibanya surat abdurrahman
    di tangan Nabi s.a.w. Maka
    nabi s.a.w menulis surat
    balasan kepada abdurrahman
    bin auf,yg isinya supaya
    abdurrahman bin auf menikahi
    putri al-ashba’ .abdurrahman
    pun menikahi putri al-ashba’
    seperti yg diperintahkan nabi
    s.a.w kepadanya, kemudian
    lahirlah anak laki-laki yg
    bernama abu salamah bin
    abdurrahman. Demikian
    dituturkan dalam Al-ishabah:1/
    108

  24. Mereka yang IKHLAS mengagungkan Allah (berdakwah), akan mendapatkan perbaikan dalam amal-amal mereka.
    (mereka mendapat tambahan hidayah agar beramal seperti yang dikehendaki Allah dan rosulNya dan meninggalkan
    bid’ah)
    Mereka yang hari-hari bicara agama tapi tidak bertambah baik amalnya, JANGAN-JANGAN ……..
    1) ingin dibayar (uang)
    2) ingin dipanggil ustadz (popularitas)
    3) merasa dirinya sedang menasihati orang lain.
    (lebih menginginkan orang lain berubah lebih baik daripada dirinya berubah lebih baik;
    bisanya dia akan kesel melihat orang yang tak mengikuti nasihatnya.
    seolah-olah lidahnya sanggup memberi hidayah. padahal hanya Allah yang berhak memberi hidayah.

    marilah kita berdakwah agar ada perbaikan pada yakin, ibadah, muamalah, muatsarot dan akhlaq kita.

  25. as..sukses dijauhkan dari neraka dan dimasukkan Allah kesurga dgn rahmat dan ridonya,beramal dgn ikhlas kepada Allah,ikut sunnah nabinya,dan tetaplah mendakwahkan agama dengan sifat hikmah.krna kta sma2 umt nabi.sama2 umt trbaik..bsk kita diakhrat slng tuntut menuntut.jadi sblmnya kita tunaikan hak saudara kta sblm dia nuntut kita.datangi dan sampaikan perkara agama.dari hamba Allah yg dhoif.

