Terbesar Setelah Haji | Informasi Haji Departemen Agama Republik Indonesia

Terbesar Setelah Haji

Sumber : Informasi Haji Departemen Agama Republik Indonesia

PDF Cetak E-mail
Senin, 25 Januari 2010 18:06
Jakarta (MCH). Setidaknya empat juta muslim menghadiri acara yang disebut Bishwa Ijtima’ di Bangladesh pada hari Ahad, 24 januari kemarin. “Ini adalah klimaks dari acara Islam tahunan terbesar setelah haji,” kata seorang anggota polisi Bangladesh yang dikutip Hindustan Times edisi Senin, 25 Januari hari ini.
Tiga hari Bishwa Ijtema, atau Kongres Muslim Dunia, berakhir dengan upacara doa yang dipimpin seorang ulama asal India. Jutaan orang memadati jalanan kita. Bishwah pertama kali diselenggarakan tahun 1960 di tepi sungai Turag yang menjadi pusat Jamaat Tablig, sebuah kelompok non-politik yang bercita-cita mendorong orang untuk mengikuti Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hasan Ma’mun, inspektur polisi Dhakka, sedikitnya empat juta orang, termasuk Perdana Menteri Sheikh Hasina, menghadiri acara itu. “Tahun ini jumlah yang datang lebih banyak karena cuaca yang lebih baik,” kata Hasan, seraya menambahkan bahwa aparat keamanan sebanyak 10.000 berjaga-jaga.
Polisi mengatakan ada sekitar 25.000 jemaah asing dari sekitar 110 negara menghadiri acara itu. Namun, diakui, mayoritas yang datang adalah warga miskin dari pedesaan Bangladesh. Mereka menyamakan peristiwa ini dengan haji ke Mekkah.
Dhaka seperti kosong pada hari Ahad kemarin karena sebagian besar penduduknya meninggalkan pekerjaan mereka menuju kota kecil berjarak 40 kilometer arah utara untuk acara itu. Pemerintah menyiapkan kereta api dan feri untuk itu. Puluhan jembatan darurat dan tangki air didirikan serentak.
Bangladesh adalah dunia ketiga-mayoritas Muslim terbesar bangsa, dengan umat Islam hampir 90 persen dari 144 juta penduduk. (Musthafa Helmy)

Tiga Juta Umat Islam Hadir pada Ijtima Dunia Jamaah Tabligh

Tiga Juta Umat Islam Hadir pada Ijtima Dunia Jamaah Tabligh

sumber:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/3-juta-umat-islam-hadir-pada-ijtima-dunia-jamaah-tabligh.htm

Senin, 25/01/2010 11:39 WIB | email | print | share

Sekitar 3 juta umat Islam pada hari Ahad kemarin (24/1) mengakhiri “muktamar umat Islam dunia” di tepi sungai Turag kota Tongi, 20 km sebelah utara ibukota Dakha Bangladesh dan acara mukatamar ini merupakan pertemuan umat Islam terbesar kedua di dunia setelah ibadah Haji.

Acara muktamar yang diselenggarakan oleh Jamaah Tabligh ini, memfokuskan pada ceramah-ceramah agama (atau diistilahkan dengan “bayan” oleh Jamaah Tabligh) yang mengajak umat Islam untuk menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka, melaksanakan sholat, bermuhasabah dan mendiskusikan isu-isu yang menitik beratkan pada dimensi spiritual Islam serta mencari jalan keluarnya dengan cara berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam dan mengkampanyekan perdamaian dunia tanpa membicarakan hal-hal yang berbau politik.

Muktamar umat Islam dunia atau lebih dikenal dikalangan Jamaah tabligh dengan istilah “Ijtima’ Dunia” dalam bahasa Bangladesh disebut “Bishwa Ijtima”, merupakan acara tahunan rutin dari rangkaian program kegiatan dakwah Jamaah Tabligh.

Bishwa Ijtima dilaporkan pertama kali diadakan pada tahun 1966 atas prakarsa seorang ulama India yang juga merupakan konseptor Jamaah Tabligh – Syaikh Maulana Ilyas. Awalnya Syaikh Maulana Ilyas memulai kegiatan Bishwa Ijtima dengan sekelompok kecil masyarakat Muslim yang peduli dengan umat Islam dan berkumpul di sebuah masjid di Tongi dan atas usaha dakwahnya, saat ini Bishwa Ijtima bisa dihadiri oleh jutaan umat Islam yang datang dari seluruh dunia dan dalam beberapa tahun terakhir Ijtima tersebut menjadi pertemuan umat Islam dunia terbesar kedua setelah ibadah Haji.

