Studi Kritis tentang Pemahaman Jamaah Tabligh
16 Apr 2011 30 Comments
in Cerita Hikmah, Pengalaman Khuruj / Da'wah, Studi Kritis Tentang Jamaah Tabligh, Testimoni Tentang Jamaah Tabligh
MENYINGKAP KESALAH FAHAMAN TERHADAP JAMAAH TABLIGH
Segala puji bagi Allah Tuhan Pemelihara Seluruh Alam, Salawat dan Salam semoga tetap dilimpahkan kepada sebaik-baik Nabi Rasul Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya sampai hari pembalasan.
Selanjutnya, kalau anda belum pernah melihat seseorang, atau kelompok/jama’ah dari dekat, dengan bersahabat atau dengan partisipasi, anda tidak dapat menghukuminya dengan pandangan yang benar. Sebab sudab jelas bahwa apa saja yang anda dengar dari orang-orang itu belum tentu benar dan tepat. Maka dari itu Allah memerintahkan kita:
“Apabila seseorang fasiq datang membawa berita kepadamu, maka selidikilah …“
Rasulullah bersabda:
“Cukuplab seseorang dikatakan pembohong, bila ia memberitakan segala yang ia dengar”.
Saya, penulis kata pengantar ini dengan segala kerendahan hati menuturkan bahwa saya telah menyelesaikan studi di Madrasah Deoband, mendapat Asy-Syahadah AI-Alamiyyah di Universitas Khoirul-madaris, Multan Pakistan pada tahun 1382 H. Kemudian saya mengajar di beberapa Pesantren antara lain Sahiwal, Faishol Abad, Jehiem, Rawalpindi di Islamabad.
Hubungan saya dengan Amir Jama’ah Tabligh di Pakistan yaitu H. Basyir Ahmad rahimahullah, cukup rapat, tetapi saya belum tahu kepentingan aktifitas jama’ah ini. Sampai akhirnya Allah SWT memberi kehormatan kepada saya untuk dapat diterima di Fakultas Da’wah dan Ushuludlin, universitas Islam Madinah AI-Munawwarah Pada hari ketiga dari diterimanya saya di Universitas Islam, saya dan Seluruh mahasiswa asalPakistandiundang oleh Syaikh Sa’id Ahmad ke Masjid An-Nuur.
Beliau telah menerangkan kepentingan usaha yang agung ini. Dan sejak itulah ucapan Syaikh Sa’id begitu berkesan dihati saya dan saya mendapat kesempatan untuk melihat jama’ah ini dari dekat.
Pada tahun 1395 H saya mendapat kesempatan untuk khuruj fisabilillah selarna 40 hari keSudan. Saya menjadi tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang hatinya telah terbakar oleh kesedihan dan kerisauan yang dalam karena melihat keadaan umat Islam di hari ini Dalam kerja besar ini mereka tidak mempunyai kepentingan-kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi. Dan karena keikhlasan dan kesungguhan mereka dalam da’wah. Allah SWT telah memberikan hidayah kepada banyak hamba-hambanya,
Dalam penjalanan khuruj tersebut di stasiun kereta api (Syindi) saya telab melihat seorang pemudaTunisbersarna dengan seorang gadis Amerika. Waktu itu kami dalam perjalanan menuju kePort Sudan. PemudaTunistersebut ikut naik di kendaraan kami, maka seorang diantara kami berbicara kepadanya tentang iman, sehiugga Allah SWT telab memberikan karunia hidayah kepadanya. Setelab kepulangan kami ke Saudi Arabia, pemuda tersebut telah datang untuk melaksanakan Umroh dan ia telah More
Indahnya Shalat Subuh di Masjid Akbar New Delhi
07 Apr 2011 Leave a Comment
in Bila Dakwah dihidupkan, Cerita Hikmah, iman
Kaum muslim India shalat subuh berjamaah di Masjid Jami New Delhi. Dipimpin oleh Imam Masjid Agung Makkah Abdul Rehman Sudais, Ahad 27 Maret 2011
PENGALAMAN KELUAR 40 HARI DIKAWASAN “ORANG MAKAN ORANG” PART AKHIR
25 Jun 2010 25 Comments
in Cerita Hidayah, Cerita Hikmah, Pengalaman Khuruj / Da'wah
PENGALAMAN KELUAR 40 HARI DIKAWASAN “ORANG MAKAN ORANG” PART AKHIR
http://musakolakedah.blogspot.com/2010/02/pengalaman-keluar-40-hari-dikawasan_24.html
Halkah ini berjalan sampai asar. Lepas asar beri kelebihan dakwah dan ajak untuk keluar ziarah umumi rumah ke rumah, semua orang tempatan angkat tangan nak ikut, masyaallah hebat sungguh puak yang dahulunya makan orang kini telah mengangkat tangan dengan sungguh2 untuk buat kerja nabi saw. lepas minum petang terus buat adab ziarah cara rasul saw, lepas tu tanya siapa yang nak jadi penunjuk jalan semua angkat tangan setelah mendengar kelebihan, begitu juga dengan jurucakap dan juga ameer jemaah, semua angkat tangan. Apabila ziarah dalam kampong bermula ramailah yang diajak terus datang masjid untuk mendengar takril atau ceramah iman di masjid hinggalah kemagrib. Waktu solat magrib, masjid dah separuh lebih penuh termasuk wanita dan kanak2. antara mereka ada yg tidak solat magrib.
Waktu bayan lepas magrib semuanya dudukdengar bayan, apabila taskil dibuat untuk keluar jalan allah , semua angkat tangan termasuk wanita dan kanak2. Lepas isyak semua ahli jemaah kumpulkan orang yang beri nama untuk iktilat. Malam tu kami terpaksa mentaakhirkan makan malam kerana makanan sudah tak cukup dan kita terpaksa melayan mereka yang kehausan agama, jadi kitalah kena ajar mereka. Pendek cerita kami makan malam lewat dan terus tidur, teramatlah letih satu hari tak rehat tapi seronok kerana dapat tiru macam sahabat nabi saw..
Pendek ceter besuk subuh ramai yang datang solat subuh, lepas bayan subuh pesan kepada mereka datang jam 8 pagi, sempatlah kami makan pagi, sebelum jam 8 pagi mereka dah sampai siap bawa petai, jering dan ulaman untuk jemaah makan, lepas mesyuarat kami bentuk jemaah khususi untuk pergi semua rumah-rumah dikampong tu.Kami tinggal disitu saya tak ingat berapa hari tapi lebih dari 4 hari, setiap hari kami tak pernah tidur siang kerana mengajar mereka solat.
