ABDULLAH BIN ABBAS

Ibnu Abbas serupa dengan Ibnu Zubeir bahwa
mereka sama-sama menemui Rasulullah dan bergaul dengannya selagi masih kecil, dan Rasulullah wafat sebelum Ibnu Abbas mencapai usia dewasa.

Tetapi ia seorang lain yang di waktu kecil telah mendapat kerangka
kepahlawanan dan prinsip-prinsip kehidup…an dari Rasuluilah saw. yang
mengutamakan dan mendidiknya serta mengajarinya hikmat yang murni. Dan dengan keteguhan iman dan kekuatan akhlaq serta melimpahnya ilmunya, Ibnu Abbas mencapai kedudukan tinggi di lingkungan tokoh-tokoh sekeliling Rasul ….

Ia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin
Hasyim, paman Rasulullah saw. Digelari “habar” atau kyahi atau
lengkapnya “kyahi ummat”, suatu gelar yang hanya dapat dicapainya
karena otaknya yang cerdas, hatinya yang mulia dan pengetahuannya yang luas.

Dari kecilnya, Ibnu Abbbas telah mengetahui jalan hidup yang
akan ditempuhnya, dan ia lebih mengetahuinya lagi ketika pada suatu
hari Rasulullah menariknya ke dekatnya selagi ia masih kecil itu dan
menepuk-nepuk bahunya serta mendu’akannya: -
“Ya Allah, berilah ia ilmu Agama yang mendalam dan ajarkanlah kepadanya ta’wil”. Kemudian berturut-turut pula datangnya kesempatan dimana Rasulullah mengulang-ulang du’a tadi bagi Abdullah bin Abbas sebagai saudara sepupunya itu …, dan ketika itu ia mengertilah bahwa ia diciptakan untuk ilmu dan pengetahuan.
Sementara persiapan otaknya mendorongnya pula dengan kuat untuk menempuh jalan ini.

Karena walaupun di saat
Rasulullah shallallahu alaihi wasalam wafat itu, usianya belum lagi
lebih dari tiga belas tahun, tetapi sedari kecilnya tak pernah satu
hari pun lewat, tanpa ia menghadiri majlis Rasulullah dan menghafalkan
apa yang diucapkannya….

Dan setelah kepergian Rasulullah ke
Rafiqul A’la, Ibnu Abbas mempelajari sungguh-sungguh dari
shahabat-shahabat Rasul yang pertama, apa-apa yang input didengar dan dipelajarinya dari Rasulullah saw. sendiri. Suatu tanda tanya (ingin
mengetahui dan ingin bertanya) terpatri dalam dirinya.
Maka setiap kedengaran olehnya seseorang yang mengetahui suatn ilmu atau menghafaikan Hadits, segeralah ia menemuinya dan belajar kepadanya. Dan otaknya yang encer lagi tidak mau puas itu, mendorongnya nntuk meneliti apa yang didengarnya.
Hingga tidak saja ia menumpahkan perhatian
terhadap mengumpulkan ilmu pengetahuan semata, tapi jnga untuk meneliti dan menyelidiki sumber-sumbernya.