Selama empat puluh tahun lebih, Tongi telah menjadi lokasi tempat berlangsungnya acara Ijtima, meskipun acara sejenis diselenggarakan juga pada skala yang lebih kecil di negara-negara lain.

Acara pertemuan Jamaah Tabligh seluruh dunia ini dimulai pada hari Kamis lalu (22/1) selama 3 hari berturut-turut dan berakhir pada hari Ahad kemarin (24/1), beberapa tokoh penting tampak hadir dalam acara ini termasuk Perdana Mentri Bangladesh Sheikh Hasina dan salah seorang pemimpin oposisi Bangladesh, Khalida Zia.

Program Ijtima berakhir ditandai dengan acara “Akheri Munajat” atau doa terakhir yang dipimpin oleh seorang Ulama Jamaah Tabligh. Untuk Ijtima kali ini, sempat terjadi insiden dengan wafatnya 3 orang peserta pada pagi hari pada hari terakhir acara.(fq/iol)

Ritual Akbar Lebihi Haji | KALTIM POST

Ritual Akbar Lebihi Haji


// <![CDATA[// http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=13183

KERETA JAMAAH: Peserta Biswa Ijtima yang menggunakan kereta api di Dhaka, Bangladesh. Kemarin merupakan hari terakhir sekaligus puncak ritual Muslim terbesar di dunia ini. Tahun lalu 5 orang tewas dalam ritual keagamaan ini.(ap photo/pavel rahman)
TONGI  – Haji ternyata bukan ritual terbesar muslim. Dari jumlah pesertanya, acara Biswa Ijtima atau Pertemuan Muslim Dunia di Bangladesh menjadi yang terakbar. Bila puncak haji yang baru lalu diperkirakan diikuti 2,5 juta orang, Biswa Ijtima dihadiri sekitar 3 juta orang. Bukan hanya bagi dunia Islam, acara itu diperkirakan juga menjadi acara keagamaan terbesar di dunia.

Kemarin Biswa Ijima berakhir. Puncak acara tiga hari itu adalah Jumat lalu, ketika seluruh jamaah salat Jumat. Acara itu secara tradisi digelar di tepian berpasir Sungai Turag di kawasan kota industri kecil Dhaka, ibukota Bangladesh. Sebelas ribu polisi dari kesatuan elite menjaga keamanan acara tersebut.

Sebelum bubaran kemarin dilakukan doa bersama. Doa itu berisi harapan perdamaian dan kesejahteraan dunia muslim. Acara yang dirintis ulama Muhammad Ilyas, pelopor gerakan Tabligh, dimulai pada 1946. Sedangkan acara itu menjadi rutin tahunan sejak 1966. Tablig akbar itu menyedot banyak orang dari berbagai kalangan karena nonpolitis. Tabligh menyerukan agar Islam dijadikan jalan hidup sehari-hari.

Meskipun berdesakan di areal 77 hektare, dilaporkan tak banyak terjadi kecelakaan fatal. Tahun lalu lima orang meninggal akibat kedinginan dan menyebabkan acara diakhiri lebih cepat. Pada setiap acara pertemuan, gelombang massa datang berdesakan dengan berbagai kendaraan. Bus, kereta api, dan perahu selalu dinaiki penumpang yang jumlahnya melebihi kapasitas.

Selama pertemuan tiga hari itu jamaah mendiskusikan Alquran, bertafakur, dan juga mendengarkan ceramah agama dari ulama berbagai negara. Ulama dari India, Iraq, Iran, Afghanistan, dan Arab Saudi ikut berbicara di sana. Sedangkan sebagian besar jamaah berasal dari Bangladesh, negara yang 90 persen dari 144 juta penduduknya muslim. Tetapi, panitia menyebut sekitar 10 ribu orang asing dari 152 negara mengikuti acara tersebut.