Dalam masa tu semua rumah kami tak tinggal semua kami ziarah dan jumpa penghuninya dan semua mereka datang ke masjid. 11 orang telah azam untuk keluar 40 hari di Medan. Mereka kurang wang perbelanjaan untuk keluar 40hari tapi kami mesyuareat dengan dengan cara membeli ayam, beras dan apa sahaja yang jemaah boleh guna, semua makanan yg kami beli itu pun untuk ikram mereka makan,kerana mereka bersama kami dari pagi sampai malam dan makan bersama kami. Masa khususi saya teringat sampai sekarang bila saya dan seorang tempatan khususi sebuah rumah yang jauh terpencil dari kampong, rumahnya amat kecil dan uzur, bila saya sampai dan rahbar memberi salam, saya lihat seorang lelaki separuh umur membuka pintu, setelah diterangkan saya ini bapak dari Malaysia dalam dialek batak yg saya tak faham, maka dia terus meluru pada saya dan memelok saya sambil menangis dan ia berkata “bapa selama ini tiada seorang pun yang sudi datang kerumah saya kerana kemiskinan saya tapi hari ini saya syukur kerana bapak dari Malaysia datang jumpa saya dirumah yang buruk ini” itulah kurang lebih dialognya pada saya.
Saya terangkan maksud kedatangan kami, tanpa banyak soal dia terus salin pakaian terus ikut kami ke masjid, dia merupakan orang yang terakhir kami jumpa. Selama beberapa hari kami di situ hubungan kami dengan penduduk kampong rupanya dah mesra , tak kira lelaki wanita dan kanak-kanak. Mereka cukup gembira selama kami berada disitu, mereka melayan kami, berhasrat untuk memberi makan pada kami tapi mereka miskin, yang mereka mampu beri kami makan ialah Petai dan jering dan ulaman , ubi kayu itu saja tapi mereka ikhlas ikram kami.
Masa untuk kami pulang keMedan dah tiba, pada pagi hari yang kami nak berangkat ke Medan membawa jemaah tunai 40 hari keMedan seramai 11 orang menjadi kenyataan, semua penduduk datang ke masjid lelaki perempuan dan kanak2, setelah berkumpul amersab sendiri telah beri bayan hidayat dan adab perjalanan pada jemaah. Disinilah suasan sedih dan pilu menyelubungi penduduk tempatan dan ahli jemaah, semuanya menagis dan apabila amersab mula berdoa semua orang tanpa segan silu menangis berhamburan air mata sungguh2 termasuk kanak2. Apabila habis doa kami turun dari masjid untuk balik ke Medan semua penduduk berbaris untuk bersalam (wanita tidak salam dengan kami kerana amersab dah terangkan pada mereka tak boleh salam dengan lelaki bukan muhram) dengan tangisan berpanjangan.
Selesai salam kami pun berjalan sehinggalah sampai ke sekolah tadika mubaligh kristian. Sampai sahaja kami disitu, kanak2 tadika dah siap berbaris menyambut dan bersalaman dengan kami sambil menangis, kami apalagi lihat saja kanak kanak tadika ini menangis terus saja menagis lagi kerana belas kasiahan pada mereka ya g haus pada agama, jadi kami doa semuga 11 orang yng ikit kami tunai 40hari akan menjadi aset untuk usaha agama disitu.
Dicatat oleh musa di 07:39 ![]()
Ceramah/Bayan Gito Rollies
10 May 2010 Leave a Comment
in Bayan, Cerita Hidayah, Cerita Hikmah, Cerita Religi, Cerpen Religi, iman, Kebesaran Allah, Uncategorized
Hidayah Melalui Anakku..
03 May 2010 11 Comments
in Cerita Hidayah, Uncategorized
Sahibul hikayat dalam kisah ini adalah warga Madinah Nabawiyah, ia menuturkan sebagai berikut, “Aku adalah seorang pemuda umur 37 tahun, telah berkeluarga dengan beberapa anak. Aku telah banyak melakukan yang diharamkan Allah. Jarang sekali shalat berjamaah, kecuali pada momen-momen tertentu saja, sekadar formalitas di mata orang lain. Hal itu disebabkan karena aku merasa sebagai orang jahat. Setan selalu mengikatku setiap saat. Anakku berumur 7 tahun, namanya Marwan, ia tuli dan bisu, tetapi ia telah banyak mereguk nilai-nilai keimanannya dari istriku.
Pada suatu malam aku dan Marwan sedang berada di rumah, aku mulai merencanakan apa yang akan aku lakukan malam ini bersama teman-teman, dan di mana lokasinya.
Saat itu selepas shalat Maghrib, dengan bahasa isyarat anakku mengatakan sesuatu, aku sangat paham kalau dia mengingatkan diriku untuk shalat, “Mengapa Bapak tidak shalat?” begitu kira-kira yang ingin dikatakannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke langit, lagi-lagi dengan isyarat ia mengultimatum bahwa Allah akan melihatku.
Terkadang aku kepergok anakku sedang berbuat kemunkaran, aku takjub dengan bahasa isyaratnya, ia menangis di depanku, lalu aku segera merangkulnya, tapi ia lari dariku, ia segera lari ke tempat wudhu, lalu datang kembali menghampiriku seraya memberi isyarat agar jangan pergi dahulu, tiba-tiba ia shalat di depanku kemudian ia bangun dan bergegas mengambil mushaf dan meletakkannya di hadapanku, lalu ia membukanya dengan hanya sekali buka, kemudian jari telunjuknya menunjuk kepada salah satu ayat dalam surat More
Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga
27 Apr 2010 3 Comments
in Cerita Hidayah, Cerita Hikmah, Cerita Religi, Cerpen Religi, Mereka yang mendapat Hidayah
Takahashi, 5 Menit Menuju ke Surga
Oleh: Muhammad Yusuf Efendi
dakwatuna.com – Kuringgu… kuringgu …. kuringgu!!! (kring …kring …kring..). Suara telepon rumah Muhammad berbunyi nyaring.
Muhammad: Mosi mosi? (Hallo?)
Takahashi: Mosi mosi, Muhammad san imasuka ? (Apakah ada Muhammad?)
Muhammad: Haik, watashi ha Muhammad des. (Iya saya).
Takahashi: Watashi ha isuramu kyo wo benkyou sitai desuga, osiete moraemasenka? (Saya ingin belajar agama Islam, dapatkah Anda mengajarkan kepada saya?)
Muhammad: Hai, mochiron. (ya, sudah tentu.)
Percakapan pendek ini kemudian berlanjut menjadi pertemuan rutin yang dijadwalkan oleh dua manusia ini untuk belajar dan mengajar agama Islam.
Setelah beberapa bulan bersyahadat, Takahashi More
Liem Tjeng Lie : Mengembalikan Keranda ke Masjid
06 Apr 2010 2 Comments
Kisah Mualaf – Kisah Rohaniawan/Budayawan
Wednesday, 21 June 2006 05:16
Saya adalah seorang muallaf dan istri sayapun juga seorang muallaf, sebelum kami mendapatkan Hidayah masuk ke dalam agama Islam. kami adalah seorang aktivis gereja Katholik, saya dan istri adalah Ketua Mudika (Muda-Mudi Katholik) di wilayah tempat tinggal kami. Kami dipertemukan disaat kami mendapat tugas dalam pembuatan kandang Natal di Gereja.
