penggunaan kitab-kitab fadhoil amal (fadhoil amal, riyadhush sholihin, targhib wa tarhib, hayatush shohabah, dll)..

http://fospi.wordpress.com/2007/10/02/gerakan-tabligh-dan-realitas-dakwah/

assalamualaykum..

Boleh saya urun rembug ?? semoga dengan berbagi informasi ini bermanfaat bagi kita semua.. Khususnya tentang penggunaan kitab-kitab fadhoil amal (fadhoil amal, riyadhush sholihin, targhib wa tarhib, hayatush shohabah, dll)..

yang mulia,
Sudah menjadi lazim bagi kita, bahwa kekuatan umat muslim bukan pada harta benda, pangkat/derajat, kekuatan senjata atau keduniaan. Namun, kekuatan umat muslim ada pada iman amal sholeh (amal agama)..Berkurang amal agama, akan menjadi melemahnya kekuatan muslim..Perang badar menjadi bukti (ketika umat yakin akan amal agama), perang uhud menjadi bukti (ketika umat berkurang akan amal agama), dan peristiwa2 lain..Berkurangnya amal agama pada umat ini, menjadi berkurang pertolongan Alloh Ta’ala pada umat ini dan menjadi konsekuensinya dengan semakin banyak maksiat yang terjadi pada umat ini akan menjadi berkurang dan melemahnya umat ini..

Hari demi hari umat ini semakin menjauh dari amal agama..Berapa juta umat muslim yang meninggalkan sholat jamaah, berapa juta umat muslim yang sholat tapi tidak tertib (waktu, tempat atau cara), berapa juta umat muslim yang sholat tapi masih kekurangan dalam kaifiyatnya..Itu baru masalah sholat, belum ke masalah lain..Padahal sholat adalah tiang agama, meninggalkannya berarti sama saja merobohkan tiang agama..Alloh SWT berjanji bahwa sesungguhnya sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar..namun kenapa hari ini perbuatan dan keji itu merajalela dikalangan umat muslim..saling bunuh, saling ghibah, menjatuhkan kelompok lain, buka aib, dan perbuatan lainnya…

yang mulia,
Hari demi hari umat ini semakin menjauh dari umat agama, hari demi hari sangat berkurangan yang memberikan tentang kabar dari ayat Alloh SWT dan Sabda baginda rasulullah tentang kehidupan akherat, kampong asli kita..Sangat sedikit yang memberikan kabar tentang kehidupan tersebut, tentang bekal-bekal yang harus kita bawa..Yang ada adalah bagaimana kebanyakan memberikan kabar tentang keutamaan-keutamaan keduniaan ini, mau hidup enak tidak kena panas dan debu belilah mobil ini keluaran ini dengan harga segini..Mau hidup enak, kerjalah di perusahaan ini, gaji gede dapet tunjangan ini dan itu..Mau hidup enak, cobalah makan produk ini, terbuat dari ini dan itu..Mau hidup enak, cobalah cari suami yang berwibawa (bawa mobil, bawa rumah sendiri, bawa harta yang banyak, bawa emas, berlian dan sebagainya). Mau hidup enak cobalah produk ini, mandi anda jadi lebih praktis. Mau muka anda lebih cakep, pakai krim ini, pakai pembasuh ini, pakai lipstick/gincu ini itu, pakai masker ini, operasi ini dan itu supaya lebih lengkap..Setiap hari, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, bahkan detik demi detik semuanya terus dikabarkan tiada henti..terus menerus..terus menerus..Di rumah, mau berangkat ke kantor, di kantor, di jalan, bahkan sampai di dalam mesjidpun tidak luput dari serangan ini..Kampung akherat dilupakan, iman amal sholeh dilupakan..Yang ada keagungan dunia dibesar-besarkan sehingga tertutup kebesaran akherat, tertutup oleh kecilnya dunia..
Jadi memang benar sabda baginda rasulullah saw “Aku tidak mengkhawatirkan kalian melakukan kesyirikan kembali sepeninggalku, tetapi aku khawatirkan kalian akan kemegahan dunia yang.”