Meskipun nonpolitis, para tokoh politik tak dilarang datang ke acara itu. Presiden Iajuddin Ahmed, PM Sheik Hasina, dan juga tokoh oposisi Khaleda Zia ikut berdoa di sana. Sebenarnya acara itu khusus untuk laki-laki. Tetapi, banyak juga perempuan yang mengikuti acara dari gedung-gedung atau atap rumah tak jauh dari lokasi. Sheik Hasina dan Khaleda Zia, yang keduanya perempuan, juga berdoa dari gedung di sekitar tempat acara. (AP/AFP/roy)

Bishwa Ijtima…Largest Da`wah Meeting

By  Ferdous Ahmad, IOL Correspondent

http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1232976629455&pagename=Zone-English-News%2FNWELayout

“I have been attending the Tablig-e-Jamaat meeting for the past 40 years,” Abu Taher told IOL.

DHAKA — Just like every year, Abu Taher joined millions of Muslims from Bangladesh and abroad in threes day of worship and Islamic knowledge in the largest gathering of Muslims after hajj.

“I have been attending the Tablig-e-Jamaat meeting for the past 40 years,” Abu Taher, 59, told IslamOnline.net on Sunday, February 1.

Millions gathered on the banks of the river Turag at Tongi township on the outskirts of the capital Dhaka to attend the Bishwa Ijtima, or the World Muslim Congregation.

The three-day gathering is organized annually by Tablig-e-Jamaat, a Bangladeshi non-political Islamic group.

Dhaka was deserted on Sunday, a normal working day in Bangladesh, as many residents left their jobs and headed to the venue to attend the final prayers, which make the climax of the event.

Organizers said more than 10,000 foreigners from 108 countries attended this year’s event but that most of the worshippers were rural Bangladeshis.

Taher, who has been a member of the Tablig-e-Jamaat for decades, travels to Ijtima from the town of Bogora, some 250 km away from Tongi.

He recalls how 40 years ago, the meeting was attended by only few thousands.

The first Bishwa Ijtima was held in 1946 and began as a small group of people gathering at a local mosque in Tongi.

It has been held annually since then.

In recent years Bishwa Ijtima drew millions of devotees from Bangladesh, the world’s third-largest Muslim-majority nation, and abroad.

“It has become a very big congregation of Muslims. So we feel proud to attend Ijtima,” one devotee told IOL.

Da`wah

“I have joined this Tablig-e-Jamaat to develop my faith as a Muslim through da`wah works,” Mohammad, a university student, told IOL.

The gathering shuns politics and focuses solely on reviving the tenets of Islam and promoting peace and harmony.

For three days, participants pray, discuss the Noble Qur’an, attend lectures given by scholars from around the world and share notes on ways to spread Islam’s message.

“Preaching Islam in the world is the main target of this three-day Bishwa Ijtima,” Abul Bashar Khan, an engineer who attends the annual gathering, told IOL.

He added that participants learn during the meeting about new programs for da`wah works.

Mohammad Saiful Islam, mathematics student at the Jahangir Nagar University in Dhaka, comes to listen to speeches by prominent scholars on da`wah.

“I have joined this Tablig-e-Jamaat to develop my faith as a Muslim through da`wah works.”

Mohammad joined in November a four-month da`wah tour with Tablig-e-Jamaat that took him to several religions across the Asian Muslim country.

Mohammad Anisuzzaman, another devotee, is yet to join one of the Tablig-e-Jamaat’s da`wah convoys.

The trip is expected to take him all the way to Russia.

Mohammad Maruf Bin A. Jabber comes to Bishwa Ijtima to gain more knowledge on how to inform people of Islam’s peaceful message.

The businessman believes that joining da`wah is an obligation for every Muslim.

“We are responsible to preach Islam in today’s world.”
Read more: http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1232976629455&pagename=Zone-English-News%2FNWELayout#ixzz0hMAR1FfR

Jama’ah Tabligh Adakan Pertemuan Besar di Dhaka

 

Monday, 25 January 2010 08:56
E-mail Print PDF

Ditaksir lebih dua juta orang pengikut Jamaah Tabligh (JT) akan bertemu di Dhaka, Bangladesh. Selama tiga hari mereka  mendengar bayan

