Al Hikam | Lebih merisaukan keridhoan Allah ketimbang Makhluk

Apabila menyakitkan hatimu ( menyedihkan hatimu ) tidak menghadapnya orang – orang kepadamu, atau celaan orang – orang kepadamu, maka selidikilah apa yang diketahui Allah dan perbuatanmu ( maka koreksilah keadaan diri yang sebenarnya menurut apa yang diketahui Allah ), maka apabila engkau belum puas dengan apa yang sebenarnya telah diketahui Allah itu, maka bala yang menimpamu karena tidak puas terhadap yang diketahui oleh Allah itu, lebih besar dari bala sekedar diganggu manusia.

Seharusnya seorang hamba hanya memperhatikan ridho dan murka Tuhannya saja, tidak gembira kecuali jika di ridhoi oleh Allah dan tidak sedih kecuali jika dimurkai Allah, adapun puji dan celaan orang, maka tidak harus dihiraukan, sebab jika engkau disisi Allah baik, maka biarpun dicela oleh semua manusia, niscaya engkau tetap baik dan untung, sebaliknya jika engkau dipuji – puji oleh semua manusia, maka engkau tetap tersiksa dan binasa. Contohnya para Nabi, Rasul dan Wali mereka tidak selamat dari makian orang. Karena itu kewajibanmu ialah membereskan dan memperbaiki hubunganmu dengan Allah .

Al Hikam ( 146 )|Tanda Masuknya Cahaya Keimanan

Andaikan Nur keyakinan itu telah menerangi hatimu, niscaya engkau dapat melihat akhirat itu lebuh dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki kepadanya, juga niscaya engkau akan dapat melihat segala kecantikan dunia ini, telah diliputi kesuraman kerusakan yang bakal menghinggapinya.

Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya nur cahaya jika masuk dalam hati, terbuka lapanglah dada untuknya. Ketika nabi SAW ditanya : Ya Rasulullah apakah yang demikian itu ada tandanya?
Jawab Nabi SAW : Ya, yaitu merenggangkan diri dari dunia, dan condong pada akherat yang kekal, dan bersiap siap untuk menghadapi maut sebelum tibanya.

Anas RA berkata : Ketika Rasulullah SAW sedang berjalan bejumpa dengan seorang pemuda dari sahabat anshar, Pada suatu hari, ketika Nabi Muhammad berjalan di kota Madinah, beliau berselisih dengan seorang sahabat yang bernama Harithah bin Syuraqah.

“Harithah! Bagaimana keadaanmu pagi ini?” beliau bertanya.
jawabnya: Saya kini menjadi seorang mu’min yang sungguh – sungguh.

Rasulullah berkata : Hai Haritsah perhatikan perkataanmu, sebab tiap kata itu harus ada bukti hakikinya. Maka berkata haritsah : Ya Rasulullah jiwaku jemu dari dunia , sehingga saya bangun malam dan puasa siang hari, kini seolah – olah aku berhadapan dengan arsy, dan melihat ahli sorga sedang ziarah menziarahi satu sama lain, sebagaimana seolah – olah aku melihat ahli neraka sedang menjerit – jerit di dalamnya. Bersabda Nabi SAW: Engkau telah melihat, maka tetapkanlah ( jangan berubah ). Seorang yang telah diberi cahaya iman dalam hatinya. Haritsah berkata: Ya Rasulullah do’akan aku mati syahid, maka nabi SAW berdo’a untuknya.

Dan pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad ( hai kuda Allah bersegeralah ), maka dia yang pertama menyambutnya dan pertama kali mati Syahid.

Dan ketika ibunya mendengar berita bahwa anaknya telah mati syahid, ia datang bertanya kepada Rasulullah.

“Ya Rasulullah , beritakan kepadaku tentang putraku haritsah putraku, jika ia dia berada di sorga aku tidak akan menangis atau menyesal, tetapi jika lain dari itu aku akan menangis selama hidupku di dunia!

“Wahai ibu Harithah! Bersabarlah, sesungguhnya anakmu terbunuh dijalan Allah,” jawab Nabi Muhammad.

Ibunya mengulangi pertanyaan tersebut dan dijawab dengan jawapan yang sama. Untuk kali ketiga, ibu Haritsah bertanya, “Ya Rasulallah, aku tahu kalau anakku terbunuh di jalan Allah kerana itu yang diinginkannya. Tetapi dimana anakku berada, di syurga atau neraka?”

“Wahai ibu Haritsah, apakah engkau tidak tahu? Sesungguhnya syurga itu bukan hanya satu, tetapi banyak sekali tingkatannya. Dan sesungguhnya anakmu telah mencapai syurga Firdaus, iaitu syurga yang paling tinggi,” jawab Nabi Muhammad.