‘c2~
Pergantian agama saya dari Katholik menjadi Islam cukup melalui pertimbangan yang cukup lama +/- 4 tahun dari tahun 1994-1998. Awal perkenalan saya dengan Islam adalah ketika saya mengembalikan keranda Kakak ipar saya ke Masjid dan setelah itu mengikut tahlilan untuk mendoakan almarhum kakak ipar saya (nb: kakak ipar saya juga muallaf, satu-satunya anggota keluarga istri saya yang masuk Islam karena pernikahannya dengan seorang gadis Minang)
‘c2~
Ketika tahlilan hari terakhir, ustadz yang memimpin doa saat itu menyampaikan sedikit wejangan dan mendoakan agar suatu saat kelak ada keluarga dari almarhum yang akan mengikuti jejak almarhum untuk menjadi muslim, untuk membantu mendoakan almarhum. Kata-kata yang diucapkan oleh Pak ustadz, menggetarkan hati saya seolah-olah kata-kata itu ditujukan ke saya, walaupun saat itu hadir anggota keluarga lain yang non muslim.
Singkat cerita, ketertarikan dan keinginan saya untuk mempelajari agama Islam semakin hari semakin bertambah, dan saya sering kali bermimpi tentang Islam dan menjadi muslim dalam mimpi. Betapa indahnya menjadi seorang muslim walaupun hanya dalam mimpi.
Suatu hari saya utarakan keinginan saya untuk masuk Islam dengan istri saya tapi istri saya malah bertanya ” kamu mau menikah lagi apa ? “, saya jelaskan bahwa keinginan saya untuk masuk islam bukan karena ingin menikah lagi, tapi karena gejolak hati yang terus mencari agama yang benar, karena saya merasakan agama katholik yang saya yakini saat itu, sudah tidak dapat menentramkan jiwa saya.
Karena istri percaya akan alasan yang saya berikan akhirnya ia berkata ” ok kalau mau masuk Islam nanti saja tunggu anak-anak sudah besar jadi tunggu pensiun dan tinggal di kampung, kalau dikucilkan keluarga sudah tidak masalah lagi “.
Saya tidak patah semangat dan saya terus berdoa agar Allah SWT menggerakan hati istri saya dan memberikan istri saya hidayah agar mau masuk kedalam agama Islam, agama yang paling sempurna dan di ridhoi oleh Allah SWT, Walaupun saya belum menjadi muslim (ketika itu), tapi setiap akhir dari doa saya selalu mengucakan salah satu dari ayat Yaasin yang jika dilafaskan berbunyi “Innama amaruhu idza araadha syaian ayakaulalahu kun fa ya kun” jika Allah SWT berkehendak terjadi maka terjadilah, tidak ada yang mustahil di hadapan Allah SWT. (mohon maaf jika salah dalam penulisan lafas dan arti harafiah salah satu ayat Yaasin di atas )
Suatu hari istri saya membaca majalah mingguan “Bintang”, di salah satu cerita dalam majalah itu ada sebuah kisah kembalinya artis Gito Rolies ke dalam Islam setelah berpuasa Nabi daud. Istri saya lalu More
Sugen Threen, Masuk Islam Setelah Jadi Pengelana Agama
17 Mar 2010 Leave a Comment
in Cerita Hidayah, Cerita Hikmah, Mereka yang mendapat Hidayah
Sugen Threen, Masuk Islam Setelah Jadi Pengelana Agama
Mimpi yang dialaminya pada suatu malam di penghujung September 2005 seakan menjadi pembuka jalan hidayah bagi Sugen Threen. “Dalam mimpi tersebut saya mengenakan pakaian gamis, bersorban lengkap dengan selendang sedang berdakwah,” ujarnya membuka pembicaraan dengan Republika, Kamis (4/3).
Setelah mendapat mimpi seperti itu, pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1969, ini lantas menemui seorang ulama kenalannya yang bermukim di daerah Cibarusah, Bekasi. Kepada ulama tersebut, Sugen menceritakan mimpi yang didapatnya. “Mimpi bagus datangnya dari Allah, mimpi buruk datangnya dari setan,” begitu jawaban sang kiai kala itu.
Mendapat jawaban seperti itu, Sugen merasa bahwa mimpi yang datang dalam tidurnya itu merupakan sebuah mimpi bagus. Ia pun teringat dengan perkataannya sendiri tatkala sang ulama memintanya untuk masuk Islam jauh sebelum ia mendapatkan mimpi itu.
Waktu itu ia berkata, “Buat apa masuk Islam, sedang orang Islam sendiri banyak yang tidak benar. Kalau Allah menyuruh secara langsung, saat itu juga saya akan masuk Islam.” Setelah melakukan diskusi dan merenung, Sugen pun dengan mantap memutuskan masuk Islam.
Peristiwa tersebut terjadi tepat 10 hari sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 2005. Di hadapan KH Abdul Haq Hamidy, sang guru spiritualnya, ia mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam. Dengan dibimbing oleh KH Abdul Haq Hamidy, ia pun mengucapkan syahadat.
Setelah resmi menjadi seorang mualaf, hari-harinya ia isi dengan belajar shalat wajib lima waktu. Semua itu, ia pelajari secara autodidak, baik melalui bukubuku agama maupun melihat secara langsung gerakan orang shalat. “Saya awalnya belajar shalat dari buku. Lalu, saya catat. Suatu hari, ketika ikut shalat berjamaah, catatan saya bawa. Sambil mengikuti shalat berjamaah, saya memerhatikan catatan tersebut. Akibatnya, jamaah di samping saya bingung dengan tindakan saya,” ujar Sugen mengingat memori masa lalunya belajar Islam.
Awalnya, Sugen adalah pemeluk Hindu. Ayahnya adalah warga Indonesia keturunan India, sementara sang ibu keturunan Arab. Meski kedua orang tuanya menikah secara Islam, namun menurutnya, dalam keseharian mereka tidak pernah menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Bahkan, dalam perjalanannya, ibunya memilih untuk menjadi pemeluk Hindu. Keyakinan yang dianut sang ibu ini pun diikuti oleh Sugen dan ketiga orang adiknya.
Ketika mengenyam pendidikan di bangku kuliah, ia sempat berpindah keyakinan ke agama Katolik. Hal ini dikarenakan ia mempunyai seorang pacar beragama Katolik. “Saya sempat dibaptis dan mendapat nama baptis Franciscus Xaverius,” ujarnya.
Namun, karena hubungannya tak direstui sang Ibu, Sugen kembali ke Hindu dan memutuskan hubungan dengan sang pacar. Oleh orang tuanya, Sugen dijodohkan dengan gadis keturunan India yang juga merupakan pemeluk Hindu.