Hidayatullah.com—Jutaan orang dari segala penjuru dunia ramai menghadiri acara  ‘Biswa Ijtima’  (pertemuan Muslim dunia) di mana tahun ini jatuh pada hari Jumat, 22 Januari 2010. Tahun lalu,  acara ini jatuh pada 1 Februari 2009. Acara berlangsung di tepi Sungai Turag, di sebuah kota kecil sebelah utara ibu kota Bangladesh, Dhaka.
Acara tiga hari ini berfokus pada doa dan  ceramah agama.  Khotbah diterjemahkan ke dalam lebih dari setengah lusin.  Mereka membahas Al-Quran, menghadiri kuliah yang diberikan oleh para ahli dari seluruh dunia dan berbagi catatan tentang cara-cara untuk menyebarkan pesan Islam.
Tahun ini, diperkirakan 2 juta Muslim  menghadirinya. Pertemuan massal ini  diselenggarakan oleh Dewan Jamaah Tabligh, sebuah kelompok keagamaan non politik yang didirikan oleh Syeikh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi.
Fasilitas permanen seperti toilet dan kamar mandi telah didirikan sementara pasokan air pipa yang telah diinstal sebelumnya, sudah ada di sana.
Dokter bekerja sepanjang waktu di kamp-kamp kesehatan gratis, yang diatur untuk memberikan dukungan medis kepada para peserta, jika diperlukan. Dua puluh ambulan juga tersedia di sana, kata para penyelenggara.
“Setelah ibadah haji, pengumpulan Islam terbesar adalah ‘Bishwa Ijtima’ ini,” kata Hossain Alamgir Geo Television Network pada hari Sabtu, 23 Januari kemari.Hossain bergabung dengan dua juta Muslim di tepi sungai Turag di pinggiran ibukota Dhaka untuk menghadiri acara Tabligh ini.
Pemerintah ikut sibuk dengan mengambil langkah-langkah keamanan yang ketat untuk memastikan kedamaian jalannya acara. Personil keamanan akan memantau, melalui CCTV lapangan tempat dimana para jemaat tinggal dari menara diatur untuk tujuan itu. Dua helipads dan 10 menara telah dibuat.
“Anggota polisi di mana-mana, ribuan polisi terlibat di mana-mana untuk memelihara hukum dan ketertiban dalam ‘ijtima’ daerah,” ujar petugas polisi kata Abdus Sattar.
“Kami memiliki pasukan tambahan yang dikerahkan tahun ini karena negara terus-menerus menghadapi ancaman oleh kelompok-kelompok tak bertanggungjawab,” kata seorang polisi senior yang menolak disebutkan namanya.
Negara-negara yang hadir termasuk dari India, Pakistan, Arab Saudi, Afghanistan, Libanon, Kanada, Qatar, Bahrain, Kuwait, Thailand, Singapura, Maroko, Jepang, Filipina, Mesir, Suriah, Bhutan, Indonesia, Malaysia, Amerika Serikat, Inggris, Australia, Nigeria, Afrika Selatan, Turki, Italia, Swedia, Jerman, Swiss, denmark dan Spanyol.
Presiden Zillur Rahman, dalam sebuah pesan, berkata, “Saya mengirimkan salam saya kepada saudara-saudara Muslim yang bergabung dengan’Biswa Ijtima 2010.”
Dia mengatakan ideologi besar Islam adalah jalan damai dan kesejahteraan bagi umat manusia. Ia berharap kegiatan tahunan ini akan memperkuat kesatuan bangsa dan umat Muslim di seluruh dunia.
Ia berdoa untuk kesejahteraan dan kemakmuran bagi para peserta dan umat Muslim pada kesempatan ‘Biswa Ijtima’ itu.
Kumpulan Jamaah Tabligh (JT) dirintis ulama Muhammad Ilyas, pada 1946. Acara rutin seperti ini telah menjadi acara tahunan yang dimulai sejak 1966.

Dengan jumlah penduduk 144 juta, Bangladesh adalah dunia ketiga terbesar di negara berpenduduk mayoritas Muslim. [iol/ap/www.hidayatullah.com]

Ijtima Tongi 2009

Doa penutup, akhir munajat, yang dipanjatkan oleh Maulana Zubairul Hasan selama 15 menit mengakhiri pelaksanaan tiga hari (30 Jan – 01 Februari 2009) Ijtima tahunan yang diselenggarakan di atas lahan seluas 77 hektar di tepi sungai Turag, di kawasan Tongi dekat ibukota Bangladesh, Dhaka.

Sebelumnya, Maulana Muhammad Saad Kandahlawi berkenan menyampaikan bayan penutup, akhir bayan. Di Markaz Nizamuddin India, hal seperti ini juga sering terjadi, Maulana Saad yang memberikan bayan, Maulana Zubair yang menutup dengan doa.

tongi11

Tahun ini, ijtima dunia yang lebih dikenal dengan nama “Ijtima Bishwa” ini merupakan ijtima yang ke-46, pertama kali ijtima ini diselenggarakan pada tahun 1966.

