Dewan Da’wah Luncurkan Program “Sejuta Umat Tak Cukup Satu Da’i”

Dewan Da’wah Luncurkan Program “Sejuta Umat Tak Cukup Satu Da’i”

Kamis, 26 Mei 2011

Hidayatullah.com–Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia meluncurkan program “Sejuta Umat Tak Cukup Satu Da’i” di Aula Masjid al-Furqon, Jakarta. Dalam acara yang digelar hari Rabu 25 Mei 2011 ini dilepas juga sebanyak 18 orang da’i yang akan ditugaskan selama satu tahun ke berbagai pelosok di tanah air.

Program “Sejuta Umat Tak Cukup Satu Da’i” adalah usaha Dewan Da’wah untuk mengirimkan da’i ke daerah pelosok di seluruh tanah air. Sebagaimana yang dijelaskan Ustadz Syuhada Bahri dalam tausyiahnya, program pengiriman da’i ini sebetulnya sudah dijalankan sejak pertama kali Dewan Da’wah didirikan, dan hingga kini Dewan Da’wah telah menyebar lebih dari 300 orang da’i ke seluruh pelosok tanah air. Tahun ini Dewan Da’wah kembali memberangkatkan 18 orang da’i alumni Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir untuk bertugas di pedalaman.

Di antara mereka ada yang ditugaskan di Pidie-NAD, Mentawai, Kepulauan Riau, Pulau Seram, Atafufu-NTT, Bolaang Mongondow, serta Wasior dan Raja Ampat-Papua.

Ketua Umum Dewan Da’wah ini menjelaskan bahwa program pengiriman da’i dipilih karena Dewan Da’wah meyakini bahwa satu-satunya gerakan yang dapat menyelamatkan Indonesia dari kehancuran hanyalah gerakan da’wah. Karena itu diperlukan sebanyak mungkin da’i untuk membina umat Islam di seluruh Indonesia sebab masih banyak umat Islam yang belum terbina sama sekali.

Sebagai contoh apa yang dipaparkan Ustadz Yusman Dawolo dalam acara ini. Ustadz asal Nias yang bari saja kembali dari tugas da’wah selama setahun di pedalaman Pulau Seram, Maluku, ini ditugaskan di sebuah desa berpenduduk 3.000 orang.

Seluruhnya mualaf yang masuk Islam setelah terjadi kerusuhan Ambon tahun 1999. Setelah 10 tahun masuk Islam mereka masih belum bisa shalat dan membaca al-Quran karena belum ada yang membina. Maka kedatangan Ustadz Yusman dan temannya sangat bermanfaat bagi mereka. Apa yang dialami Ustadz Yusman hanyalah satu contoh, di daerah lain masih banyak umat Islam seperti itu. Maka pengiriman da’i menjadi satu-satunya solusi.*/Abu Dzakir

Rep: CR2
Red: Cholis Akbar

Melalui Anak Kecil Penyemir Sepatu, Hidayah Datang pada Idris Tawfiq

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON – Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang pastor gereja Katholik Roma di Inggris. Mulanya, ia memiliki pandangan negatif terhadap Islam. Baginya saat itu, Islam hanya identik dengan terorisme, potong tangan, diskriminatif terhadap perempuan, dan lain sebagainya. Namun, pandangan itu mulai berubah, ketika ia melakukan kunjungan ke Mesir.

Di negeri Piramida itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka. Berikut pengakuan Idris tentang keputusannya memilih Islam: Apa yang membuat Anda tertarik pada Islam? Perkenalan saya dengan Islam datang dari seorang anak kecil di jalanan di Kairo, membersihkan sepatu dengan sandal jepit di kakinya. Dia melihat kulit putih saya dan More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.