Pernah ia menceritakan
pengalamannya: — “Pernah aku bertanya kepada tigapuluh orang shahabat
Rasul shallallahu alaihi wasalam mengenai satu masalah”. Dan bagaimana
keinginannya yang amat besar untuk mendapatkan sesuatu ilmu,
digambarkannya kepada kita sebagai berikut: -
“Tatkala Rasulullah
shallallahu alaihi wasalam wafat, kakatakan kepada salah seorang pemuda
Anshar: “Marilah kita bertanya kepada shahabat Rasulullah, sekarang ini
mereka hampir semuanya sedang bekumpul?”
Jawab pemuda Anshar itu:
“Aneh
sekali kamu ini, hai Ibnu Abbas! Apakah kamu kira orang-orang akan
membutuhkanmu, padahal di kalangan mereka sebagai kan lihat banyak
terdapat shahabat Rasulullah … ?” Demikianlah ia tak mau diajak,
tetapi aku tetap pergi bertanya kepada shahabat-shahabat Rasulullah.
Pernah
aku mendapatkan satu Hadits dari seseorang, dengan cara kudatangi
rumahnya kebetulan ia sedang tidur slang. Kubentangkan kainku di muka
pintunya, lalu duduk menunggu, sementara angin menerbangkan debu
kepadaku, sampai akhirnya ia bangun dan keluar mendapatiku. Maka
katanya: — “Hai saudara sepupu Rasulullah, apa maksud kedatanganmu?
Kenapa tidak kamu suruh saja orang kepadaku agar aku datang kepadamu?”
“Tidak!” ujarku, “bahkan akulah yang harus datang mengunjungi anda!
Kemudian kutanyakanlah kepadanya sebuah Hadits dan aku belajar
daripadanya … !”
Demikianlah pemuda kita yang agung ini bertanya,
kemudian bertanya dan bertanya lagi, lalu dicarinya jawaban dengan
teliti, dan dikajinya dengan seksama dan dianalisanya dengan fikiran
yang berlian. Dari hari ke hari pengetahuan dan ilmu yang dimilikinya
berkembang dan tumbuh, hingga dalam usianya yang muda belia telah cukup
dimilikinya hikmat dari orang-orang tua, dan disadapnya ketenangan dan
kebersihan pikiran mereka, sampai-sampai Amirul Mu’minin Umar bin
Khatthab radhiallahu anhu menjadikannya kawan bermusyawarah pada setiap
urusan penting dan menggelarkannya “pemuda tua” … !
Pada suatu hari ditanyakan orang kepada Ibnu Abbas:
“Bagaimana anda mendapatkan ilmu ini … ?”
Jawabnya: -”Dengan lidah yang gemar bertanya, dan akal yang suka berfikir… !”
Maka
dengan lidahnya yang selalu bertanya dan fikirannya yang tak
jemu-jemunya meneliti, serta dengan kerendahan hati dan pandainya
bergaul, jadilah Ibnu Abbas sebagai “kyahi ummat ini”.
Sa’ad bin Abi Waqqash melukiskannya dengan kalimat-kalimat seperti ini :-
Tak
seorang pun yang kutemui lebih cepat mengerti, lebih tajam berfikir dan
lebih banyak dapat menyerap ilmu dan lebih luas sifat santunnya dari
Ibnu Abbas … ! Dan sungguh, kulihat Umar memanggilnya dalam
urusan-urusan pelik, padahal sekelilingnya terdapat peserta Badar dari
kalangan Muhajirin dan Anshar. Maka tampillah Ibnu Abbas menyampaikan
pendapatnya, dan Umar pun tak hendak melampaui apa katanya!”
Ketika membicarakannya, Ubaidillah bin ‘Utbah berkata:-
“Tidak
seorang pun yang lebih tahu tentang Hadits yang diterimanya dari
Rasulullah shallallahu alaihi wasalam daripada Ibnu Abbas… !
Dan
tak kulihat orang yang lebih mengetahui tentang putusan Abu Bakar, Umar
dan Utsman dalam pengadilan daripadanya … ! Begitu pula tak ada yang
lebih mendalam pengertiannya daripadanya ….
Sungguh, ia telah
menyediakan waktu untuk mengajarkan fiqih satu hari, tafsir satu hari,
riwayat dan strategi perang satu hari, syair satu hari, dan tarikh
serta kebudayaan bangsa Arab satu hari ….
Serta tak ada yang lebih
tahu tentang syair, bahasa Arab, tafsir -Quran, ilmu hisab dan seal
pembagian pusaka daripadanya … ! Dan tidak seorang alim pun yang
pergi duduk ke dekatnya kecuali hormat kepadanya, serta tidak seorang
pun yang bertanya, kecuali mendapatkan jawaban daripadanya… !”
Seorang
Muslim penduduk Bashrah melukiskannya pula sebagai berikut: — (Ibnu
Abbas pernah menjadi gubernur di sana, diangkat oleh Ali)
“Ia mengambil tiga perkara dan meninggalkan tiga perkara ….
1.Menarik hati pendengar apabila ia berbicara.
2.Memperhatikan setiap ucapan pembicara.
3.Memilih yang teringan apabila memutuskan perkara.
1.Menjauhi sifat mengambil muka.
2.Menjauhi orang-orang yang rendah budi.
3.Menjauhi setiap perbuatan dosa.
Sebagaimana kita telah paparkan bahwa Ibnu Abbas adalah orang yang menguasai dan mendalami berbagai cabang ilmu.
Maka
ia pun menjadi tepatan bagi orang-orang pang mencari ilmu,
