RIADHUS SHALIHIN

BAB : IKHLAS DAN NIAT

Sesuai dengan hikmat dan tujuan manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT., maka seluruh aktifitas / kegiatannya harus disertai dengan niat beribadah, baik kegiatan yang bersifat duniawi seperti nekerja mencari nafkah, makan dan minum , tidur dan lain-lain ataupun kegiatan yang bersifat ukhrawi secara langsung seperti shalat, puasa, zakat haji dan lain-lain, baik yang berbentuk perbuatan nyata atau tidak ( lahir dan bathin ), dan atau tujuan itu yang benar-benar tumbuh dari lubuk hati tulus ikhlas yang mencerminkan rasa kesadaran atau menginsapi akan sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang harus mengabdikan diri sepenuhnya kepada sang pencipta, hal ini bertolak dari firman Allah ;

Yang artinya : “ Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah, serta mentulus ikhlaskan agama bagiNya ( beribadah mengharap keridhaaNya ) sambil cenderung kepada tauhid, dan supaya mereka mengakkan shalat, memberikan zakat dan itulah agama yang lurus ( betul ).” (Al Bayyinah 5 )

Yang artinya : “ Daging dan darahnya ( kurban ) tiada sampai kepada Allah, tetapi takwamulah yang sampai kepadaNya.” (Al Hajj 37 )

Yang artinya : “ Katakanlah, jika kau sembunyikan atau kau nyatakan isi hatimu pasti Allah mengetahuinya.” (Ali Imran 29)

Juga dari hadits Umar bin Khathab, katanya : “ Aku mendengar Rasul SAW bersabda:

Yang artinya : “ Setiap amal perbuatan ditinjau dari segi niat/ tujuannya, dan setiap orang ( berbuat ) terserah pada tujuannya, maka barang siapa berhijrah kepada Allah dan RasulNya, berarti akan memperoleh keridlaan Allah dan RAsulNya ( pahala berhijrah ), dan barangsiapa berhijrah dengan tujuan menghimpun harta kekayaan dunia atau mengawini seorang wanita yang ia sukai, berarti akan sia sia hijrahnya ( tidak berpahala ) karena hanya memperoleh harta dan wanita yang dituju. “ ( HR Bukhari Muslim )

Dan dari Aisyah , Rasul SAW bersabda :

Yang artinya : Sepasukan tentara bermaksud buruk ( yakni ) akan membinasakan rumah Allah ( ka’bah atau masjid dan tempat tempat suci peribadatan umat islam lainnya), sewaktu mereka menginjak alun – alun/ halamannya maka dibinasakan semua, baik yang pertama ataupun yang terakhir. Kemudian Aisyah bertanya : “ Kenapa dibinasakan semua ya Rasul. Padahal mereka yang berbelanja dipasar tidak ikut campur golongan mereka ( pasukan tempur), jawabnya : “ Mereka dibinasakan semua tanpa terkecuali, kemudian dibangkitkan sesuai dengan tujuan masing-masing”. (HR. Bukhari-Muslim)

Juga dari Aisyah , Nabi SAW bersabda : “Tiada hijrah sesudah fath (terbukanya kota mekkah), tetapi jihad dan niat berhijrah dari suatu daerah kacau ke daerah aman beribadah , tetap ada. Dan ketika seruan Jihad Memanggilmu, hendaklah bersiap-siap.” (HR Bukhari Muslim )

Dua hadits terakhir tersebut, disamping menetapkan pentingnya peranan niat dalam beramal, juga mewajibkan berhijrah bagi seorang muslim yang tiada merasa tenteram beribadah melaksanakan ajaran islam akibat gangguan terror / gangguan masyarakat non muslim. Karena jika saatnya tiba para penentang Allah itu dibinasakan , maka seluruh masyarakat kampong tersebut akan binasa tanpa terkecuali, oleh sebab itulah hijrah wajib segera dilaksanakan jauh sebelum siksa Allah turun. Maka dengan demikian perintah hijrah berlaku tetap hingga akhir zaman

Dari Jabir bin Abdullah : “ Kami menyertai Nabi SAW pada suatu peperangan, lalu beliau bersabda : “Sungguh di Madinah terdapat orang-orang yang mengimbangi pahala jihadmu, baik pahala setiap langkahmu berjalan atau menyeberangi suatu lembah (mereka tidak berjihad ) akibat menderita penyakit.”