Jumlah jamaah yang hadir pada tahun ini diperkirakan lebih dari 3 juta orang, beberapa media bahkan menyebutkan dihadiri lebih dari 5 juta orang. Pertemuan ini sering disebut sebagai pertemuan terbesar kaum muslimin sedunia setelah ibadah haji di Mekkah. Panjang satu shaf rakaat shalatnya saja bias lebih dari 1,5 km. Keramaian orang yang hadir pada ijtima ini dapat kita lihat dari gambar-gambar yang diambil oleh berbagai media di bawah ini.

BANGLADESH-RELIGION-IJTEMA

Lebih dari 10.500 orang jamaah luar negeri dari 152 negara di dunia ini hadir dalam ijtima ini. Para syura dan penanggung jawab Tabligh dari berbagai negara, termasuk Indonesia, hadir dalam ijtima ini. Mereka bermuzakarah & bermusyawarah untuk terus memajukan usaha dakwah ini, termasuk di dalamnya juga membahas berbagai permasalahan yang muncul di masing-masing negara.

Dari dalam negeri sendiri, hampir semua tokoh-tokoh penting negara tersebut selalu menyempatkan diri untuk hadir dalam ijtima ini, termasuk di antaranya, Presiden Bangladesh, Iajuddin Ahmed, lalu perdana menteri, Sheikh Hasina dan tak mau kalah pula pemimpin oposisi, Khaleda Zia. Mereka semua hadir hanya sebagai peserta biasa sebagaimana para peserta lainnya.

Untuk membantu mengantur kelancaran jalannya ijtima, pemerintah Bangladesh mengerahkan tenaga keamanan sekitar 11.000 personil, di samping menjaga keamanan dan kelancaran acara, mereka juga ikut khusyu’ mengikuti acara ini.

BANGLADESH-RELIGION-IJTEMA

Sebagaimana ijtima-ijtima yang diselenggarakan di berbagai belahan dunia lainnya, setiap ijtima adalah bertujuan untuk mengeluarkan sebanyak-banyaknya jamaah yang siap dikirim ke seluruh penjuru alam.

Kita yang pada tahun ini tidak bisa hadir, mudah-mudahan diberi kesempatan untuk bisa hadir di lain waktu. Dan yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita bisa selalu menjadi bagian dari jamaah-jamaah yang terus bergerak, siang dan malam, infirodi (individu) maupun ijtimai (berjamaah), ketika kita maqami (di kampung kita) maupun intiqali (sedang keluar).

Mudah-mudahan kita juga mendapat bagian dari doa-doa orang-orang yang selalu bermujahadah di jalan Allah yang hadir dalam pertemuan ini. Insyaallah

All teks from : http://aldjo.wordpress.com/2009/02/03/ijtima-tongi-2009/

Melbourne Semarak oleh Tabligh

Blog Entry Melbourne Semarak oleh Tabligh Jan 4, ’08 2:15 AM
for everyone

 

Sumber: Hidayatullah.com
Tanggal: Oktober 1999/Jumadil Akhir-Rajab 1420

Desember ini (1999 red), Melbourne akan menjadi tuan rumah ijtima’ (pertemuan) jamaah tabligh dari seluruh benua Australia, termasuk negara-negara kepulauan Pasifik Selatan. Berikut catatan Sahid setelah mengikuti kegiatan mereka, Oktober lalu.

Islam bukanlah gejala baru di Australia. Masuknya Islam ke benua Aborigin ini hanya berselang satu abad setelah datangnya orang-orang Inggris pertama di abad ke-18. Jumlah ummat Islam di Australia diperkirakan sekarang mencapai angka 300 ribuan. Dengan sejarah yang panjang dan jumlah yang tidak lagi sedikit, wajarlah bila tingkat keragamannya pun tinggi. Dari lapisan muslim yang masih taat dan aktif berdakwah, sampai yang tinggal Islam KTP-nya saja ada.Bahkan, ada yang menjawab salam pun sudah tak bisa.

WARNA BARU. Di tengah situasi itu, sejak awal tahun 1970-an, gerakan jamaah tabligh menggoreskan warna baru dalam perkembangan peta ummat Islam di Australia.