Kemudian bagaimana mengcounter hal ini pak , bagaimana caranya yang kongkret yang bisa kita lakukan…Dan yang menjadi kenyataan bahwa umat muslim tidak hanya ada di Indonesia saja, tapi diseluruh alam, ada di Arab, afrika, Australia, soviet, asia, amerika, Alaska, dll..Dan wabah itu merajalela di kehidupan kaum muslimin seluruh dunia..

Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian yang nyata.. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (al ‘ashr 1-3)

Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).

 yang saya muliakan,
Untuk itulah diperlukan untuk menghidupkan kembali kepada umat ini untuk mendorong mereka untuk jangan melupakan akherat, jangan melupakan ayat2 Alquranul karim, sabda-sabda baginda rasulullah saw, iman amal sholeh..Terus didorong setiap hari, tidak hanya perminggu, tapi setiap hari, karena berita tentang keutamaan-keutamaan dunia ini juga tidak mengenal waktu pagi, siang, sore malam, terus diberitakan..Oleh karena itu diperlukan program kerja yang bisa dijalankan oleh seluruh kaum muslimin baik itu awam maupun alim, baik itu di rumah bersama keluarganya, di masjid bersama masyarakat, di tempat kerja bersama teman-teman kerja, maupun ketika khuruj. Program untuk memperkenalkan kembali tentang keutamaan amal-amal agama, tentang kampong akherat lewat ayat-ayat Alquran dan sabda baginda rasulullah saw..

Dan dalam program tersebut dipergunakanlah kitab-kitab yang berhubungan dengan fadhoil-fadhoil amal (kitab fadhoil amal, kitab riyadhush sholihih, kitab targhib wa tarhib). Penggunaan kitab-kitab tersebut berdasarkan hasil musyawarah, sudah menjadi umum, bahwa di arab menggunakan kitab riyadhush sholihin. Itu tidak masalah, yang penting adalah TUJUAN MAKSUD penggunaan kitab-kitab tersebut..Yaitu, program pengenalan tentang amal-amal sholeh, tentang akherat sehingga terdorong umat ini untuk beriman dan beramal sholeh…

Apakah penggunaan kitab fadhoil amal maulana zakariya itu wajib menjadi pegangan???
Ini berita dari mana, tidak ada yang mewajibkan, semuanya hasil musyawarah, bahkan kenyataannya di arab bisa diganti sesuai dengan hasil musyawarah..

Kemudian bagaimana dengan penggunaan hadits dhoif dalam kitab fadhoil amal tersebut..??
Sudah banyak kajian dalam hal ini..Bahkan imam nawawi rah memberitahukan bahwa ulama sudah sepakat diperbolehkannya penggunaan hadits dhoif dalam mendorong untuk beramal (kitab al adzkar)..Sebagai bahan informasi bagi ustad ini ada salah satu artikel:

Didalam kitab al adzkar imam nawawi rah (bab perintah dalam mengkhlaskan dan memperbagus niat di dalam keselruhan amal baik yang nampak maupun tersembunyi) disebutkan oleh beliau rah, bahwa para ulama, muhadditsin, fuqoha, atau selainnya memperbolehkan penggunanan hadits dhoif dalam fadhilah/keutamaan2 amal, targhib wa tarhib.

Beliau juga mengatakan hal tersebut dalam muqodimahnya dalam kitab arbain an nawawiyah. Bahkan dalam muqodimahnya tersebut imam nawawi rah menyatakan bahwa semua ulama telah sepakat membolehkan pengamalan hadits dhaif dalam keutamaan amal-amal..