berbondong-bondong orang datang dari berbagai penjuru negeri Islam
untuk mengikuti pendidikan dan mendalami ilmu pengetahuan.
Di samping ingatannya yang kuat bahkan luar biasa itu, Ibnu Abbas memiliki pula kecerdasan dan kepintaran yang Istimewa.
Alasan
yang dikemukakannya bagaikan cahaya matahari, menembus ke dalam kalbu
menghidupkan cahaya iman ….Dan dalam percakapan atau berdialog, tidak
saja ia membuat lawannya terdiam, mengerti dan menerima alasan yang
dikemukakannya, tetapi juga menyebabkannya diam terpesona, karena
manisnya susunan kata dan keahliannya berbicara … !
Dan bagaimana
pun juga banyaknya ilmu dan tepatnya alasan tetapi diskusi atau tukar
fikiran itu … ! Baginya tidak lain hanyalah sebagai suatu slat yang
paring ampuh untuk mendapatkan dan mengetahui kebenaran … !
Dan
memang, telah lama ia ditabuti oleh Kaum Khawarij karena logikanya yang
tepat dan tajam! Pada suatu hari ia diutus oleh Imam Ali kepada
sekelompok besar dari mereka. Maka terjadilah di antaranya dengan
mereka percakapan yang amat mempesona, di mana Ibnu Abbas mengarahkan
pembicaraan serta menyodorkan alasan dengan cara yang menakjubkan. Dari
percakapan yang panjang itu, kita cukup mengutip cupIikan di bawah ini:
-
Tanya Ibnu Abbas: — “Hal-hal apakah yang menyebabkan tuan-tuan menaruh dendam terhadap Ali … ?”
Ujar mereka: -”Ada tiga hal yang menyebabkan kebencian kami padanya: -
Pertama dalam Agama Allah ia bertahkim kepada manusia, padahal Allah berfirman: ‘”Tak ada hukum kecuali bagi Allah … !’)
Kedua,
ia berperang, tetapi tidak menawan pihak musuh dan tidak pula mengambil
barta rampasan. Seandainya pihak lawan itu orang-orang kafir, berarti
harta mereka itu halal. Sebaliknya bila mereka orang-orang beriman maka
haramlah darahnya … !)
Dan ketiga, waktu bertahkim, ia rela
menanggalkan sifat Amirul Mu’minin dari dirinya demi mengabulkan
tuntutan lawannya. Maka jika ia sudah tidak jadi amir atau kepala bagi
orang-orang Mu’min lagi, berarti ia menjadi kepala bagi orang-orang
kafir… !”3)
Lamunan-lamunan mereka itu dipatahkan oleh Ibnu Abbas,
katanya: — “Mengenai perkataan tuan-tuan bahwa ia bertahkim kepada
manusia dalam Agama Allah, maka apa salahnya … ?
Bukankah Allah telah berfirman:
“Hai
orang-orang beriman! Janganlah halian membunuh binatang buruan, sewaktu
halian dalam ihram! Barang siapa di antara kalian yang membunuhnya
dengan sengaja, maka hendaklah ia membayar denda berupa binatang ternak
yang sebanding dengan hewran yang dibunuhnya itu, yang untuk
menetapkannya diputuskan oleh dua orang yang adil di antara kalian
sebagai hahimnya … !” (Q.S. 5 al-hlaidah: 95)
Nah, atas nama Allah
cobalah jawab: “Manakah yang lebih penting, bertahkim kepada manusia
demi menjaga darah kaum Muslimin, ataukah bertahkim kepada mereka
mengenai seekor kelinci yang harganya seperempat dirham … ?”
Para pemimpin Khawarij itu tertegun menghadapi logika tajam dan tuntas itu. Kemudian “kyai ummat ini” melanjutkan bantahannya: -
“Tentang
ucapan tuan-tuan bahwa ia perang tetapi tidak melakukan penawanan dan
merebut harta rampasan, apakah tuan-tuan menghendaki agar ia mengambil
Aisyah istri Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dan Ummul Mu’minin
itu sebagai tawanan, dan pakaian berkabungnya sebagai barang rampasan
… ?”
Di sini wajah orang-orang itu jadi merah padam karena main,
lain menutupi muka mereka dengan tangan …,sementara Ibnu Abbas
beralih kepada soal yang ketiga katanya: -
“Adapun ucapan tuan-tuan
bahwa ia rela menanggalkan sifat Amirul Mu’minin dari dirinya sampai
selesainya tahkim, maka dengarlah oleh tuan-tuan apa yang dilakukan
oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasalam di hari Hudaibiyah, yakni
ketika ia mengimlakkan surat perjanjian yang telah tercapai antaranya
dengan orang-orang Quraisy. Katanya kepada penuiis: “Tulislah: Inilah
yang telah disetujui oleh Muhammad Rasulullah … “. Tiba-tiba utusan
Qnraisy menyela: ‘Demi Allah, seandainya kami mengakuimu sebagai
Rasulullah, tentulah kami tidak menghalangimu ke Baitullah dan tidak
pula akan memerangimu … ! Maka tulislah:
Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah … !”
Kata Rasulullah kepada mereka: “Demi Allah, sesungguhnya saya ini Rasulullah walaupun kamu tak hendak mengakuinya…”
Lalu kepada penulis surat perjanjian itu diperintahkannya:
“Tulislah apa yang mereka kehendaki! Tulis: Inilah yang telah disetujui oleh Muhammad bin Abdullah … !”
Demikianlah,
dengan cara yang menarik( dan menakjubkan ini, berlangsung soal jawab
antara Ibnu Abbas dan golongan Khawarij, hingga belum lagi tukar
fikiran itu selesai, duapuluh ribu orang di antara mereka bangkit
serentak, menyatakan kepuasan mereka terhadap keterangan-keterangan
Ibnu Abbas dan sekaligus memaklumkan penarikan diri mereka dari
memusuhi Imam Ali… !
Ibnu Abbas tidak saja memiliki kekayaan besar
berupa ilmu pengetahuan semata, tapi di samping itu ia memiliki pula
kekayaan yang lebih besar lagi, yakni etika ilmu serta akhlak para
ulama. Dalam kedermawanan dan sifat pemurahnya, Ia bagaikan Imam
dengan,panji-panjinya. Dilimpah-ruahkannya harta bendanya kepada
manusia, persis sebagaimana ia melimpah ruahkan ilmunya kepada
mereka….
Orang-orang yang sesama dengannya, pernah menceritakan
dirinya sebagai berikut: — “Tidak sebuah rumah pun kita temui yang
lebih banyak makanan, minuman buah-buahan, begitupun ilmu
pengetahuannya dari rumah Ibnu Abbas … !”
Di samping itu ia seorang yang berhati suci dan berjiwa bersih, tidak menaruh dendam atau kebencian kepada siapa juga.
Keinginannya
yang tak pernah menjadi kenyang, ialah harapannya agar setiap orang,
baik yang dikenalnya atau tidak, beroleh kebaikan…!
Katanya mengenai dirinya: -
“Setiap
aku mengetahui suatu ayat dari kitabullah, aku berharap kiranya semua
manusia mengetahui seperti apa yang kuketahui itu … ! Dan setiap aku
mendengar seorang hakim di antara hakim-hakim Islam melaksanakan
keadilan dan memutus sesuatu perkara dengan adil, maka aku merasa
gembira dan turut mendu’akannya …, padahal tak ada hubungan perkara
antaraku dengannya … ! Dan setiap aku mendengar turunnya hujan yang
menimpa bumi Muslimin, aku merasa berbahagia, padahal tidak seekor pun
binatang ternakku yang digembalakan di bumi tersebut…!”
Ia seorang
ahli ibadah yang tekun beribadat dan rajin bertaubat …, sering bangun
di tengah malam dan shaum di waktu siang, dan seolah-olah kedua matanya
telah hafal akan jalan yang dilalui oleh air matanya di kedua pipinya,
karena seringnya ia menangis, balk di kala ia shalat maupun sewaktu
membaca alquran ….Dan ketika ia membaca ayat-ayat alquran yang memuat
berita duka atau ancaman, apalagi mengenai maut dan saat dibangkitkan,
maka isaknya bertambah keras dan sedu sedannya menjadi-jadi … !
Di
samping semua itu, ia juga seorang yang berani, berfikiran sehat dan
teguh memegang amanat … ! Dalam perselisihan yang terjadi antara Ali
dan Mu’awiyah, ia mempunyai beberapa pendapat yang menunjukban
tingginya kecerdasan dan banyaknya akal serta siasatnya …. Ia lebih
mementingkan perdamaian dari peperangan, lebih banyak berusaha dengan
jalan lemah lembut daripada kekerasan, dan menggunahan fikiran daripada
paksaan…!
Tatkala Husein radhiallahu anhu bermaksud hendak pergi
ke Irak untuk memerangi Ziad dan Yazid, Ibnu Abbas menasehati Husein,
memegang tangannya dan berusaha sekuat daya untuk menghalanginya. Dan
tatkala ia mendengar kematiannya, ia amat terpukul, dan tidak
keluar-keluar rumah karena amat dukanya.
Dan di setiap pertentangan
yang timbul antara Muslim dengan Muslim tak ada yang dilakukan oleh
Ibnu Abbas, selain mengacungkan bendera perdamaian, beriunak lembut dan
melenyapkan kesalah-pahaman
Benar ia ikut tejun dalam peperangan di
pihak Imam Ali terhadap Mu’awiyah, tetapi hal itu dilakukannya, tiada
lain hanyalah sebagai tamparan keras yang wajib dilakukan terhadap
penggerak perpecahan yang mengancam keutuhan Agama dan kesatuan
ummat… !
Demikianlah kehidupan Ibnu Abbas, dipenuhi dunianya
dengan ilmu dan hikmat, dan disebarkan di antara ummat buah nasehat dan
ketaqwaannya – · · · Dan pada usianya yang ketujuhpuluh satu tahun, ia
terpanggil untuk menemui Tuhannya Yang Maha Agung · – · · Maka kota
Thaif pun menyaksikan perarakan besar, di mana seorang Mu’min
diiringkan menuju surganya.
Dan tatkala tubuh kasamya mendapatkan
tempat yang aman dalam kuburnya, angkasa bagai berguncang disebabkan
gema janji Allah yang haq:
“Wahai jiwa yang aman tenteram!
Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dalam keadaan ridla dan diridlai. Maka
masuklah ke dalam lingkungan hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam surgaKu.