(HR Muslim )

Bagi orang yang belum mapu melakukan kebaikan suatu amalan atau ibadah , misalnya pergi hajji, atau bersedekah mengurangi penderitaan orang miskin , anak yatim dan lain-lain. Sekalipun tidak dibuktikan dengan perbuatan nyata, maka diberi pahala seimbang dengan mereka yang mampu melaksanakan, karena ia menyimpan niat- tujaun yang kuat dalam hatinya. Demikian besar pengaruh dan peranan niat dalam suatu amal ibadah.

Dari Anas RA: “ Sekembali dari perang tabuk Nabi SAW bersabda : “ Sungguh ada suatu kaum yang tertinggal di madinah, mereka selalu bersama kami melewati kampong atau lembah, namun mereka tidak mampu membuktikan secara nyata akibat menderita atau karena halangan.”
(HR Bukhari )

Niat yang murni dalam lubuk hati yang sungguh-sungguh ingin beramal atau beribadah, sehingga merasakan/ membayangkan beratnya penderitaan perbuatan tersebut , seolah olah ia ikut merasakan pahitnya, tetapi ia tidak dapat membuktikan secara nyata , akibat adanya halangan / udzur maka pahalanya sebagaimana orang-orang yang dapat melaksanakan perbuatan nyata.

Dari Ma’nu bin Yazid : “ Sudah menjadi kebiasaan ayahku (Yazid) menitipkan uang kepada bendahara masjid, untuk disedekahkan / disalurkan kepada para fakir-miskin. Lalu saya minta kepada bendahara masjid tersebut dan diperlihatkan kepada ayahku. Kemudian jawabnya : “Demi Allah sedekah itu tidak ditujukan kepadamu”. Akhirnya peristiwa ini diajukan kepada Rasul Saw, dan beliau menjawab : “Kau mendapat pahala sesuai dengan niat-tujuanmu hai Yazid, dank au punya hak dan sedekah itu hai Ma’nu. (HR. Bukhari)

Demikianlah, dengan niat-tujuan yang murni , amal ibadah seseorang akan diterima dan dibalas pahala di sisi Allah, sekalipun dalam perbuatan nyata tidak memuaskan fihak pelakunya (rencana semula gagal).

Dari Sa’ad bin Abi Waqas : “Rasul Saw. Dating menegokku tengah tubuhku menderita sakit keras sewaktu menunaikan ibadah hajji Wada’, lalu kataku : “Ya Rasul, penyakitku semakin parah, harta bendaku cukup banyak, dan satu-satunya waris hanya putriku seorang diri, apakah sebaiknya dua pertiga hartaku disedekahkan? Jawabnya : “ Jangan. Atau separohnya? Jawabnya : “Jangan, Lalu sepertiganya? Jawabnya : Demikian itu sudah cukup banyak atau besar, ketahuilah jika kau tinggalkan ahli warismu dalam kecukupan (kaya), hal itu lebih bagus daripada mereka miskin, menderita dan terlantar sepeninggalmu, hingga menjadi hina akibat mengemis pada lain orang. Dan harta yang kau belanjakan demi mencari keridlaan Allah, pasti dengan niat tujuan itu kau memperoleh pahalaNya, termasuk didalamnya (yakni) memberi belanja kepada istrimu. Lalu kataku lagi : “Ya Rasul, apakah aku dibiarkan disini oleh kawan-kawanku? Jawabnya : “Sungguh kamu tidak dibiarkan, maka kamu beramal baik dengan niat-tujuan mencari keridlaan Allah, pasti ditingkatkan kemulyaan derajatmu, mudah-mudahan kauakan tinggal sehingga banyak orang memperoleh keuntungan darimu, dan yang lain dirugikan olehmu. (selanjutnya beliau Saw. Berdo’a) : “Ya Allah, sampaikanlah/langsungkan hijrah para shahabatku, jangan KAU-pulangkan mereka ke belakang (kota Makkah), namun sa’ad bin Haulah kekasih Rasul Saw. Kecewa ,karena ia meninggal di Makkah”. (HR. Bukhari-Muslim).

