studi di Madinatul Munawwarah, Arab Saudi.

Didapat dari saudara Galih

Assalamu’alaikum,

Mudah2an kita semua senantiasa berada dalam ketaatan kepada Allah SWT. dan Rasul-Nya. Amiin.

Beberapa teman2 dari Dago (Bandung) mungkin sudah mengetahui informasi dari ustadz Miftah yang baru saja pulang dari studi di Madinatul Munawwarah, Arab Saudi.

Laporan singkatnya:
———————–

Sebagian asatidz (guru-guru) dia di Madinah memang ulama2 salafy (notabene bermadzhab Hambali), jadi tidak betul kalau salafy itu tidak bermadzhab. Memang kalau dari ustadz2 salafy lokal di Indonesia kebanyakan mengaku tidak bermadzhab, padahal ulama2 Salafy di Saudi berpegang pada madzhab Hambali.

Begitupun berkaitan dengan taqlid, kebanyakan saudara2 kita salafiyyin mengaku tidak taqlid, toh pada kenyataannya lebih suka mengambil pendapat ‘alim ulama salafy dalam menyimpulkan atau memberikan keputusan/fatwa yang tentu saja berlandaskan AlQuran dan Sunnah, dimana tetap saja harus taqlid pada ‘alim ulama tersebut.

Di masjid Nabawi sendiri (ma’had), rekan2 Salafiyyin juga masih terkotak-kotak, walaupun belajar pada ulama yang sama, ada yang disebut salafy yamani, salafy tablighi, dan lain-lain.

Alhamdulillaah, saudara2 kita pekerja da’wah hampir semuanya belajar massa’il pada ulama2 salafy tersebut bertujuan untuk mengambil ilmu dan ikram pada ulama2 tersebut, walaupun ada beberapa yang belum senang terhadap “jamaah tabligh”.

Bahkan ulama salafy tersebut semakin hari semakin heran, kok majelis ilmunya lebih banyak didatangi orang2 tabligh ini.
(biasanya kan terkenal tidak berilmu, jahil, menjauhi ulama dan lain-lain).

Bahkan tidak sedikit santri “tabligh” yang berprestasi ketika belajar pada ulama tersebut, mendapat rata-rata nilai 100 pada setiap ujiannya.

Santri ini akhirnya sangat dikagumi oleh ulama salafy tersebut, bahkan dipuji-puji di depan majelisnya.

Alhamdulillah, di Arab Saudi sendiri, sudah hampir 80% ulama yang mendukung terhadap usaha da’wah dan tabligh ini, beberapa ulama yang belum mendukung disebabkan masih salah pengertian thd usaha da’wah ini, sering memperoleh informasi yang tidak sesuai dari orang2 awam di sekitarnya, seperti : orang tabligh itu menyembah kubur, aqidah sesat, dan lain-lain.

Bahkan beberapa santri salafy lain diajak ke markaz da’wah di Madinah, dilibatkan dalam musyawarah harian, diajak silaturrahim, mereka semangat sekali. (Mereka tidak tahu kalau itu adalah markaz da’wah, jika tahu mungkin tidak mau masuk atau hadir.)

Catatan bahwa jika salafiyyin bertemu dengan pekerja da’wah di Madinah, mereka langsung kabur, tidak mau mendekat, senyum saja tidak mau, apalagi berdiskusi.

Namun Alhamdulillah, dengan tidak membawa bendera “Jamaah Tabligh”, mereka langsung dilibatkan dalam usaha da’wah, mereka sangat senang sekali.

Salah satu santri pentolan salafy dari Jogja berkata, “Di Jogja, markaz tabligh terletak di depan pesantren tempat saya berada, dan saya termasuk orang yang paling menentang tabligh, tapi sekarang kok saya jadi ikutan da’wah & tabligh!”

Bahkan ‘alim ulama rujukan salfiyyin seperti Syeikh Utsaimin rahimahullaah, Syeikh Abu Bakar Al Jazairi pun mendukung santri2 dan masyarakat umum untuk menyertai jama’ah ini, bukan untuk menjauhinya. Di televisi2 Saudi pun sudah ramai dikabarkan.