Doa kiai Selepas menamatkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti pada 1992, Sugen melakoni sejumlah pekerjaan yang menurut istilahnya `bekerja di jalan yang keras’. Dengan postur tubuh yang tinggi besar, tak mengherankan jika ia pernah menjadi seorang More
Bayan Subuh Bayan Maulana Ahmad Lath
26 Jan 2010 3 Comments
in Bayan Subuh, Cerita Hidayah, Cerita Hikmah, iman Tags: bayan subuh
Bayan Subuh Bayan Maulana Ahmad Lath
Tulisan diambil dari : http://usahatasiman.blogspot.com/2009/12/bayan-subuh-bayan-maulana-ahmad-lath.html
Maulana Ahmad Lath
Masyeikh India
Nizammuddin, New Delhi
India
Bayan Subuh
Bayan Maulana Ahmad Lath
Assalamu alaikum Wr Wb.
Alhamdulillah, Puji dan Syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, shalawat serta salam kita panjatkankan kepada Nabi Muhammad Saw beserta keluarganya yang mulia dan para sahabat yang agung, juga kepada pengikutnya yang setia hingga akhir zaman, bahwasanya kita semuanya masih diberikan kesehatan dan kesempatan pada hari ini untuk sama-sama melaksanakan perintah-Nya dan beribadah kepada Allah SWT.
Segala sesuatu ada awalnya dan ada akhirnya, tetapi Allah adalah yang pertama yang tidak punya awal (The First that have no beginning) dan yang terakhir tetapi tidak punya pengakhiran (The last that have no end). Setiap ciptaan punya kehidupan dan kematian, tetapi Allah adalah yang hidup dan yang tidak pernah mati. Bahkan Allah yang menghidupkan, memberi kehidupan, dan yang mematikan, lalu membangkitkannya ciptaanNya.
Segala sesuatu yang mempunyai awal dan akhir telah dicatat di lauh mahfudz. Seseorang tidak dapat menghindari atau lari dari Rizki sebagaimana mereka tidak dapat lari dari kematian. Perkara ini telah Allah tetapkan di dalam Lauh Mahfudz 50.000 tahun sebelum Allah ciptakan segala sesuatu. Mati akan datang kepada kita walaupun kita dilindungi oleh benteng yang paling kuat. Dan Rizki akan datang kepada kita walaupun kita bersembunyi ditempat yang tidak diketahui manusia. Rizki dan Mati ini perkara yang tidak bisa dipisahkan. Tidak mungkin seseorang mati sebelum rizkinya habis. Mati ini akan datang setelah rizki kita habis. Tidak ada satu mahlukpun yang mati kekurangan rizki, mati dan rizki ini telah ditentukan. Mati ini ketentuan Allah, dan Rizkipun ketentuan Allah, namun Allah berikan kita asbab-asbab kematian dan rizki untuk menguji keyakinan kita.
Allah Maha mengetahui segala kejadian, dan segala kejadian ini adalah hasil kerjanya Allah Ta’ala. Seluruh Alam ini bergerak atas Qudrat dan IradahNya, Kekuasaan dan KehendakNya. Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi diluar izin Allah Ta’ala, semuanya harus ada izin Allah. Semua yang bergerak atas dasar ketaatan akan membawa Ridho Allah, dan semua yang bergerak atas kemaksiatan kepada Allah akan membawa murkanya. Semua yang terjadi dimasa lalu dan dimasa akan datang adalah perkara lama bagi Allah, bukan hal baru, semuanya telah Allah ketahui.
Pengorbanan disisi Allah tidak ada yang sia-sia, Allah akan berikan setiap pengorbanan, balasan yang baik dunia dan akherat. Allah akan gandakan setiap kebaikan yang kita buat sebanyak yang Allah mau nanti di akherat. Di dunia setiap kebendaan, harga diri, jabatan, harta yang kita korbankan untuk agama akan Allah gantikan dengan sesuatu yang lebih baik. Di dunia, Allah akan masukkan kedalam mereka Ketaqwaan dan Qonaah ketika hidup di dunia. Di dalam kehidupan mereka akan Allah hadirkan suasana sakinah penghuni surga. Di akherat mereka akan Allah berikan kenikmatan yang tidak pernah terbesit oleh hati, terlihat oleh mata, bahkan terpikirkan oleh akal. Allah akan beri kita satu amal saja dengan balasan di akherat yang luasnya 10 kali lipat melebihi luas langit dan bumi.
Di akherat nanti semua orang akan terkejut melihat semuanya yaitu kedahsyatan huru-hara di akherat. Semua mata waktu itu akan terbuka selebar-lebarnya. Ketika inilah penglihatan sebenarnya akan dibukakan Allah, segala sesuatu yang ghaib akan terlihat. Semua yang tadinya hanya terdengar sebagai cerita telah menjadi kenyataan. Ketika itu semua orang akan sepakat dan satu kata : “Ya Allah, kini kami bersaksi akan kebenaran ini, dan kami menyesal. Kembalikanlah kami kedunia, maka kami akan beramal.” Namun ketika ini segala penyesalan sudah tidak ada gunanya lagi. Semua orang akan menyematkan dirinya masing-masing. Bahkan seorang ibu yang rela mati didunia buat anaknya, tidak akan bisa atau mau menolong anaknya di akherat nanti.
Manusia ini sebenarnya buta, mereka tidak bisa melihat yang sebenarnya yaitu : kubur, mahsyar, shirot, surga, dan neraka. Padahal itu semua bukan cerita dongeng. Celakanya seorang yang buta bukan karena dia tidak bisa melihat, tetapi karena dia tidak mau mendengar orang yang bisa melihat. Sebagaimana para nabi yang telah melihat perkara yang ghaib memperingatkan kita yang buta tentang kehidupan sesudah mati. Para nabi AS ini adalah orang-orang yang telah Allah perlihatkan kehidupan sesudah mati. Bagi mereka dari kubur hingga surga dan neraka bukan lagi sebagai cerita, tetapi kenyataan yang menunggu umat manusia. Para Nabi dapat melihat hal yang sebenarnya, sedangkan kita tidak. Celakanya kita sebagai orang tidak dapat melihat adalah tidak mau mendengar kata Nabi sebagai orang yang bisa dan telah melihat.
Segala sesuatu yang kita miliki di dunia ini ada batasnya, seperti penglihatan, pendengaran, kesehatan, umur, bahkan kesenangan dan kesedihan sekalipun. Tetapi setelah masuk kubur sesuatu yang terbatas menjadi tidak terbatas seperti penglihatan, pendengaran, umur, rasa sakit dan rasa senang. Semua batas akan Allah angkat, sehingga segala yang ghaib menjadi nyata setelah kita mati.