  26. Maaf ane copy paste dari situs MR. kita belajar kata bid’ah dari para Imam besar bukan dari seorang albani.
    Pendapat para Imam dan
    Muhadditsin mengenai Bid’ah
    1. Al Hafidh Al Muhaddits Al Imam
    Muhammad bin Idris Assyafii
    rahimahullah (Imam Syafii)
    Berkata Imam Syafii bahwa bid’ah
    terbagi dua, yaitu bid’ah
    mahmudah (terpuji) dan bid’ah
    madzmumah (tercela), maka yg
    sejalan dg sunnah maka ia terpuji,
    dan yg tidak selaras dengan sunnah
    adalah tercela, beliau berdalil dg
    ucapan Umar bin Khattab ra
    mengenai shalat tarawih : “inilah
    sebaik baik bid’ah”. (Tafsir Imam
    Qurtubiy juz 2 hal 86-87)
    2. Al Imam Al Hafidh Muhammad
    bin Ahmad Al Qurtubiy
    rahimahullah
    “Menanggapi ucapan ini (ucapan
    Imam Syafii), maka kukatakan
    (Imam Qurtubi berkata) bahwa
    makna hadits Nabi saw yg
    berbunyi : “seburuk buruk
    permasalahan adalah hal yg baru,
    dan semua Bid’ah adalah
    dhalalah” (wa syarrul umuuri
    muhdatsaatuha wa kullu bid’atin
    dhalaalah), yg dimaksud adalah hal
    hal yg tidak sejalan dg Alqur’an dan
    Sunnah Rasul saw, atau perbuatan
    Sahabat radhiyallahu ‘anhum,
    sungguh telah diperjelas mengenai
    hal ini oleh hadits lainnya :
    “Barangsiapa membuat buat hal
    baru yg baik dalam islam, maka
    baginya pahalanya dan pahala
    orang yg mengikutinya dan tak
    berkurang sedikitpun dari
    pahalanya, dan barangsiapa
    membuat buat hal baru yg buruk
    dalam islam, maka baginya dosanya
    dan dosa orang yg
    mengikutinya” (Shahih Muslim
    hadits no.1017) dan hadits ini
    merupakan inti penjelasan
    mengenai bid’ah yg baik dan bid’ah
    yg sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz
    2 hal 87)
    3. Al Muhaddits Al Hafidh Al Imam
    Abu Zakariya Yahya bin Syaraf
    Annawawiy rahimahullah (Imam
    Nawawi)
    “Penjelasan mengenai hadits :
    “Barangsiapa membuat buat hal
    baru yg baik dalam islam, maka
    baginya pahalanya dan pahala
    orang yg mengikutinya dan tak
    berkurang sedikitpun dari
    pahalanya, dan barangsiapa
    membuat buat hal baru yg
    dosanya”, hadits ini merupakan
    anjuran untuk membuat kebiasaan
    kebiasaan yg baik, dan ancaman
    untuk membuat kebiasaan yg
    buruk, dan pada hadits ini terdapat
    pengecualian dari sabda beliau
    saw : “semua yg baru adalah
    Bid’ah, dan semua yg Bid’ah adalah
    sesat”, sungguh yg dimaksudkan
    adalah hal baru yg buruk dan
    Bid’ah yg tercela”. (Syarh Annawawi
    ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal
    104-105)
    Dan berkata pula Imam Nawawi
    bahwa Ulama membagi bid’ah
    menjadi 5, yaitu Bid’ah yg wajib,
    Bid’ah yg mandub, bid’ah yg
    mubah, bid’ah yg makruh dan
    bid’ah yg haram.
    Bid’ah yg wajib contohnya adalah
    mencantumkan dalil dalil pada
    ucapan ucapan yg menentang
    kemungkaran, contoh bid’ah yg
    mandub (mendapat pahala bila
    dilakukan dan tak mendapat dosa
    bila ditinggalkan) adalah membuat
    buku buku ilmu syariah,
    membangun majelis taklim dan
    pesantren, dan Bid;ah yg Mubah
    adalah bermacam macam dari jenis
    makanan, dan Bid’ah makruh dan
    haram sudah jelas diketahui,
    demikianlah makna pengecualian
    dan kekhususan dari makna yg
    umum, sebagaimana ucapan Umar
    ra atas jamaah tarawih bahwa inilah
    sebaik2 bid’ah”. (Syarh Imam
    Nawawi ala shahih Muslim Juz 6 hal
    154-155)
    Al Hafidh AL Muhaddits Al Imam
    Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy
    rahimahullah
    Mengenai hadits “Bid’ah Dhalalah”
    ini bermakna “Aammun makhsush”,
    (sesuatu yg umum yg ada
    pengecualiannya), seperti firman
    Allah : “… yg Menghancurkan segala
    sesuatu” (QS Al Ahqaf 25) dan
    kenyataannya tidak segalanya
    hancur, (*atau pula ayat : “Sungguh
    telah kupastikan ketentuanku untuk
    memenuhi jahannam dengan jin
    dan manusia keseluruhannya” QS
    Assajdah-13), dan pada
    kenyataannya bukan semua
    manusia masuk neraka, tapi ayat
    itu bukan bermakna keseluruhan
    tapi bermakna seluruh musyrikin
    dan orang dhalim.pen) atau hadits :
    “aku dan hari kiamat bagaikan
    kedua jari ini” (dan kenyataannya
    kiamat masih ribuan tahun setelah
    wafatnya Rasul saw) (Syarh
    Assuyuthiy Juz 3 hal 189).
    Maka bila muncul pemahaman di
    akhir zaman yg bertentangan
    dengan pemahaman para
    Muhaddits maka mestilah kita
    berhati hati darimanakah ilmu
    mereka?, berdasarkan apa
    pemahaman mereka?, atau seorang
    yg disebut imam padahal ia tak
    mencapai derajat hafidh atau
    muhaddits?, atau hanya ucapan
    orang yg tak punya sanad, hanya
    menukil menukil hadits dan
    mentakwilkan semaunya tanpa
    memperdulikan fatwa fatwa para
    Imam?
    Walillahittaufiq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s