Ada sebuah kitab dimana imam bukhari mengumpulkan dalam kitab tersebut hadits-hadits tentang targhib wa tr tarhib, adab dan fadhail. Kitab itu bernama Al Adab Al Mufrad. Pernah tidak mbaca adab mufrad? tidak hanya periwayatan hadits di situ, tapi Imam bukhari Berhujah dengan hadits itu, yaitu dengan menjelaskan bab -bab mustahab amalan- amalan tertentu, lalu beliau sebutkan hadits-hadits yang sesuai untuk dijadikah hujah, sesuai bab itu, dan haditsnya ada yang sahih ada yang dhaif.
Dalam kitab itu bercampuran antara hadits shohih, hasan dan dhoif. Al Albani sendiri telah “memecah” kitab ini menjadi shohih adab al mufrad dan dhoif adab al mufrad, sebagaimana yang ia lakukan terhadap kitab-kitab hadist yang lain, seperti riyadh as salihin (imam nawawi), kalim thayib (ibnu Taimiyah) juga tarhib wa targhib (hafidz al mundziri, guru hafidz dimyathi yang merupakan guru dari imam dzahabi), mereka itu juga membolehkan hadits dhoif dalam targhib dan adab.

Ok, supaya lebih yakin kita lihat takhrij adab almufrad milik imam bukhari.
Atsar ke 12, juga hadits ke 40, 56, 64, 80, 84 dalam sanandnya ada Abdullah bin Shalih Al Juhani yang dhoif. Atsar 14, 45 terdapat Abdurrahman bin Shabih yang dhoif. Atsar 23 terdapat Ali bin Al usain Waqid Al Maruzi, dhoifl hadits. Hadits 30 terdapat Al Hasan bin Bishri Al Hamdani dan Hakam bin Malik, kedua-duanta majruh.
Hadits 43 terdapat Muhammad bin Fulan bin Thalhah, majhul. matruk, dhoif. Atsar 45 ada ubaidillah bin mauhab, Ahmad mengatakan la yu’raf (tidak dikatahui). Atsar 51 ada Abu Sa’ad Sa’id bin Matzaban Al Baqqal Al A’war, dhoif. Hadits 61 ada Hadzrad bin Utsman Abu Al Khitab As sa’di, dhoif. Hadits 63 ada Sulaiman bin Adam, dhoif, tidak tsiqah, matruk dan kadzab. Hadits 65 ada Muhamamd bin Abdul Jabar, majhul. Atsar 94 Al Washafi Ubaidillah Al Walid, dhoif. Hadits 111 ada Laits bin Abi Sulaim Al Qursyi Abu Bakar, dhoif. Hadits 112ada Abdullah bin Mushawir, majhul. Hadits 120 ada Abdullah bin Ziyad bin An’um Al Afriqi, ada yang mentsiqahkan dan ada yang mendhoifkan. Hadits 125 ada Abu Umar Al Manbahi An Nakha’i, majhul. Hadits 137 ada Yahya bin Sulaiman, mungkarul hadits.

Ini berdasarkan kitab Fadhlullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Am Mufrad, oleh Al Muhadits Fadhlullah Haidar Al Abadi Al Hindi.

Dengan demikian maka sudah jelas bahwa Imam Bukhari memakai hadits dhoif dalam fadhoil A’mal, targhib wa tarhib serta adab. Karena beliau mustahil tidak bisa bedakan shahih dan dhoif. Barang siapa mengatakan bahwa Imam Bukhari menolak hadits dhoif mutlak, maka hal itu bertentangan dengan fakta.

Masalah bukhari ini dibahas cukup banyak dalam kitab musthalah Dhafar Al Amani, Imam Laknawi.
Ibnu Hajar juga menilai bahwa bukhari tasahul terhadap periwayatan hadits dalam fadhoil, walau dalam shahih beliau. Dalam Hadyu As Sari beliau ketika menyebutkan perowi At Thufawi yang dihukumi Abu Zur’ah sebagai mungkarul hadits, ibnu hajar menyebutkan ada tiga hadits dalam shohih bukhari yang terdapat perawi itu, salah satunya adalah “kun fi addunya ka’anaka ghorib”,di hadits ini At Thufawi sendirian, hingga ibnu hajar mengatakan,”sepertinya bukhari tidak memperketat periwayatan hadits ini, karena ia termasuk hadits targhib wa tarhib.