Dakwah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada Umar bin Khathab radhiallahu ‘anhu

Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani, dari
Abdullah bin Mas’ud r.a, dia berkata Rasulullah saw berdoa,’Ya Allah,
kuatkanlah Islam memalui Umar bin Khathab atau Abu Jahal bin Hisyam.”
Maka Allah swt mengabulkan doa Rasulullah saw dengan dipil…ihnya Umar
bin Khathab ra. Dengan masuknya Umar bin Khathab ra ke dalam Islam.Maka
menjadi tegaklah bangunan Islam dan hancurlah (penyembahan terhadap)
berhala berhala.” Al Haitsami dalam kitabnya jilid IX halaman 61 mengomentari hadist ini, bahwa perawi yang meriwayatkan hadist ini shahih, kecuali Mujahid bin Sa’id.

Ath-Thabarani telah meriwayatkan
juga dari Tsauban r.a. dalam menerangkan kisah Sa’id bin Zaid r.a dan
istrinya, Fatimah r.ha yang juga saudara perempuan Umar r.a. Sebagian
hadist ini diceritakan sebagai berikut: “Rasulullah saw memegang ujung
baju Umar bin Khathab dan menariknya sambil berkata,”Apakah maksud
kedatanganmu, wahai Umar?” Umar bin Khathab ra menjawab,”Sampaikanlah
kepadaku sesuatu yang sering engkau dakwahkan?” Maka Rasulullah saw
menjawab,”Hendaklah kamu bersaksi bahwa Tiada Tuhan Selain Allah Yang
Maha Esa dan tidakk ada sekutu bagi-Nya dan hendaklah kamu bersaksi
bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” Mendengar perkataan ini,
Umar bin Khathab ra langsung masuk Islam ditempat itu juga. Ia lalu
berkata.“Mari kita pergi ke Masjidil haram, disana kita akan beribadah
dihadapan orang orang kafir!“

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah : 1/41,
dari Aslam r.a,, ia berkata,“Suatu ketika Umar berkata pada kami,“
Maukah aku ceritakan kepada kalian mengenai kisah pertama kali aku
masuk Islam?“ jawab kami,“Ya“. Lalu Umar bin Khathab r.a
bercerita,”Dahulu (sebelum masuk Islam) aku adalah seorang yang paling
memusuhi Rasulullah saw. Ketika beliau berada disuatu tempat dekat
bukit Shafa, aku menghampiri dan duduk dihadapan beliau, lalu menarik
ujung bajuku sambil berkata,“Wahai Ibnu Khatthab, masuklah kamu ke
dalam Islam!“ (bersamaan dengan itu beliau berdoa),“Ya Allah,
berikanlah hidayah kepada Umar!“ Maka saat itu juga aku langsung
mengucapkan dua kalimah syahadat (aku bersaksi bahwa sesungguhnya tidak
ada Tuhan Selain Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya engkau
adalah utusan Allah). Mendengar aku masuk Islam, seluruh kaum Muslimin
yang berada di tempat itu langsung mengucapkan takbir yang suaranya
terdengar hingga ke jalan-jalan di kota Mekkah.“

Sementara AlBazzar juga mengeluarkan sebuah hadist dengan substansi yang sama, namun dengan ungkapan yang berbeda
FACEBOOK HAYATUS SHAHABAH

Dakwah Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu kepada Ibunya

Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah
radhiallahu ‘anhu, dia berkata,“Aku mengajak ibuku yang ketika itu
masih musyrik agar masuk Islam. Suatu hari, ketika aku berdakwah
kepadanya, ia justru mengomeli Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam
sehingga membuat aku kurang suka…. Maka Aku menemui Rasulullah saw
sambil menangis dan kukatakan kepada beliau,”Wahai Rasulullah, aku
sudah berusaha mengajak kepada ibuku supaya dia masuk Islam, tetapi dia
malah mengomeli engkau. Tentu saja aku tidak suka dengan sikapnya itu.
Maka berdoalah kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar Dia memberikan
petunjuk kepada ibu Abu Hurairah.” Maka beliau Shalallahu ‘Alahi wa
Sallam bersabda,mahfumnya”Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada ibu Abu
Hurairah.” Aku pun keluar dari tempat beliau dengan wajah berseri
karena doa Rasulullah saw tersebut. Setiba dirumah, aku langsung menuju
pintu yang ternyata dalam keadaan terkunci. Ibuku yang mendengar suara
langkah kakiku berkata dari dalam rumah,“Tetaplah diam ditempatmu itu
wahai Abu Hurairah.“ Aku mendengar suara gemericik air. Ketika itu dia
sudah membukakan pintu, ibu berkata,“Wahai Abu Hurairah, aku bersaksi
bahwa Muhammad adalah Rasul Allah.“ Aku kembali menemui Rasulullah
Shalallahu ‘Alahi wa Sallam dan mengabarkan keislaman ibuku. Maka
beliau memuji Allah swt. Seraya bersabda,mahfumnya,“Itu adalah kebaikan
dari-Nya.“ Ahmad juga meriwayatkan yang serupa dengan hadist diatas.
Demikian dalam kitab Ishabah:4/241.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad
dalam kitab Ath-Thabaqat 4/328 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia
berkata,“Demi Allah, setiap orang Mukmin baik laki-laki maupun
perempuan yang mendengar namaku, pastilah dia menyayangi aku. Ibnu
Sa’ad bertanya,“Apakah sebabnya?“ Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu
menjawab,“Dulu aku selalu menyampaikan dakwah kepada ibuku.“ Kisah
selanjutnya seperti yang telah lalu dan pada akhir riwayatnya
disebutkan, bahwa Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata,“Kemudian aku
berlari menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam sambil
menangis karena gembira seperti aku menangis karena sedih, lalu aku
berkata kepada beliau,“Berita gembira, wahai Rasulullah! Sesungguhnya
Allah swt telah mengabulkan do’a engkau. Sungguh, Allah Subhana wa
Ta’ala telah mengarunia ibu Abu Hurairah hidayah kepada Islam.“
Kemudian aku berkata,“Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah swt agar
Dia mencintai aku dan ibuku kepada orang Mukmin laki-laki dan perempuan
dan mencintai setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan.“ Maka
Rasulullah Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa,mahfumnya“Ya Allah,
cintakanlah hamba-Mu ini (Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu) dan ibunya
kepada setiap orang Mukmin laki-laki dan perempuan!“ Sejak Rasulullah
Shalallahu ‘Alahi wa Sallam berdoa demikian, maka tidak ada satu pun
Mukmin laki-laki maupun perempuan yang mendengar namaku kecuali
pastilah dia mencintai aku.“
FACEBOOK HAYATUS SHAHABAH