Allah menguji kita :
1. ketika kaya dan ketika miskin
2. ketika sehat dan ketika sakit
3. Ketika senang dan ketika susah
4. Ketika disakiti dan ketika mampu menyakiti
5. Ketika kita melihat kesenangan orang dan ketika kita melihat kesusahan orang.
Semua ini adalah ujian dari Allah, dan Allah catat semua perbuatan kita ini untuk dipertanggung jawabkan di pengadilan Allah. Allah telah uji Bani Israil ketika mereka dalam keadan susah, menjadi budak dan takut kepada Firaun. Lalu Allah keluarkan mereka dari budak firaun menjadi budak Allah, dari rasa takut terhadap firaun menjadi takut kepada Allah. Kehidupan Bani Israil setelah itu membaik, tidak ada lagi rasa takut, yang ada rasa aman dan sejahtera. Namun celakanya Bani Israil ini adalah ketika mereka dalam keadaan senang ini mereka lalai dan kufur dari Nikmat Allah. Mereka durhaka kepada Allah, sehingga Allah hancurkan mereka sebagaimana Allah telah hancurkan Firaun. Allah hinakan mereka seperti Allah hinakan Firaun. Allah binasakan dan hinakan mereka yang durhaka dan kufur kepada Allah seperti Iblis, Qorun, Firaun, dan lain-lain.
Tragedi terbesar dalam kehidupan manusia adalah bukan ketika ekonomi dunia hancur, atau ketika manusia gagal pergi ke mars, atau rusaknya odzon, tetapi ketika dunia ini telah kehilangan Nabi SAW. Kehadiran Nabi SAW ini di dunia ini adalah sebagai Rahmatan Lil Alamain, Rahmat bagi seluruh Alam. Satu-satunya nama yang bersanding dengan nama Allah di arasyNya. Keberkahan beliau tidak hanya untuk manusia saja, tetapi untuk binatang, tumbuh-tumbuhan, juga para jin sekalipun. Awan selalu menaunginya dari panas matahari, batu-batuan memberi salam kepadanya, pohon-pohon membungkuk kepadanya, binatang mengadu kepadanya, asbabnya Jinpun masuk kedalam Islam. Inilah kemuliaan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat Allah untuk seluruh alam. Karena beliau derajat umat ini naik disisi Allah melebihi derajat umat-umat sebelumnya.
Seseorang ini akan dinilai oleh Allah, sejauh mana ia mampu menyempurnakan hidupnya seperti hidup Nabi SAW. Hidupnya Nabi SAW adalah kesempurnaan hidup yang telah Allah buat untuk manusia mengikutinya. Kesempurnaan Hidup yang dicontohkan oleh Nabi ini adalah Cara Hidup Islam. Islam ini adalah cara hidup rasullullah SAW selama 24 jam. Setiap perbuatan dan perkataan Nabi SAW adalah amal. Semua kehidupan selain kehidupan Nabi SAW tidak mendatangkan nilai apapun disisi Allah Ta’ala.
Ketika Nabi SAW mengutus sahabat untuk mengantar surat kepada seorang Raja untuk menawarkan Agama. Nabi SAW menulis : Lihatlah sahabatku dan segala prilakunya jika engkau ingin mempelajari Islam. Pendidikan keimanan yang Nabi SAW ajarkan kepada para sahabat hasilnya membuat kehidupan Sahabat sulit dibedakan dengan kehidupan Nabi SAW. Inilah kesempurnaan Iman para sahabat sehingga Keberkahan Hidup yang Allah berikan kepada Nabi SAW juga Allah berikan kepada sahabat RA. Sahabat mengetahui tingginya nilai Iman dan Amal, sehingga segala sesuatu yang Nabi SAW lakukan, pasti mereka lakukan. Apapun yang dilakukan Nabi SAW menjadi agama dan mendatangkan nilai disisi Allah.
Nabi SAW bersabda, mahfum :
“ Berimanlah kamu seperti sahabat-sahabatku beriman.”
(Al Hadits)
Sahabat mencintai Nabi SAW melebihi cinta mereka kepada anaknya, ayahnya, istrinya, hartanya, bahkan jiwa mereka sekalipun. Mereka siap tidak mengakui anak mereka, orang tua mereka, harta mereka, kerabat mereka, jika itu semua dapat menjauhkan mereka dari nabi SAW. Seorang sahabat, Zaid RA, hendak dijemput oleh ayahnya yang telah terpisah bertahun-tahun. Tetapi Zaid RA menolaknya karena ia ingin selalu dekat dengan Nabi SAW. Abu Bakar RA pernah berkata kepada anaknya bahwa dia rela membunuh anaknya yang belum masuk islam di perang badr karena dia lebih mencintai Allah dan RasulNya. Sahabat tidak masalah hidup tidak berjumpa anak, istri, harta, dan orang tua mereka ketika hijrah ke madinah, namun sahabat RA tidurpun tidak bisa sebelum berjumpa dengan Nabi SAW.
Nabi SAW bersabda mahfum :
“Tidak Sempurna Iman kalian sebelum kalian mencintaiku melebihi hal-hal yang kalian cintai.”
Seseorang datang kepada Nabi SAW dan berkata, “Saya ini benar-benar Mukmin (beriman).” Lalu Nabi SAW berkata, “Katakanlah saya ini muslim (Islam), bukan mengatakan saya ini mukmin (beriman).” Islam ini adalah cara hidup, sedangkan Iman adalah keyakinan yang sempurna dan mutlak kepada Allah. Jika kita sudah hidup dengan keyakinan yang sempurna maka hidup kita akan menjadi kehidupan yang penuh dengan karomah seperti kehidupan sahabat :
1. Suatu ketika Khalid bin Walid RA diminta untuk meminum Racun jika dia benar-benar yakin kepada Allah. Lalu Khalid RA meminum racun itu seperti dia meminum air putih. Bukannya mati setelah meminum racun, tatapi asbab meminum racun itu penyakit yang dideritanya malah hilang.
2. Sahabat Saad RA melintasi sungai dengan tentaranya tanpa air menyentuh telapak kaki kuda.
3. Sahabat hanya dengan sholat 2 rakaat dapat menyebabkan orang yang mati menjadi hidup kembali.
Ini semua dapat terjadi karena keimanan sahabat yang sempurna kepada Allah Ta’ala. Ketika seseorang menginjak semut apakah dia akan takut lalu menjerit ? tentu tidak karena semut itu kecil dimatanya. Inilah yang dilihat sahabat ketika menghadapi masalah seperti gempa, lahar gunung, tentara musuh, singa, racun, dan lain-lain. Mereka melihat masalah ini seperti mereka melihat semut kecil tadi. Semua masalah adalah mahluk Allah, mahluk tidak perlu ditakuti. Mahluk tidak dapat menyakiti tanpa seizin Allah.