Ibu Harithah merasa gembira mendengarkannya. Ahli sejarah mengatakan bahawa ketika Harithah terbunuh di jalan Allah, dia berusia 17 tahun.

Diriwayatkan dari anas r.a, ia berkata: “Sesungguhnya Muadz bin Jabbal pernah menghadap Rasûlullâh SAW ketika beliau sedang menangis. Lalu Rasûlullâh bertanya kepadanya:”Bagaimana keadaanmu hari ini, wahai Muadz?” Muadz menjawab:”Saya sebagai mu’min yang benar”. Nabi bersabda: “Setiap perkataan itu harus dibuktikan, maka apakah bukti perkataanmu itu?” Muadz menjawab:” Wahai Nabiyullâh, tiadalah aku memasuki waktu pagi melainkan aku mengira bahwa aku tidak mendapati sore hari. Dan bila aku berada pada waktu sore aku mengira bahwa usiaku tidak akan sampai pada pagi hari. Dan tidaklah aku melangkahkan kakiku selangkah melainkan aku mengira bahwa aku sudah tidak dapat melanjutkan langkah berikutnya. Terbayang olehku seolah-olah aku melihat setiap ummat berlutut dan dipanggil untuk menerima buku catatan amal masing-masing dan mereka disertai oleh Nabinya dan berhala-berhala yang disembahnnya selain Allâh, dan seolah-olah aku melihat siksaan ahli neraka dan pahala ahli syurga.” Rasûlullâh SAW bersabda, “Engkau telah mengerti , karena itu lazimlah hal itu.”

Al Hikam 90 | Hikmah dibalik adanya suka dan duka

Allah melapangkan bagimu, supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan, dan Allah menyempitkan bagimu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah.

Allah merobah – robah keadaanmu dari sedih ke gembira, dari sehat ke sakit, dari kaya ke miskin, dari terang ke gela, supaya mengerti bahwa engkau tidak terbebas dari hukum ketentuanNya, supaya engkau selalu berdiri di atas landasan Laa Haula Wala Quwwata Illa Billah. ( Tidak ada daya untuk mengelakkan sesuatu dan tidak ada kekuatan untuk melaksanakan sesuatu, kecuali dengan pertolongan Allah ta’ala.


Firman Allah :

Supaya kamu tidak sedih terhadap apa yang terlepas dari tanganmu, dan tidak gembira atas apa yang diberikan kepadamu.

Al Hikam

Tutup Allah itu terbagi dua, Tertutup dari berbuat maksiat ( dosa ) dan tertutup dalam perbuatan maksiat (dosa). Manusia pada umumnya minta kepada Allah supaya ditutupi dalan perbuatan dosa karena kuatir jatuh kedudukannya didalam pandangan manusia , tetapi orang – orang yang khusus minta kepada Allah supaya ditutupi dari maksiat (dosa), jangan sampai berbuat dosa karena takut jatuh dari pandangan Allah.


“Mereka sembunyi dari sesama manusia, tetapi tidak sembunyi dari Allah yang selalu beserta mereka”

“Mereka orang munafik bermuka muka kepada orang ( riyaa’) dan tiada ingat dzikir kepada Allah kecuali sedikit sekali”


Rasulullah bersabda : ” Kelak pada hari kiamat ada beberapa orang yang dibawa ke sorga , tetapi setelah nelihat segala kesenangan yang tersedia dan merasakan hawa enaknya, tiba -tiba diperintahkan menghalaukan mereka dari sorga, sebab mereka tidak ada bagian dalam sorga itu, maka kembalilah mereka dengan penuh penyesalan. Sehingga mereka berkata: Ya Tuhan andaikan Engkau memasukan kami ke neraka sebelum memperlihatkan kepada kami Sorga dan segala yang disediakan untuk para waliMu, niscaya akan lebih ringan bagi kani.
Jawab Tuhan : memang kami sengaja yang demikian karena kamu dahulu jika sendirian berbuat segala dosa – dsa yang besar, tetapi jika bertemu dengan orang – orang berlagak khusuk bermuka muka pada manusia berlawanan dengan apa yang ada dalan hatimu, kamu takut kepada sesama manusia dan tidak takut kepadaKu, mengagungkan sesama manusia tetapi tidak mengagumkan Aku, condong kepada manusia tetapi tidak condong kepada Akum maka hari ini Aku rasakan siksaku yang sepedih-pedihnya, disamping diharamkan atas kamu segala rahmatku.

Semoga bisa menjadi peringatan buat kita bersama, semoga Allah membimbing kita dan menurunkan rahmat dan hidayahNya kepada kita semua.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.