Setidaknya, sejauh pengamatan dan keterlibatan Sahid selama hampir 4 bulan di Australia, tabligh telah menjadi suatu gerakan dakwah yang sangat dinamis sekarang dan di masa mendatang.

Dilahirkan di India, gerakan ini merupakan hasil ijtihad seorang ulama bernama Maulana Ilyas, sekitar 70 tahun yang silam. Gagasannya sederhana, namun sangat tajam dan efektif. Yaitu meluangkan waktu untuk sepenuhnya berada di dalam atmosfir dien di masjid dalam waktu tertentu. Targetnya, agar manusia makin faham akan tujuan penciptaan dirinya di muka bumi. Sebuah persoalan yang sangat fundamental.

Sasaran sekunder, memindahkan suasana dien tadi dari masjid ke lingkungan manapun di luar masjid, terutama ke rumah. Setiap orang disarankan meluangkan waktu setidaknya dua jam sehari.Isinya berta’lim, membaca hadits, mengaji Qur’an, dan berpikir mengenai bagaimana syiar Islam. Lalu berjaulah, mengunjungi rumah-rumah ummat Islam di sekitar masjid setidaknya seminggu sekali. Lebih jauh lagi, keluar di jalan Allah setidaknya tiga hari dalam sebulan, empat puluh hari dalam setahun, dan empat bulan dalam seumur hidup.

Kesan pertama dari penampilan fisik mereka yang memakai gamis atau jubah, surban, dan memelihara janggut, memang merupakan sunnah-sunnah yang sudah asing bagi kebanyakan ummat Islam. Tetapi aktivis tabligh yakin, dengan niat yang ikhlas dan akhlak yang baik, kesan ‘asing’ itu akan segera hilang.

Kini poros India-Pakistan-Bangladesh, tempat gerakan ini berbasis, menjadi semacam base camp bagi para aktivis tabligh. Setiap orang disarankan meluangkan empat bulan khuruj-nya ke tiga negara di Asia Selatan tersebut. Kenapa harus ke sana? Zakaria, mahasiswa Charles Sturt University yang juga seorang karkun (sebutan bagi aktivis tabligh; bahasa India) menerangkan kepada Sahid, “India-Pakistan-Bangladesh bisa diibaratkan sebagai centre of excellence sebagaimana Universitas Al-Azhar, Madinah, Harvard, Oxford, atau MIT bagi ilmu-ilmu.”

Aktivis tabligh didorong untuk berangkat ke sana agar kualitasnya meningkat. Bedanya, kalau di universitas dunia kita belajar ilmu, di India-Pakistan-Bangladesh kita belajar amal akhirat, kata Zakaria. Awal tahun ini, jaringan televisi kabel ternama CNN melaporkan ‘the second biggest muslims gathering after hajj’ di Pakistan, yang tak lain adalah ijtima’ jamaah tabligh ini untuk tingkat dunia. Sekitar dua juta orang diperkirakan berkumpul pada saat itu.

DARI WAGGA KE MELBOURNE. Bagi kota-kota kecil seperti Wagga-Wagga, tempat Sahid menetap, Melbourne sebagai markas telah menjadi semacam India-Pakistan-Bangladesh-nya Australia.

Sore itu di awal Oktober, saya dan Raja Shahruddin, mahasiswa asal Malaysia, berencana bergabung dengan markas jamaah tabligh di Melbourne. Sebelum kami bertolak dari surau kampus, ada bayan hidayah (semacam briefing) dari seorang brother di Wagga. Isinya yang utama ada tiga, senantiasa meluruskan niat karena Allah; bahwa perjalanan ini untuk memperbaiki kualitas iman pada diri sendiri, baru yang berikutnya untuk mengajak orang lain; dan terakhir, petunjuk-petunjuk teknis mengenai hubungan dengan manusia lain.

Misalnya, agar menjaga mulut mengurangi percakapan tentang dunia selama perjalanan. Agar memperbanyak dzikir dan doa karena orang yang ada di jalan Allah doanya maqbul, dan yang semacamnya.

Lepas ashar kami bertolak diiringi doa. Perjalanan mobil Wagga-Melbourne petang itu kami kebut lima jam. Berbeda dengan di Indonesia, jalan bebas hambatan dari Albury, di perbatasan New South Wales dan Victoria, ke Melbourne yang jaraknya 350 kilometer gratis. Tak ada bayar-bayaran tol. Lansekap indah alam pedesaan, kerumunan domba, ladang gandum serba luas, padang stepa dan bebukitan hijau permai New South Wales-Victoria, ujung-ujungnya bertemu dengan layar langit yang biru sempurna. Semua cuma bisa dinikmati sebentar. Hujan lebat dan gelapnya malam segera menyergap Nissan Bluebird station milik Shah yang meluncur cepat.