Kelemahan dalam kehidupan manusia terjadi karena manusia tidak percaya dan tidak yakin pada Allah. Ini hanya menimbulkan kerugian dalam kehidupan mereka sendiri dan kehidupan setelah mati. Segala sesuatu dalam kehidupan manusia menjadi tidak beres bahkan mendatangkan mudharat kepada yang lain asbab manusia tidak yakin pada Allah. Jika semua manusia taat dan yakin pada Allah, maka tidak akan terjadi kerusakan dan kesedihan di dunia ini. Kerusakan dan penderitaan yang dihadapi manusia terjadi hanya karena mereka tidak mau taat dengan apa yang Allah bilang.
Agama akan datang dalam kehidupan kita jika kita ada fikir dan risau terhadap agama. Sebagaimana Agama datang kepada Ibrahim AS setelah beliau ada fikir atas agama, fikir atas penciptaan dan penciptanya. Agama turun di mekah setelah Nabi SAW ada fikir dan risau atas agama dan umat. Jika kita mempunyai fikir dan risau seperti Nabi SAW, maka kehidupan kita akan terbentuk seperti kehidupan Nabi SAW. Namun untuk dapat mendapatkan fikir dan risau ini diperlukan latihan yang terus menerus.
Kita harus bisa merubah keyakinan kita terhadap kebendaan menjadi yakin pada Allah dan Amal. Kebendaan yang kita miliki ini tidak akan pernah dapat memberikan kebahagiaan atau manfaat kepada kita, selain dari yang Allah telah tetapkan. Seluruh kebahagiaan ini merupakan pemberian dari Allah dan karena IradahNya, keinginanNya. Jika kita mau bahagia, berdo’a, minta saja pada Allah. Setelah berdo’a baru kita tunaikan hak dari berdo’a yaitu dengan melengkapi asbab-asbabnya.
Sahabat dahulu orang yang jahil, namun karena mereka berkorban banyak untuk agama, sehingga Allah ridho pada mereka dan Allah ampuni dosa-dosa mereka. Penting kita tingkatkan perngorbanan kita sehingga sampai kepada level pengorbanan para sahabat seperti Bilal RA, Kabab RA, Umair RA, dan lain-lain. Sahabat sampai disiksa karena mereka mempertahankan keyakinannya, sedangkan hari ini kita tidak ada yang menyiksa malah meninggalkan keyakinan kita. Inilah perbedaan keadaan kita sekarang dengan keadaan sahabat dulu. Allah akan sudi mengampuni kita dan mengangkat derajat kita di akherat, jika kita mau berkorban demi memperjuangkan agama Allah. Asbab pengorbanan dan ketabahan sahabat menghadapi penderitaan sehingga agama dapat wujud dalam diri mereka, keluarga mereka, dan umat di seluruh alam. Perlu kita tanamkan semangat dalam diri kita untuk melakukan pengorbanan yang sama dengan sahabat dalam mempertahankan agama Allah. Kemuliaan dan Kesuksesan yang di berikan Allah kepada sahabat RA akan di berikan kepada umat ini jika umat ini mau melakukan pengorbanan seperti yang dilakukan oleh para Sahabat RA.
Sahabat dahulu tidak pernah mencari alasan untuk meninggalkan ketaatan kepada Allah. Bahkan dalam keadaan beralasan sekalipun, seperti ada udzur sakit sekalipun, sahabat tidak pernah meninggalkan ketaatan kepada Allah. Hari ini umat diajak untuk taat malah mencari alasan untuk meninggalkan ketaatan. Suatu hari ada jemaah yang pergi ke daerah orang miskin. Lalu ada seorang miskin yang tidak pernah ke mesjid, di datangi oleh jemaah. Si miskin minta di do’akan agar ia dapat kerja, sehingga ia bisa ke mesjid. Sebab kemiskinannya telah menyebabkan dia sibuk mencari kerja dan menjaga anak. Ia berkata, “Saya tidak ada waktu ke mesjid sedangkan keluarga saya hidup kelaparan !” Lalu seminggu kemudian, ada pabrik buka di daerah si miskin tadi. Akhirnya si miskin tadi bisa mendapat pekerjaan. Selang berapa lama, akhirnya ada rombongan berikutnya masuk ke daerah si miskin tadi. Namun kali ini setelah di ajak untuk ke mesjid, dia berkata, ”Saya tidak ada waktu untuk ke mesjid karena saya sibuk kerja di pabrik dan mengurus keluarga.” Lalu jemaah berkata, “Kalau begitu saya do’akan tuan agar bisa punya waktu untuk ke mesjid.” Namun orang itu malah berkata, “Jangan pabrik itu baru buka, kalau kamu do’akan biar saya punya waktu luang berarti pabrik itu harus tutup. Kalau pabrik tutup saya dan keluarga saya mau makan pakai apa?” Hari ini umat di waktu yang luang dan waktu yang sempit tetap tidak bisa taat kepada Allah. Mau kehidupannya senang ataupun susah, tetap tidak dapat memberikan waktunya untuk Allah. Inilah umat saat ini, bisanya hanya mencari alasan untuk tidak taat kepada Allah. Sungguh beda kehidupan kita dengan sahabat RA.
Allah telah berikan agama kepada manusia untuk membedakan mereka dengan hewan. Jika kita lihat kehidupan hewan ini adalah kawin, melahirkan, makan, minum, kerja, cari makan, lalu mati. Tanpa agama, maka kehidupan kita tidak ada bedanya dengan kehidupan hewan yang hina dan rendah. Begitulah Allah memandang manusia yang tidak mau taat pada Allah, seperti manusia melihat binatang. Kehidupan yang tidak ada agama di mata Allah adalah seperti kehidupan hewan yang hina di mata manusia. Kini kehidupan manusia sudah seperti kehidupan binatang karena jauhnya kehidupan mereka dari agama. Bahkan kini manusia asbab mereka jauh dari agama, hal-hal yang binatang tidak mau lakukan malah dilakukan oleh manusia. Seperti : orang tua membunuh anaknya dengan aborsi atau anak membunuh orang tua demi warisan. Padahal hewan pun masih bisa menjaga kasih sayang di antara keluarganya. Tanpa Agama kehidupan manusia bisa jadi lebih rendah dibanding kehidupan binatang.
Agama itu adalah cara hidup manusia yang telah Allah siapkan untuk di ikuti. Allah akan berikan kepada orang yang taat terhadap aturanNya, kebaikan-kebaikan dunia dan akherat. Di balik perintah Allah ini ada janji-janji Allah dan ada pertolongan dari Allah. Janji Allah dalam setiap perintahNya ini lebih pasti dibandingkan dengan janjinya seorang manusia. Allah sudah tetapkan cara hidup nabi SAW ini sebagai satu-satunya cara yang dapat mendatangkan kebahagiaan dan ketenangan hidup di dunia dan di akherat. Segala prilaku nabi, pekerjaan nabi, pola hidup nabi SAW telah Allah jadikan sebagai tolak ukur amal kebaikan yang mendatangkan pertolongan Allah. Sudah menjadi ketetapan Allah, selain dari kehidupan Nabi SAW hanya akan mendatangkan kesusahan dan penderitaan yang tidak terbatas. Semua cara hidup selain dari cara hidup Nabi SAW akan mengantarkan manusia kepada kebinasaan. Satu-satunya jalan hidup yang mendatangkan nilai disisi Allah hanya jalan hidup nabi SAW. Inilah yang di ikuti oleh para sahabat, dan inilah yang harus kita ikuti. Jika kita mau mengikuti kehidupan Nabi dan para Sahabat maka nanti Allah akan bangkitkan kita bersama mereka, bukannya bersama Firaun, Qorun, atau Hamman.