Memakai hadits dhoif bukan dusta atas nama Rasulullah, baru dikatakan dusta kalau itu maudhu’. Ibnu Al Madini melarang penyamaan antara hadits dhoif dan maudhu’, karena, dhoif masih ada kemungkinan sbda rasulullah. Ini dinukil dalam At Ta’rif.

Penguatan dibutuhkan untuk menguatkan, Hadits shahih tidak perlu penguatan karena sudah kuat dengan sendirinya, apalagi dengan hadits dhoif. Yang ada justru kebaliknya, hadits dhoif dikuatkan oleh hadits shahih, hingga derajatnya terangkat.

Ok, supaya lebih mudah, ana nukilkan salah satu contoh dalam adab mufrad yang “dipecah” al albani.
Imam bukhari menulis: 10. Bab wujub Shilah Ar Rahim (Bab, kewajiban silaturrahim). Dari Kulaib bin Manfa’ah ia berkata……Al Albani mengatakan :”Dhoif”.
Lihat, di judul Bukhari mengatakan wajibnya silaturrahim, lalu nyantumkan hadits. Kalau memang ga boleh dijadikan hujah, kenapa bukhari mengatakan wajib?
Dan Bukhari juga tidak menjelaskan hadits ini dhoif. Ini sesuai dengan kaidah yang disebutkan Suyuthi, yaitu dengan tanpa menjelaskan kedhoifannya (tadrib rowi). Kalau Bukhari menyeru untuk meninggalkan hadits-hadits dhoif mutlak. Kenapa bisa begini??? cara Imam bukhari ini sama dengan Imam Ahamd dan Ibnu Mubarak dalam kitab Az Zuhud beliau berdua.
Dan Al Albani tidak mentolelir sama sekali seperti ini, makanya “memecah” jadi dua.Yang jadi tanda tanya, bagaimana al albani mengaku ikut madzhab bukhari?

Untuk bab ini Bukhari berhujjah satu amalan dengan hadits shahih dan dhoif, nah cara ini juga tidak disetujui mereka yang mengaku-ngaku ikut madzhab bukhari, kata mereka:”Kalau ada yang shahih, mengapa pakai dhoif?” Makanya, Adab Mufrad perlu “dipecah” menurut mereka.
Tapi di Bab:La tanzilu arrahmah ala qoum qathi’u arrahim, Bukhari hanya menampilkan satu hadits dhoif. Makanya Bab ini tidak ditemukan dalam Shahih Adab Mufrad Al Albani.

Ok, ana juga tunjukkkan bahwa para muhadits awal membolehkan amal dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib.
Hafidz Ibnu Al Arabi dalam Al ‘Aridhah, syarh Tirmidzi mengatakan:” Abu ‘Isa telah meriwayatkan sebuah hadits majhul “In Syi’ta Syamithu, wa In syi’ta fa la”. Walau hadits itu majhul, tapi mustahab untuk diamalkan, karena menyeru kepada hal yang baik dan berbaik kepada teman serta berkasih sayang kepadanya”. Ini sekaligus sanggahan terhadap Al Qasimi yang mengatakan bahwa Abu Bakar bin Al Arabi menolak hadits dhoif dalam fadhail amal
Syaikh Sakhawi mengatakan dalam Fathu Al Mughits, bab man tuqbalu riwayatuhu wa man turaddu, bahwa kebolehan amala dengan hadits dhoif dalam fadhail dan targhib wa tarhib telah dinukil dari lebih dari satu imam, seperti Ibnu Muhdi, Ahamd bin Hanbal, Ibnu Ma’in (Ini sekaligus menggugurkan mereka yang mengatakan bahwa Ibnu Ma’in melarang amal dengan hadits dhoif mutlak), Ibnu Mubarak, As Sufyanaini (dua sufyan, sufyan bin uyainah dan sufyan atsauri).