Dari hadits tersebut diatas, dapat ditarik kesimpulan, diantaranya : “setiap amal-perbuatan yang disertai dengan niat-tujuan mencari keridlaan Allah, apapun bentuknya, baik yang menyangkut urusan duniawi seperti member balanja keluarga (anak-istri), mengasuh, memelihara mereka dan lain-lain. Ataupun yang secara langsung menyangkut urusan ukhrawi, maka dianggap suatu ibadah yang dibalas denga pahala.
Kedua : “Manusia harus bekerja keras sejak pemuda hingga dewasa, dan supaya ada kelebiha (harta tinggalan) untuk anak-keturunannya, (sepeninggalnya), mereka tidak terlantar dan menderita hidupnya.

Ketiga : Menarik suatu pemberian, adalah perbuatan tercela.
Keempat : Harta benda seseorang tidak boleh diwasiatkan untuk kebaikan melebihi sepertiga dari jumlah keseluruhan (ketika hendak meninggal).
Kelima : Peningkatan derajat disisi Allah masih terbuka seluas-luasnya (yakni dengan cara memperbanyak amal-ibadah denga niat-tujuan yang murni, tulus ikhlas mencari keridlaan dari Allah Swt.
Dari Abu Hurairah, Rasul Saw. Bersabda :
Artinya : “Sungguh Allah tidak menilai bentuk tubuh dan parasmu, tetapi yang dinilai adalah niat-tujuan dan kemurnian yang tumbuh dari dalam lubuk hatimu.” (HR. Muslim).
Maksudnya tiada artinya punya bentuk tubuh dan paras yang cantik atau bagus, apabila tidak diimbangi dengan keindahan sikap, tingkah laku, dan perbuatan (akhlakul karimah), serta ibadah yang tumbuh dari niat tujuan yang tulus ikhlas. Sebab jika tidak demikian seluruh kegiatan dalam hidupnya menjadi sia-sia , dihadapan Allah yang menciptakan keindahan tubuh dan parasnya.

Dari Abu Musa, katanya :
Artinya : “Ada suatu pertanyaan kepada Rasul Saw. Tentang seorang prajurit yang maju ke medan laga (perang sabil) dengan keberanian dan kebangsaan atau dengan dalih peningkatan pangkat, manakah yang disebut sabilillah dari semua itu ? jawabnya “Orang yang maju ke medan laga demi tegak kokohnya agama Islam, itulah prajurit perang sabil.” (HR. Bukhari-Muslim).

Ditinjau dari segi tujuan, seorang prajurit dapat digolongkan perang sabil atau tidaknya, apabila ia tewas dalam arena perang sabil, itulah yang disebut mati syahid dalam membela Islam.”

Dari Abu Bakrah Nufa’I, katanya: “NAbi Saw. Bersabda :
Artinya : “ Ketika terjadi perkelahian dua orang muslim, mereka saling menghunus pedang (pukulan)nya , hingga ada yang tewas, maka keduanya masuk neraka. Sahut Abu Bakrah : “ Ya Rasul si pembunuh sudah jelas masuk neraka, tapi kenapa yang dibunuh masuk neraka ? jawabnya : Karena ia juga berusaha (tujuannya) membunuh lawan dengan serius.” (HR. Bukhari-Muslim)

One thought on “RIADHUS SHALIHIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s