Dalam hadits mahfum :
“Barang siapa yang mengikuti kehidupan suatu kaum maka Allah akan bangkitkan dia bersama kaum yang di ikuti tersebut” ( Al Hadits )
Akherat adalah kehidupan yang terbentuk dari amal yang kita lakukan di dunia. Apakah orang itu ketika hidup di dunia memilih hidup cara kekasih Allah atau cara Musuh Allah. Jalan kehidupan Nabi SAW adalah satu-satunya jalan hidup yang dapat menghantarkan kita kepada SurgaNya Allah Ta’ala. Inilah yang namanya jalan keselamatan atau Darrussalam. Para Nabi dan sahabat mengajak manusia kepada jalan keselamatan, sedangkan musuh-musuh nabi mengajak manusia kepada jalan kebinasaan. Allah beri kita kebebasan untuk memilih jalan hidup, jalan mana yang mau kita ambil. Salah ambil keputusan akibatnya adalah kesengsaraan yang tidak ada batasnya. Seseorang menjelang sakratul maut, maka Allah akan tampakkan kepadanya Surga dan Neraka sebagai tempat dia kembali. Kehidupan yang wujud amal-amal agama akan mengantarkan seseorang ke surgaNya Allah. Kehidupan yang tidak wujud amal-amal agama akan mengantarkan orang tersebut ke Neraka JahannamNya Allah.
Iman ini mempunyai rasa, sama seperti rasa buah-buahan, ada yang manis, ada yang hambar, dan ada yang asam. Namun Iman ini hanya bisa dirasakan oleh kita sendiri bukan orang lain. Ketika seseorang suka terhadap suatu makanan, tanpa disuruhpun orang tersebut akan memakannya lagi dan lagi. Begitu juga orang yang merasakan manisnya usaha Iman. Iman ini akan terasa manis sejauh mana kita mengenal Allah. Di mulai dari Allah adalah Rabb kita, yaitu pemelihara tunggal. Jika kita telah mengenal dan meyakini bahwa Allah adalah Rabb kita, maka kita akan menyibukkan diri kita hanya dengan ketaatan kepada Allah. Namun hari ini asbab manusia tidak yakin Allah sebagai pemelihara mereka, yang rizkinya adalah Allah yang menanggung, sehingga hari ini banyak manusia yang lari mencari pertolongan dari selain Allah. Rizki manusia ini seluruhnya datangnya dari Allah, berapa jumlahnya dan kapan habisnya ini hanya Allah yang tau. Rizki ini tidak harus berupa makanan dan kebendaan, tetapi bisa juga berupa ketaatan. Nanti akan datang suatu masa dimana sengan dzikir saja Allah akan berikan orang itu kekenyangan.
Jika Iman lemah maka ibadah-ibadah lain akan lemah, dan do’apun akan melemah. Do’a kita akan mempunyai kekuatan jika Iman kita kuat. Iman yang kuat akan membuat do’a menjadi efektif. Saat ini yang paling penting buat kita adalah bagaimana selama 24 jam ini kita pelihara dan tingkatkan Iman kita. Jadikan usaha atas Iman ini seperti kita menghirup udara, tidak mungkin kita stop menghirup udara. Jika kita keluar 4 bulan setiap tahun, itu baru 1/3 dari udara yang kita perlukan. Mengapa hari ini kita tidak bisa menikmati yang namanya Iman, ini karena kita tidak ada usaha atas Iman. Rasa dari suatu usaha akan timbul dari pengorbanan kita atas usaha tersebut.
Iman akan terasa manis ketika kita mengetahui dan mengenal Allah sebagai Rabb kita. Ketika ini kita akan lupakan pekerjaan kita, kita akan lupakan, perdagangan kita, kita akan lupakan pertanian kita, yang kita mau lakukan hanya menyenangkan Allah. Kita harus mempunyai keyakinan bahwa Allah adalah Rabb kita satu-satunya, pemelihara tunggal. Dari yakin yang kuat akan menghasilkan amal yang kuat. Amal yang berkeyakinan inilah yang Allah mau. Sejauh mana kita menyenangkan tuan kita, sejauh itu tuan kita akan memelihara kita dengan baik, seperti inilah antara Allah dengan hambanya. Jika Allah tunjukkan dirinya pada kita, maka segalanya akan berubah bagi kita di dunia ini. Kita akan melupakan dunia dan hanya mengabdi pada Allah. Mudah saja bagi Allah membuat manusia ini beriman, tetapi yang Allah mau adalah melihat manusia ini berkorban untuk perkara Iman. Allah sudah punya malaikat sebagai ahli ibadah yang dapat mengetahui langsung Allah sebagai Rabb seluruh alam. Inilah yang menyebabkan iman manusia lebih afdhol dibanding iman para malaikat.
Manusia mempunyai tradisi, namun jika agama sudah siap kita ambil sebagai pedoman hidup, maka yang namanya tradisi ini harus ditinggalkan. Dan Agama juga bukan tradisi atau sekedar ibadah-ibadah formalitas. Kita membuat agama menjadi tradisi dan formalitas karena kita tidak mengenal agama kita sendiri. Agama ini adalah solusi bagi seluruh masalah kita jika kita yakini dan kita jalani dengan benar. Masalahnya hari ini karena kelemahan Iman kita, sehingga kita jalani agama ini sebatas rutinitas ibadah dan formalitas. Untuk dapat menghilangkan tradisi adat istiadat dan ibadah formalitas, kita harus yakin dulu pada perintah Allah dan apa yang diucapkan oleh Nabi SAW. Jika kita tidak mau meninggalkan tradisi demi perintah Allah dan sunnah Nabi SAW maka adzab Allah akan turun. Masalah akan datang jika kita tinggalkan perintah Allah dan Sunnah Nabi SAW. Sedangkan adzab Allah ini terjadi di dunia dan di akherat, di duniapun Allah akan adzab kita jika kita tidak mau taat.