Melbourne dingin malam itu, hampir seperti di saat winter. Trem-trem listrik masih beringsut menyusuri jalan-jalan kota dan kawasan suburban. Merkuri ribuan watt dan lampu-lampu kota meredam cahaya gemintang di langit Kutub Selatan.

Hawa dingin tadi segera terusir oleh suasana hangat begitu kami memasuki masjid Umar ben-Khattab, di Preston. Masjid waqaf pemerintah Arab Saudi ini selesai dibangun enam tahun silam. Kini menjadi markas jamaah tabligh di seluruh Melbourne dan Australia. Setiap JumUat malam mereka berkumpul dan beriUtikaf di sini. Sebuah kaligrafi kain ukuran besar dengan warna lembut tergantung persis di atas mihrab. Tulisannya, “Fabi ayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan?”

PAKAIAN YANG SAMA. Di depan mihrab, seorang tua berjanggut putih dari Srilanka sedang menyampaikan bayan (ceramah) dibantu seorang penerjemah. Tak kurang dari dua ratus orang duduk rapat-rapat, tekun mendengarkan ceramah itu.

Mereka berasal dari berbagai bangsa imigran seperti dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah, Eropa, Afrika, dan banyak lagi termasuk Australia sendiri. ‘Pakaian’ mereka semua sama; Islam. Masya Allah, masya Allah! Rasanya seperti bukan di Melbourne. Rasanya seperti berada di salah satu sudut masjid Nabawi, di Madinah Al-Munawwarah.

Usai shalat Isya’, makan malam bersama. Duduk berjajar, menunggu nampan datang sambil berdoa, lalu makanan satu nampan di makan tiga atau empat orang. Mulai sikap kepada makanan sampai cara duduk, semua mengikut sunnah.

Tiba-tiba More

Fenomena Jamaah Tabligh di Australia

Blog Entry Fenomena Jamaah Tabligh di Australia Jul 2, ’07 4:17 AM
for everyone

Taken From

http://afriantodaud.multiply.com/journal/item/46

Sahabat MPers,

Sekedar berbagi cerita. Minggu yang lalu saya berkesempatan berkunjung ke Masjid Folkner yang berlokasi di kawasan pinggiran Melbourne sekita 1 jam drive dari tempat dimana saya tinggal. Masjid ini dikenal sebagai markaz kawan-kawan Jamaah Tabligh di sekitar Melbourne Australia. Sebenarnya sudah lama saya diajak dan (juga) berniat untuk berkunjung ke masjid ini. Tapi karena berbagai sebab, saya belum juga bisa sampai ke sana. Dan Jumat kemaren, Alhamdulillah akhirnya sampai juga saya ke masjid yang cukup banyak dibicarakan oleh banyak Muslim di sini.

Kemaren di sinilah saya bisa menemukan hampir seribuan saudara muslim dari beragam etnis dan kebangsaan berkumpul dalam kehangatan Ukhuwah Islamiyah. Dan Bayan minggun kemaren disampaikan oleh seorang Syeikh yang datang dari Arab Saudi. Sementara seribuan jamaah lainnya dengan tenang dan khusyuk mendengarkan bayan yang disampaikan dalam dua bahasa itu. Tak ada kegaduhan ketika bayan disampaikan, kecuali desisan zikir beberapa jamaah merespon beberapa topik yang disampaikan oleh sang Ustadz.

Sekalipun saya sudah mengenal aktifitas Jamaah Tabligh cukup lama, tepatnya semenjak hampir sepuluh tahun yang lalu ketika saya setengah ‘terpaksa’ ikut khuruj bersama aktifis JT di Padang saat menjadi mahasiswa, saya tetap saja terpesona dengan suasana yang saya temukan di masjid terbesar Melbourne ini. Perjalanan kemaren memutar kembali memori saya pada suasana yang sama sekitar beberapa tahun yang lalu, yaitu masa ketika saya juga pernah merasakan kedamaian dakwah ala kawan-kawan Tabligh ini.

Bagi saya, More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.