Kala Ali Telat Subuh Berjamaah

dakwatuna.com – Oleh: Mochamad Bugi- Dini hari itu Ali bin ABi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.

Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, More

Keadaan Lapar Rasulullah SAW

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu’man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!

Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu’man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu’aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya – ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya’la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma’uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.
(Kanzul Ummal 4:38)

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma’uz Zawa’id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa’ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.’

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

WISDOM………..

Kebijaksanaan Rasulullah SAW

Seorang pemuda datang kepada Rasulullah SAW dan dengan cara yang tidak sopan menyatakan maksudnya hendak berzina

Shahabat – shahabat yang duduk bersama sama Rasulullah SAW pada waktu itu sudah mau bertindak untuk mengusir pemuda tersebut , tetapi dicegah o;eh Rasulullah SAW sendiri.
Beliau ingin berdialog dengan anak muda itu, dan akhirnya terjadilah dialog sebagai berikut:

” Apakah engkau suka melakukan perbuatan zina terhadap ibumu ? “- tanya NAbi.

” Tidak !” – jawab pemua itu.

“Terhadap saudaramu yang perempuan ? “

“juga tidak!”

Seterusnya Nabi Muhammad SAW menyebutkan satu demi satu anggota keluarganya yang perempuan yang akrab, maka setiap kali pula dijawab pula dengan : Tidak, tidak!

Akhirnya, Rasulullah memberikan kesimpulan berupa pengajaran , bahwa setiap orang yang tidak suka melakukan perbuatan zina terhadap ibunya, saudaranya yang perempuan, familinya yang akrab dan lain – lain, janganlah hendaknya melakukan perbuatan zina itu terhadap wanita yang lain. kemdian nabi memohonkan do’a:

Ya Allah sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya dan peliharalah kemaluannya”.

Menurut keterangan Al – Iraqi , anak muda tersebut akhirnya menjadi seorang manusia yang baik dan menjauhkan diri dari kejahatan. Malah dalam hidupnya, tidak ada suatu perbuatan yang paling dibencinya kecuali Zina.

demikian yang diterangkan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh ibnu jarir dari Abu Umamah.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita semua dalam meluruskan kesalahan orang lain dengan bijaksana dengan wisdom not anger or emotion….insya Allah kita sedia amalkan

Surat Umar bin Khathab ra.

Sebuah riwayat diambil dari Al Bidayah wan Nihayah nya Ibnu Katsir bahwa Umar ibn al Khatthab ra. Telah mengirim pasukan muslim di bawah pimpinan Sa’ad bin Abi Waqas yang dikirim untuk menaklukkan Parsi. Ia (Umar ra.) menulis sepucuk surat kepadanya, sebagai berikut:
“Saya memerintahkan engkau dan pasukanmu untuk takut kepada Allah pada setiap saat karena taqwa adalah senjata terbaik menghadapi musuh dan strategi terbaik dalam peperangan. Dan saya memerintahkannmu dan pasukanmu untuk takut melanggar perintah Allah SWT lebih dari ketakutanmu terhadap musuhmu. Jika sebuah pasukan lebih takutkan berbuat dosa dari pada musuh mereka, Allah SWT akan memberikan kemenangan, untuk orang Muslim kemenangan adalah hasil dari ketidak taatan orang-orang kafir kepada Allah SWT. Ingatlah bahwa tidak ada kekuatan kecuali bersama Allah walaupun mereka selalu lebih banyak dari kita dan memiliki persenjataan serta perlengkapan yang lebih baik. Jika kita sama seperti mereka dalam ketidak taatan kepada Allah SWT, mereka akan menaklukkan kita dengan senjata mereka yang lebih hebat dan jika tidak kita taklukkanlah mereka dengan adil, kita tidak dapat menaklukkan mereka dengan kekuatan.

Kalian harus belajar bahwa kalian memiliki beberapa Malaikat bersama dengan kalian yang melindungi kalian dan amal kalian. Jadi berhati-hatilah dan jangan melakukan suatu dosa ketika kalian sedang berjuang dijalan Allah SWT. Dan jangan jangan menganggap musuh kita lebih jelek dan mereka tidak dapat mendapat kemenangan dari kita walaupun mereka melakukan perbuatan dosa. Banyak bangsa yang telah jatuh ke tangan bangsa yang lain yang mereka kurang memiliki keyakinan sebagaimana Bangsa Magi yang mendapat kemenangan dari Bani Israil ketika mereka melakukan perbuatan dosa.