Namun sayang, di Indonesia ini, apalagi di Internet, beberapa orang saudara kita salafiyyin masih belum Allah beri kefahaman, sehingga sampai saat ini masih mengambil pendapat2 lama yang tidak berkenan terhadap usaha da’wah & tabligh.

That’s All.

Wassalamu’alaikum.

Berdakwah dengan cara damai

Jama’ah Tabligh

Berdakwah dengan cara damai

Oleh: Su’ud Hasanudin

 http://fospi.wordpress.com/2009/06/15/jamaah-tabligh/

Muqodimah.

India adalah sebuah wilayah yang cukup luas pada masa sebelum berpacahnya menjadi beberapa Negara; India, Pakistan, Bangladesh, Kashmir yang mesih menjadi sengketa.  Di negeri ini banyak bermunculan gerakan dan sekte keagamaan dengan macam dan ragamnya, mulai dari gerakan pencerahan keagamaan hingga singkritisasi perpaduan dari beberapa agama. Syiah islmailiyah, Deoband, Nadwatul ulama, Aligart movement, Berelvi, Tabligh, Ahmadiyah, Sikh, dan masih banyak lagi.

India masih dikenal sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas hindu, namun didalam Negara India terdapat sejumlah masyarakat muslim yang jauh lebih besar dari masyarakat Islam di Indonesia yang disebut sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia.

Demikian juga India tidaklah sepanjang masa dikuasai oleh masyarakat hindu, bahkan sebelum masukanya inggris ke dataran India masyarakat muslim pernah memimpin negara tersebut dalam bentang waktu yang cukup lama. Setidaknya dalam beberapa kitab hadits nama India terabadikan didalamnya, seperti dalam shohih al Bukhory[1] nama al hind disebut sebagai sebuah tempat yang pernah didatangkan dari wilayah tersebut sebatang kayu untuk dijadikan bahan atap masjid an Nabawi pada masa kholifah Usman bin Afan. Bahkan dalam sunan an Nasai[2] terdapat satu bab khusus mengenai Ghozwa tul Hind (pengiriman pasukan di India).

Bangsa India telah memiliki kekayaan budaya dan alam dan sudah dikenal oleh masyarakat dunia sejak lama, bahkan lembah mohinyo daro, dalam sejarah dilihat sebagai salah satu peradapan tertua di dunia. Dan dari kekayaan alam itulah bangs eropa tertarik untuk datang ke wilayah ini.

Masyarakat Islam berkembang di wilayah ini pada abad ke-8, setelah masuknya Muhammad bin Qosim, ke wilayah ini sebagai utusan dari pemerintahan Islam di Damaskus pada saat itu [3]. Pemerintahan Islam berdiri untuk pertama kalinya di dataran India pada kisaran tahun 712 M, berkedudukan di wilayah sind.[4]

Datangnya Ingris ke dataran India paling tidak telah merubah wajah dataran India, salah satu diantaranya adalah terpecahnya wilayah dataran tersebut menjadi beberapa Negara; India, Pakistan, Bangladesh, yang dahulu adalah satu wilayah kesatuan dengan sebutan India.

Munculnya multi movement di India

Setelah runtuhnya kekuasaan kerajaan monghul, umat Islam di India membentuk beberapa frond perjuangan, baik yang berbasis gerakan keagaaman, politik, maupun pendidikan.

Gerakan yang dipinpin oleh Shah Waliyullah ad Dahalwi adalah salah satunya sebuah gerakan pembaharuan yang membawa masyarakat Islam India kembali menyadari akan pentingnya karakteristik keIslaman. Laskar perjuangan (Jihat Movement) yang dipimpin oleh Syeh Ahmad (1785) adalah salah satu gerakan perjuangan melawan penjajahan Ingris dan menginginkan kembalinya pemerintahan kekhalifahan sebagaimana yang pernah terjadi pada generasi sahabat [5].