Dalam kitab Tadrib Rowi, syarh Takrib Nawawi punya hafidz Suyuthi: Boleh menurut ahlul hadits (para pengklaim madzhab ahlul hadits) dan lainnya, tasahul (bermudah-mudah) dalam sanad-sanad dhoif dan meriwayatkannya, selain maudhu’ dan mengamalkannya tanpa menjelaskan kedhoifannya, selain sifat-sifat Allah. Dan itu adalah hal-hal yang berkenaan dengan kisah-kisah, fadail, dan nasehat serta lainnya, selain hukum dan aqa’id.

Tidak hanya Tadrib Ar Rawi yang menjelaskan, Hafidz Al Iraqi (guru Ibnu Hajar) pun menjelaskan dalam Alfiyah Hadits. Wa sahalu fi ghiri maudhu’ rawu (dan mereka mempermudah periwayatan selain maudhu’) Min ghoiri tabyini li dha’fihi wa ra’u (tanpa penjelasan terhadap dhoifnya…)

Begitu juga Hafidz Ibnu sholah dalam almuqodimah: “min ghoiri ihtimam bayan dho’fiha (tanpa memperhatikan penjelasan dhoifnya)

Pensyarah Alfiyah seperti Hafids Sakhawi pun bersepakat dengan pendapat al Iraqi, itu bisa dilihat di Fathul Mughuts Syarh Alfiatul Hadits..
Ibnu Taimiyah juga membolehkan amal dengan hadits dhoif selain Aqidah dan Hukum. Sebagai bukti, lihat buku beliau Al Kalim Atthayiib. yang telah dirubah oleh Al Albani menjadi Shahih Kalim Atthayib.

Mereka yang melarang hadits dhoif mutlak terkadang juga berargumen dengan dengan Al Fawaid Al Majmu’ah, dimana Syaukani melarang pengamalan hadits dhoif. Tapi itu gugur dengan perkataan dan prektek Imam Syaukani. Dalam Nail Al Authar, ketika bicara tentang disyariatkannya banyak shalat antara magrib dan isya, beliau mengatakan: Dan hadits-hadits ini, walau kebanyakan dhoif, akan tetapi bisa menguat jika digabungkan. Apalagi dalam masalah fadhail amal.

Dalam prakteknya, beliau juga punya Tuhfatu AdDzakirin, yang mirip Al Adzkar An Nawawi. Dimana didalamnya banyak juga hadits dhoif.
Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkii dalam fathul mubin syarh al arbain juga jelas-jelas mengatakan bahwa amal dengan hadits dhoif dalam fadhail tidak termasuk perkarah bid’ah.

Salah satu dari syarat amal hadhits dhoif adalah mundarijan tahta ashli ‘am (sejalan dengan dalil umum. Imam Laknawi menerangkan maksud kalimat Ibnu Hajar yang dinukil oleh Sakhawi ini. Beliau mengatakan dalam Dhafar Al Amani: YAitu kandungannya termasuk hal-hal yang memiliki asal dalam keumuman syari’at, dan tidak bertentangan dengan kaidah-kaidan diniyah.
Ada lagi syarat pengamalan ahdits dhoif, yaitu dhoifnya tidak parah. So kalau dhoif parah tidak dipakai. Syarat ini juga disampaikan oleh Ibnu Hajar

Bagaimana dengan cerita-cerita yang dianggap khurafat???
Cobalah untuk membuka wawasan lebih luas..Sebenarnya kitab fadhoil amal ini sudah ada yang mentahqiqnya, bahkan sudah lama kitab tahqiqkan ini beredar di arab Saudi, mungkin sekitar tahun 2004an, diperpustakan king fahd national library sendiri sudah menyimpan kitab tahqiqan ini..
ini judul kitabnya
تحقيق المقال
في تخريج احاديث
فضاءل الاعمال
للمحدث لطيف الرحمن القاسمي