Kalian harus meminta kepada Allah SWT kemenangan terhadap diri kalian sendiri sebagaimana kamu meminta kemenangan terhadap musuhmu.
Mintalah kepada Allah SWT untuk kami dan kamu sekalian”.

Sebab Kemenangan

Umar ra. telah melantik Atbah bin Ghazwan sebagai panglima perang pasukan Muslimin di dalam peperangan melawan Parsi. Pada ketika itu beliau telah memberikan perintah.
“Senantiasalah menjaga ketaqwaan sedapat-dapatnya. Berhati-hatilah menjalankan keadilan apabila memberi keputusan. Kerjakan sholat pada waktu yang ditentukan dan berzikirlah memuji Allah sebanyak-banyaknya dan selalu”.
Satu ketika terdapat seorang tawanan Romawi di dalam penjagaan orang-orang Islam. Terjadi satu keadaan dimana dia telah dapat meloloskan diri dan lari. Raja Heraklius bertanya kepadanya mengenai keadaan orang-orang Islam dengan mendalamnya supaya seluruh kehidupan mereka nampak jelas dihadapannya. tawanan ini juga melaporkan perkara yang sama dan menerangkan bahwa orang-orang itu adalah ahli ibadat diwaktu malam dan kesatria (da’i) disiang harinya. Orang-orang Islam itu juga tidak mengambil sesuatu walaupun daripada Dhimmi (orang-orang kafir yang dibawah lindungan mereka) tanpa membayar harganya dan apabila mereka berjumpa, mereka memberi dan menjawab salam. Heraklius menjawab dengan cepat dan tajam bahwasanya jikalau laporan itu benar dan tepat, maka mereka akan menjadi raja-raja bagi kerajaan Heraklius.
Heraklius mempunyai jumlah tentera yang sangat banyak sedangkan jumlah orang-orang Islam sangat terbatas. Amr bin al-’As ra. memberitahu Abu Bakar Siddiq ra. mengenai keadaan tersebut. Sebagai jawabannya Abu Bakar ra. menulis:
“Kamu orang-orang Islam tidak akan dapat dikalahkan karena jumlah yang kecil. Kamu pasti dapat dikalahkan walaupun mempunyai jumlah yang banyak melebihi jumlah musuh jikalau kamu terlibat didalam dosa-dosa”.

Al-Baihaqy mentakhrijkan dari jalan Al-Waqidy, dari Abu-Hurairah ra., dia berkata, “Aku ikut dalam perang Mu’tah. Ketika jarak antara kami dan orang-orang musyrik semakin dekat, kami bisa melihat jumlah pasukan yang amat banyak, membawa persenjataan lengkap, tameng, mengenakan pakaian sutra dan perhiasan emas.
Tsabit bin Arqam ra. berkata saat melihatku membelalakkan mata, “Wahai Abu Hurairah, sepertinya engkau sedang melihat pasukan yang besar.”
“Benar”, jawabku.
Dia berkata, “Engkau tidak bergabung bersama kami di Badar. Kami menang saat itu bukan karena jumlah kami yang banyak”.
(Al-Bidayah 4:244, Al-Ishabah 1:190)
Ahmad bin Marwan bin Maliky di dalam Al-Mujalasah, dari Abu Ishaq, dia berkata, “Tidak ada musuh yang bertahan lama jika berperang melawan para sahabat.
Ketika Heraklius tiba di Anthokia setelah pasukan Romawi dikalahkan pasukan Muslimin, dia bertanya, “Beritahukan kepadaku tentang orang-orang yang menjadi lawan kalian dalam peperangan. Bukankah mereka manusia seperti kalian?”
Mereka menjawab, “Ya”.
“Apakah kalian yang lebih banyak jumlahnya ataukah mereka?”
“Kamilah yang lebih banyak jumlahnya dimanapun kami saling berhadapan”.
“Lalu mengapa kalian bisa dikalahkan?”
Seseorang yang dianggap paling tua menjawab, “Karena mereka biasa shalat di malam hari, berpuasa di siang hari, menepati janji, menyuruh kepada kebajikan, mencegah dari kemungkaran dan saling berbuat adil di antara sesamanya. Sementara kami suka minum arak, berzina, melakukan hal-hal yang haram, melanggar janji, suka marah, berbuat semena-mena, menyuruh kepada kebencian, melarang hal-hal yang diridhai Allah dan berbuat kerusakan di bumi”.
Heraklius berkata, “Engkau membuatku percaya”.
(Al-Bidayah 7:15, Ibnu Asakir 1:143

BERWAJAH TAMPAN

Rasulullah adalah manusia yg paling tampan dan paling baik kondisi fisiknya, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek (Mutafaq ‘Alaih)

BERKULIT PUTIH DAN BERWAJAH BERSIH
Rasulullah itu berkulit putih dan berwajah tampan. (HR. Muslim)