Segala sesuatu yang kita lakukan ini di dunia telah tercatat oleh malaikat “Kiroman Katibin”, Malaikat pencatat. Ini adalah suatu kenyataan yang tidak bisa di pungkiri oleh orang yang mempunyai Iman. Semua alat tubuh kita dari tangan, kaki, mata, telinga, perut, hati, dan fikiran adalah alat untuk mendapatkan Iman. Jika ini tidak kita gunakan untuk Allah, maka kita akn gunakan untuk selain Allah, dan ini akan Allah hisab. Semuanya akan menjadi saksi atas amal baik dan amal buruk yang kita kerjakan. Peralatan tubuh ini dapat menjadi alat untuk mendapatkan Iman atau merusak Iman, semuanya tergantung pada kita. Kita akan di hisab oleh Allah untuk setiap waktu yang di gunakan, nikmat yang telah di berikan,amal yang telah di kerjakan, dan keburukan yang telah kita lakukan. Segala hasil yang kita terima di kehidupan Akherat akan dinilai dari kebaikan dan keburukan yang kita lakukan di dunia.
Perbedaan antara orang kafir dan orang beriman terletak pada keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati. Hari ini kenapa kehidupan kita tidak jauh seperti orang kafir. Ini karena keyakinan kita terhadap kehidupan sesudah mati sama seperti mereka. Kalau kita mempunyai keyakinan terhadap kehidupan sesudah mati, maka seluruh nikmat dunia kita akan terasa hambar dan kita hanya akan memikirkan kehidupan akherat kita saja. Ketika kita berikrar :
1. Rodhi tubillah hi Rabba :
Mengakui Allah sebagai Rabb kita
2. Wabil Islami Dina :
Mengakui Islam sebagai Cara Hidup kita
3. Wabil Muhammaddiya wa Rasulla :
Mengakui Muhammad sebagai Rasul
4. Wabil Qur’anni Imama wa Hakama :
Mengakui Qur’an sebagai Imam dan sumber hukum
Jika ini sudah kita ikrarkan maka sudah seharusnya tugas kita tidak lain adalah menyenangkan Allah semata. Segala Imbalan yang Allah berikan kepada kita di dunia dan di akherat hanya bisa di dapat dengan Agama. Sejauh mana kita menjalankan ini secara sempurna, sejauh itu Allah akan memberikan kepada kita imbalan di dunia dan di akherat. Nabi SAW telah memberikan hidupnya selama 24 jam kepada manusia untuk di ikuti, dan tidak ada yang dirahasiakan Nabi SAW kepada manusia.
Dengan Dakwah maka akan tercipta suasana Imaniat dan suasana Amaliat. Jika suasana Agama terbentuk maka Iman kita akan terjaga dan terpelihara. Suasana Amal Madinah adalah salah satu sarana yang menyebabkan Iman para sahabat terpelihara dan terjaga. Sahabat berkata “Tuhanku adalah tuhan yang satu yaitu Allah dan Nabiku adalah Muhammad Rasullullah. Tiada cara hidup lain yang saya ikuti selain cara hidup Rasullullah SAW. Hidupku hanya untuk Allah dan RasulNya semata. Seluruh yang aku miliki hanya untuk Allah dan Rasulnya semata.” Inilah keyakinan sahabat, sehingga berbagai penderitaan dan cobaan sanggup mereka lewati.
Iman sahabat adalah bukti Iman dan kehidupan yang sempurna. Kehidupan Nabi SAW adalah contoh kehidupan yang sempurna disisi Allah. Sahabat semuanya dapat mengikuti kehidupan yang telah di contohkan oleh Nabi SAW. Para kaum kafirin dengan siksaan yang telah mereka berikan kepada sahabat, berharap agar sahabat mau meninggalkan keimanan mereka. Namun apa yang terjadi, justru asbab penyiksaan para kaum kafirin, Iman sahabat jadi meningkat, tidak berkurang sedikitpun. Bilal RA pernah di tanya kapan masa dia paling bahagia, dia menjawab, “Ketika aku disiksa oleh majikanku Abu Jahal ketika itu, di panggang dibawah terik matahari dan di tindih dengan batu yang besarnya melebihi bobotku.” Inilah asbab keimanan sahabat yaitu dengan pengorbanan dan bersusah payah untuk Iman.
Sahabat disiksa karena melakukan usaha atas Iman. Sahabat juga berdagang, hanya saja perdagangan mereka sering diganggu oleh kaum kafir asbab usaha dakwah yang mereka lakukan. Inilah pengorbanan sahabat buat agama. Untuk perkara ini kita perlu siapkan diri kita berkorban seperti Sahabat RA. Tahap pertama adalah belajar berkorban keluar di jalan Allah untuk mendapatkan Iman.
Penulis : Buya Atha’illah
Bahtera Nabi Nuh
17 Sep 2009 Leave a Comment
in Cerita Hidayah, Cerita Hikmah, Cerita Religi, Cerpen Religi, Kisah Para Nabi
Dakwatuna.com – Agar misi dakwah ilallah berjalan dengan lancar dan kontinu, Allah swt. membekali para nabi dan rasul dengan salah satu sifat asasi, yaitu sabar. Sabar dalam terus mengajak kebaikan, sabar dalam menghadapi hinaan, tegar dalam menghadapi penentangan, sebagaimana mereka juga dibekali dengan sifat bijaksana dan santun. Dengan demikian, tidak ada lagi hujjah atau udzur bagi orang kafir dengan menyalahkan Allah swt. di yaumil akhir kelak setelah datangnya para nabi dan rasul di tengah-tengah mereka.
Membuktikan Kesabaran
Adalah Nabi Nuh alaihissalam, salah satu dari rasul yang memiliki sebutan ulul azmi, yang memiliki ketegaran. Ia mendakwahi kaumnya selama sembilan ratus lima puluh tahun. Subhanallah, waktu yang tidak sebentar. Ia sabar menghadapi celaan kaumnya, ia tegar menghadapi penentangan mereka. Sisi lain, ia sangat menghendaki kebaikan dan keimanan kaumnya. Akan tetapi mereka bukannya menerima seruan dakwah Nabi Nuh, justru kian hari mereka kian menolak dan menentang.
Perihal penolakan kaumnya, Nabi Nuh alaihissalam mengadu kepada Allah swt. Ia merasa tidak ada peluang kebaikan dan keimanan lagi dari kaumnya. Akhirnya Allah swt. memberitahu Nuh bahwa kaumnya tidak akan ada yang mau beriman lagi.
“Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja). Karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.” (Huud: 36)
Ketika mengetahui bahwa Allah swt. telah memutuskan kalimat-Nya bahwa tidak akan ada yang beriman seorang pun dari mereka setelah ini, Allah telah menutup kalbu mereka dan menguncinya dengan gembok yang kuat, Nabi Nuh alaihissalam berkata, “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan kecuali anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (Nuh: 26-27)
Allah swt. mengabulkan pengaduan Nabi Nuh dan memerintahkannya untuk bersiap-siap mengadakan penyelamatan bila tiba saatnya. “Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim itu; Sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.” (Huud: 37)
Melaksanakan Perintah Tanpa Ragu
Nabi Nuh menjauh dari pusat kota untuk membuat More














Recent Comments