Tahqiqul Maqal Fi Takhrij Ahadits Fadhail Al- A’mal karya Syaikh Latifurrahman Al-Bahjai Al-Qasmi yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Abdul Hafiz Makki (salah satu pengajar di Masjidil Haram dalam B.Urdu)…Kitab ini sudah beredar di Arab Saudi, malah kitab ini dibuat di Arab Saudi…

Sebagai contoh satu saja yang dianggap khurafat, sebenarnya tidak pada kitab fadhoil amal (bundel kitab fadhilah2 sholat, hikayatush shohabat, dzikir, ramadhon, tabligh, keruntuhan umat), namun di kitab fadhilah lainnya seperti kitab fadhoil haji..yang ternyata cerita itu ada di kitab ulama hanabilah:
“Hazrat Ibn Jalaa relates, “While in Medina I once suffered tremendous hunger. It became so unbearable that I presented myself at the grave of Rasoolullah and said, “O Rasoolullah, I suffer great hunger. I am now your guest.” Thereafter, sleep overtook me and in a vision, I saw Rasoolullah give me a piece of bread. I ate half of it, and when I woke up, I found myself with the other half of that piece of bread still in my hands.”
[Fazaail-e-Aamaal, (Eng. Trans.), Virtues of Hajj, Chapter.9, story no.23, p.178, (New Edition 1982, Published by Dini Book Depot –Delhi)]
Yet in another story, three men fasted for days on end since they could not find food. One of them went to the grave of Rasoolullah and said: “O Rasoolullah hunger has overtaken us.” Soon afterwards … “a man from Alawi family knocked at the door. We opened the door and found a man with two servants, each one carrying a large basket with many delicious foods.” The man from the Alawi family said before leaving, “You have complained about hunger to Rasoolullah. I have seen Rasoolullah in a dream and he commanded me to bring food to you.”
[Fazaail-e-Aamaal, (Eng. Trans.), Virtues of Hajj, Chapter.9, p.177, story no.22, (New Edition 1982. Published by Dini Book Depot – Delhi). Similar stories have been mentioned on p.179 (story no.27) and p.181 (story no.29)]
I found out that these stories are also related by other accepted Imams and Ulama. In this case these incidents were related by Ibn Jawzi (RA)
Abu al-Khayr al-Aqta` said: “I entered the city of Allah’s Messenger and I was in material need. I stayed five days without eating anything. I came toward the grave and said Salam to the Prophet and to Abu Bakr and `Umar then said: “I am your guest tonight, O Allah’s Messenger!” I then stepped aside and slept behind the Minbar. I saw the Prophet in my dream, with Abu Bakr to his Right, `Umar to his left, and `Ali in front of him. `Ali shook me and said, “Get up, Rasullullah is coming.” I got up and kissed him between his eyes; he gave me a loaf of bread, I ate half of it; when I woke up I found half a loaf in my hand.”
(Ibn al-Jawzi Muthir Al-Gharam Al-Sakin Ila Ashraf Al-Amakin)
(al-hafiz) Abu Bakr al-Minqari said: I was with (al-hafiz) al-Tabarani and (al-hafiz) Abu al-Shaykh in the Prophet’s Mosque, in some difficulty. We became very hungry. That day and the next we didn’t eat. When it was time for `isha, I came to the Prophet’s grave and I said: “O Messenger of Allah, we are hungry, we are hungry” (ya rasullallah al-ju` al-ju`)! Then I left. Abu al-Shaykh said to me: Sit. Either there will be food for us, or death. I slept and Abu al-Shaykh slept. al-Tabarani stayed awake, researching something. Then an `Alawi (a descendant of `Ali) came knocking at the door with two boys, each one carrying a palm-leaf basket filled with food. We sat up and ate. We thought that the children would take back the remainder but they left everything behind. When we finished, the `Alawi said: O people, did you complain to the Prophet? I saw him in my sleep and he ordered me to bring something to you.
Ibn al-Jawzi Kitab al-Wafa (p. 818 #1536)

