Kompetisi dalam Memberi

 

Oleh M Lili Nur Aulia

Dalam situasi krisis, sikap yang sangat penting dan diandalkan untuk bisa menjadi solusi adalah munculnya rasa persaudaraan, rasa cinta, yang membuahkan suasana saling membantu dan memberi. Tingkat pemberian dan kedermawanan luar biasa pernah terjadi dalam sejarah Islam.

Sejarah Islam menyuguhkan banyak kisah teladan tentang hal ini. Saat kaum Muhajirin dari Makkah meninggalkan harta benda mereka, berangkat dengan tangan hampa, menuju Kota Madinah. Mereka disambut luar biasa oleh kaum Anshar, penduduk Madinah, yang kemudian berlomba menawarkan penghilang dahaga, memberi makanan, dan mempersilakan tempat tinggal.

Di samping kisah ini, dalam buku-buku sejarah Islam, disebutkan tidak sedikit kompetisi dalam memberi oleh kaum Anshar itu yang baru bisa diselesaikan dengan cara diundi. Rasulullah SAW berhasil mempersaudarakan kaum Muslimin, menghilangkan sekat perbedaan rumpun, keturunan, dan ras, untuk membangun masyarakat yang kuat di tengah krisis. Perhatikanlah bagaimana kekaguman kaum Muhajirin terhadap kebaikan kaum Anshar yang luar biasa menyambut dan memfasilitasi mereka.

Dalam hadis riwayat Imam Ahmad RA disebutkan perkataan Anas bin Malik RA kepada Rasulullah SAW, ”Saya tak pernah menemui suatu kaum yang lebih baik berbagi dalam keterbatasan, memberi banyak dalam kecukupan. Mereka telah mencukupi kebutuhan kami, mereka menyertakan kami dalam kesenangan. Sampai-sampai kami khawatir jika kaum Anshar telah memborong semua pahala.”

Rasulullah SAW lalu menenangkan kekhawatiran itu dengan sabdanya, ”Tidak, kalian tetap akan memperoleh pahala dari Allah. Selama kalian tetap memuji kebaikan mereka dan mendoakan mereka kepada Allah.”Itulah pengejawantahan sikap al iitsar (mengutamakan orang lain daripada diri sendiri). Dan, hanya sistem dan bangunan Islam sajalah yang mampu menciptakan karakter masyarakat seperti itu.

Takkan pernah ada keindahan, saling cinta, saling memberi yang tulus seperti yang terjadi di masyarakat Madinah itu, kecuali melalui nilai-nilai Islam yang tertanam di hati masyarakatnya. Hari ini, kita sangat membutuhkan munculnya mental iitsaar di tengah krisis yang mendera. Tidak ada cara lain untuk menumbuhkan suasana seperti itu, kecuali melalui penanaman nilai Islam dalam hati masyarakat. Semoga Allah SWT melimpahkan karunia-Nya kepada kita, berupa hadirnya suasana kompetisi dalam memberi di masyarakat kita.

(Harian Republika)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s