BERBAHU LAPANG SERTA BERJENGGOT DAN BERAMBUT LEBAT

Rasulullah memiliki postur tubuh ideal, bahu yang lapang, berjenggot lebat dan pangkalnya kemerahan, berambut lebat sampai cuping telinga. Aku pernah melihat beliau berpakaian merah, beliau pernah kulihat orang lebih tampan dari beliau. (HR. Bukhari)

KEPALA, TANGAN DAN KAKI BELIAU BESAR
Rasulullah SAW memiliki kepala, dua tangan dan kaki yang besar-besar, berwajah tampah, belum pernah kulihat orang seperti beliau sebelum dan sesudahnya. (HR. Bukhari)

Wajah beliau SAW seperti matahari dan bulan, berbentuk bulat (HR. Muslim)

WAJAH BELIAU KETIKA BERGEMBIRA
Bila Rasulullah SAW sedang bergembira, wajah beliau terlihat cerah seperti bulan dan kami tahu hal itu. (MUtafaq ‘Alaih)

MATA ROSUL
Rasulullah SAW tidak tertawa kecuali sekedar tersenyum, bila kamu melihatnya akan berkomentar mata beliau bercelak, padahal beliau tidak memakainya. (HR. Tirmidzi hadits hasan)

TAWA ROSUL
Diriwayatkan dari Aisyah ra. : “Saya belum pernah melihat Rasulullah SAW tertawa terbahak-bahak sampai terlihat langit-langit mulutnya, tertawanya hanya tersenyum.” (HR. Bukhari)

KEELOKAN WAJAH ROSUL
Dari Jabir bin Samurah ra : “Saya pernah melihat Rasulullah SAW pada malam bulan purnama, aku melihat Rasulullah SAW lalu melihat bulan, sedangkan beliau mengenakan pakaian merah. Menurutku beliau lebih elok daripada bulan.” (HR. Tirmidzi, Hadits hasan hharib. Disahihkan oleh Al-Hakim dan disepakati oleh Adz-Dzahabi)

INDAHNYA SIFAT DAN PRIBADI ROSUL
Hindun bin Abi Haalah (putra Khadijah) berkata sbb:
“ Rasulullah saw adalah seorang yg terus menerus sedih, terus menerus berfikir, tidak pernah istirahat, lebih banyak diam, tidak bicara kalau tidak perlu. Beliau berbicara dan menutup (pembicaraan)nya dengan cara yang paling sopan dan baik. Ucapan beliau selalu mantap dan penuh arti. Perkataan beliau tegas (memisah antara hak dan yang batil), tidak berlebihan dan kurang, tidak kasar, tidak menghina, membesarkan nikmat sekalipun kecil, tidak pernah mencela, juga tidak pernah mencela makanan dan tidak pula memujinya. Beliau tidak pernah marah bila berhubungan dgn segala urusan duniawi. Tetapi bila berhubungan dgn kebenaran, maka beliau bersikap keras dan membelanya mati –matian. Beliau tidak marah bila disakiti atau dicela. Bila memberi isyarat beliau memberi isyarat dgn seluruh tapak tangan beliau. Dan bila kagum beliau membolak balikkan telapak tgn. Bila berbicara telapak tangan beliau ikut digerakkan. Bila sedang marah beliau memalingkan badan secara bersungguh-sungguh. Bila gembira, tampak wajahnya berseri2. Bila tertawa, beliau hanya tersenyum atau ketawa dengan cara yg sopan”

Makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan

from : Hanafi
Filed under: Tahukah anta

Man A’jabal Khalqi Imanan

“Wahai manusia, siapakah makhluk Allah yang imannya paling menakjubkan

(man a’jabul khalqi imanan)?” Demikian pertanyaan Nabi Muhammad kepada sahabatnya di suatu pagi.

Para sahabat langsung menjawab, “Malaikat!”.

Nabi menukas, “Bagaimana para malaikat tidak beriman sedangkan mereka pelaksana perintah Allah?”

Sahabat menjawab lagi, “kalau begitu, para Nabi-lah yang imannya paling menakjubkan!”

“Bagaimana para Nabi tidak beriman, padahal wahyu turun kepada mereka,” sahut Nabi.

Untuk ketiga kalinya, sahabat mencoba memberikan jawaban, “kalau begitu, sahabat-sahabatmu ya Rasul.”

Nabi pun menolak jawaban itu dengan berkata, “Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Rasul yang mulia meneruskan kalimatnya,

“Orang yang imannya paling menakjubkan adalah kaum yang datang sesudah kalian. Mereka beriman kepadaku, walaupun mereka tidak melihatku. Mereka benarkan aku tanpa pernah melihatku. Mereka temukan tulisan dan beriman kepadaku. Mereka amalkan apa yang ada dalam tulisan itu. Mereka bela aku seperti kalian membela aku. Alangkah inginnya aku berjumpa dengan ikhwanku itu!”

Nabi Muhammad menghibur kita, “Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku,” Nabi ucapkan kalimat ini satu kali. “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Nabi ucapkan kalimat terakhir ini tujuh kali.

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.