Sebenarnya kalo mau bener-bener sungguh-sungguh untuk mengkritik kitab fadhoil amal, coba juga kritik juga maraji’ dari kitab fadhoil amal tersebut, karenanya semuanya bersumber dari 84 sumber tersebut..berikut maraji’nya, saya rasa itu ilmiah:

KITAB-KITAB RUJUKAN KITAB FADHILAH AMAL
1. Ahkaamul Qur’an, Abu Bakar Ahmad bin Ali Razi Al Jashshosh
2. Aini Syarah Bukhari, Badruddin Abu Muhammad bin Ahmad ‘Aini
3. Al Kamil, Izuddin Ali bin Muhammad Ibnu Atsir Jazuri
4. Al Qaulil Badi fis Shalati ‘Alal Habibi, Syamsuddin Muhammad As Sakhowi
5. Az Zawajir, Imam Ibnu Hajar Al Haitami
6. Al Ishobah, Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani Asy Syafi’i
7. Al Muwaththa’, Abu Abdullah Maliki bin Anas bin Maliki
8. Asyhur Masyahir Islam, Rafiq Baki Al Azhim
9. Asy Syifa, Qadhi ‘Iyadh bin Musa Al Husaini
10. At Targhib wat Tarhib, Abdul Azhim bin Abdul Qawiy Al Mundziri
11. Ath Thobaqot, Muhammad bin Sa’id Katibi Al Waqidi
12. ‘Aunul Ma’bud, Abu Abdurrahman Syarif
13. Awjazul Masaliki, Maulana Muhammad Zakariyya
14. Baihaqi, Abu Bakar bin Husain bin Ali Al Baihaqi
15. Bayanul Qur’an, Maulana Asyraf Ali Thanwi
16. Badzlul Majhud, Maulana Kholil Ahmad Muhajir Madani
17. Bukhari Syarif, Abu Abdullah Muhammad bin Ismail
18. Diroyah, Ibnu Hajar Alaihir Rahmah
19. Durrul Mantsur, Allamah Jalaluddin Suyuti
20. Fatawa Alamghiri, Hadzrat Alamghiri
21. Fathul Bari Abu Fadhl Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani
22. Harzuts Tsamin Fii Mubasyiratin Syah Waliyullah Dahlawi
Nabiyyil Amiin
23. Hishni Hashin Syamsuddin bin Muhammad Al Jazuri
24. Hilyatul Aulia’ Abu Nu’aim Ahmad bin Abdullah Asbahani
25. Hujjatullah Al Balighah Syah Waliyullah
26. Ibnu Hibban Muhammad bin Hibban bin Ahmad
27. Ihya’ Ulumuddin Imam Ghazali
28. Iqamatul Hujjah Maulana Abdul Hayyi Lakhnawi
29. Irwahi Tsalatsah Tartib, Maulana Zhuhri Al Hasan
30. Isti’ab Hafidz Ibnu Abdul Bar Maliki
31. Ithaf Sadatul Mutaqin Muhammad bin Muhammad Az Zubaidi
32. Jam’ul Fawaid Muhammad bin Muhammad Sulaiman
33. Jamal Syaikh Sulaiman Al Jamal
34. Jami’ush Shoghir Abdurrahman Jalaluddin Suyuti
35. Kanzul ‘Ummal Allamah Ali Burhan Puri
36. Kaukabud Durri Syaikh Zadu Majdah
37. Khoshoish Kubra Allamah Suyuti
38. Kitabul Amwal Imam Abu Abid Al Qasim bin Salam
39. Kitabul Ummah was Siyasat Abdullah bin Muslim
40. Majma’uz Zawaid Hafidz Nuruddin Al Haitsami
41. Maqosid Hasanah Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman
42. Masyirul ‘Azam Jamaluddin Abdurrahman bin Al Jauzi
43. Mazhahirul Haq Nawab Qatbuddin Khan Bahadur
44. Mirqatu Syarah Misykat Nuruddin Abi bin Sulthan Muhammad Harwi
45. Misykat Syarif Waliyuddin Muhammad bin Abdullah
46. Musamirat Syaikh Akbar Ibnu Arabi
47. Mushonnif Abdullah bin Muhammad Ibnu Abi Syaibah
48. Musnad Abu Awanah Ya’kub bin Ishaq bin Ibrahim Naisaburi
49. Musnad Abu Ya’la Ahmad bin Ali bin Al Natsna Al Muwashol
50. Musnad Ahmad Ahmad bin Muhammad bin Hanbal
51. Musnad Al Firdaus Abu Mansur Ad Dailami
52. Musnad Bazzar Abu Bakar Ahmad bin Umar Al Bazari
53. Musnad Hakim Muhammad bin Abdullah bin Muhammad
54. Musnad Ibnu Khuzaimah Muhammad bin Ishaq Ibnu Khuzaimah
55. Mustadrak Hakim Muhammad bin Abdullah Naisaburi
56. Nazhatul Basatin Abdullah bin As’ad Yamini Yafi’i
57. Qashoidu Qasimi Maulana Muhammad Qasim Nanatwi
58. Qiyamul Lail Muhammad bin Ahmad bin Ali Marwazi
59. Qurratul ‘Uyun Syaikh Abu Laits Samarqandhi
60. Rahmatul Muhtadah Abul Khairi Nurul Hasan wal Husaini
61. Raudhul Faiq Syaikh Syu’aib Al Harifaisyi
62. Raudhur Riyahin Abdullah bin As’ad Yamani Yafi’i
63. Shahih Muslim Abul Hasan Muslin bin Al Hajjaj
64. Sunan Abu Dawud Abu Dawud sulaiman bin Asy’ats Sajastani
65. Sunan Darami Abdullah bin Abdurrahman Darami
66. Sunan Daroquthni Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad
67. Sunan Ibnu Majah Muhammad bin Yazid Al Qardini
68. Sunan Nasai Ahmad bin Syu’aib bin Ali
69. Sunan Thabrani Abdul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin ayyub
70. Sunan Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Surah At Tirmidzi
71. Syamail Tirmidzi Muhammad bin Isa bin Surah At Tirmidzi
72. Syarhus Sunnah Husain bin Ma’ud Al Farail
73. Tadzkiratul Huffadz Syamsuddin Muhammad bin Ahmad Zaibi
74. Tafsir Kabir Imaduddin Abdul Fadai Ismail bin Umar bin Katsir
75. Tafsir Khozin Alauddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim
76. Tafsir ‘Azizi Syah Abdul Aziz Dahlawi
77. Tahdzibul Mustadzib Ahmad bin Ali bin Hajar Asqolani
78. Talqihu Fuhumil Atsir Jamaluddin Abdurrahman bin Al Jawazi
79. Tanbihul Ghafiliin Syaikh Abu Laits Samarqandi
80. Tarikh Khomis Syaikh Husain Muhammad Ibnu Al Hasan
81. Tarikhul Khulafa Allamah Jalaluddin Abdurrahman Suyuthi
82. Usudul Ghobah Allamah Ibnu Atsir Jazuri
83. Yusuf Zulaikha Maulana Abdurrahman Jami’
84. Zadu Sa’id fi Dzikrin Nabiyyil Habib Hadzrat Aqdas Tsanwi

Atau sebagai bahan bacaan saya tambahkan juga thesis seorang pelajar Malaysia tentang kitab fadhoil amal bab sholat..berikut linknya http://www.mediafire.com/file/1imthn5ymtc/TESIS-Hadith-Daif.doc

Semoga bermanfaat bagi saya, bagi ustad, dan kaum muslimin lainnya…

Semoga Alloh Ta’ala mengampuni dosa-dosa saya, keluarga saya..aminn

Abdul fatah
Wallahu alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s