Sir Syed dengan ali garh Movement adalah sebuah gerakan pembaharuan dalam bidang pendidikan di dataran India yang di dirikan pada tahun 1857, dengan landasan ingin memperbaiki dengan mengangkat martabat bangsa muslim India.

Melihat gerakan Sir Syed Ahmad Khan yang cenderung menyimpang [6] para ulama India kemudian mendirikan Dar ul Ulum Deoband pada tahun 1867. 

Setelah beberapa kali terjadi konfik dan perseteruan antara gerakan Sir Syed dan Dar ul Ulum, ada beberapa pihak yang mencoba untuk menengahi masalah tersebut, kemudian didirikanlah Nadwat ul Ulama Lacknow. Gerakan ini berkeinginan untuk menyatukan dua fikiran yang dinilai bertolak belakang; yakni extreme modern development yang cenderung ke barat-baratan dan traditional approaches, prinsip utama Nadwat ul Ulama yang didirikan oleh Syed Muhammad Ali Cawnpuri adalah modern tanpa menghilangkan tradisi. 

Sementara dibidang politik, Muslim Leage diririkan tahun 1906 untuk memperjuangkan dan mengembalikan citra baik masyarakat muslim India. Pada umumnya orang-orang yang duduk di Muslim luage adalah buah dari gerakan Sir Syed dengan Aligarh College nya.

Dan dalam masa-masa menjelang pemisahan Pakistan dari India Jama’ah Tabligh didirikan.

Sejarah berdiri jama’ah tabligh.

Jama’ah Tabligh secara susunan bahasa diambil dari bahasa Arab: جماعة التبليغ , yang berarti “kelompok penyampai dan penyebar”. Jama’ah Tabligh didirikan pada akhir 1920-an oleh Maulana Muhammad Ilyas Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.

Ada sejarah yang terpotong dalam melihat jama’ah tabligh, seringkali jama’ah tabligh diidentikan dengan Pakistan. Bukan hanya sebab memandang dari ciri khas meraka berpakaian, rewind yang tidak jauh dari pusat kota Lahor merupakan diantara tempat yang memiliki kedudukan khusus bagi para peminat jama’ah tabligh. Seringkali perhelatan besar diselenggarakan di tampat itu, bahkan ijtima (international conference) tahunan selalu dilaksanakan di kota tersebut.

Lahore sebenarnya bukanlah kota kelahiran asal jama’ah tersebut, melainkan jama’ah tersebut sebenarnya dilahirkan di Kandhalawi di Mewat, sebuah provinsi di India.

Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1303 H dengan nama asli Akhtar Ilyas. Ia meninggal pada tanggal 11 Rajab 1363 H.

Ketika Muhammad Ilyas melihat mayoritas orang Meiwat[7] (suku-suku yang tinggal di dekat Delhi, India) jauh dari ajaran Islam, berbaur dengan orang-orang Majusi para penyembah berhala Hindu, bahkan memakai nama-nama orang Hindu, serta tidak ada lagi keislaman yang tersisa kecuali hanya nama dan keturunan, kemudian kebodohan yang kian merata, tergeraklah hati Muhammad Ilyas. Pergilah ia ke Syaikhnya dan Syaikh tarekatnya, seperti Rasyid Ahmad Al-Kanhuhi dan Asyraf Ali At-Tahanawi untuk membicarakan permasalahan ini. Dan ia pun akhirnya mendirikan gerakan tabligh di India, atas perintah dan arahan dari para syaikhnya tersebut. Merupakan suatu hal yang ma’ruf di kalangan tablighiyyin (para pengikut jamah tabligh) bahwasanya Muhammad Ilyas mendapatkan tugas dakwah tabligh ini setelah kepergiannya ke makam Rasulullah

Tujuan utama dari gerakan Tabligh ini adalah membangkitkan jiwa spiritual dalam diri dan kehidupan setiap muslim. Jama’ah Tabligh merupakan pergerakan non-politik. Jama’ah Tabligh juga merupakan gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya, Ada dua hal yang tidak boleh diperbincang selama Tabligh, yaitu soal politik dan khilafiah.

Berkenaan dengan nama, mungkin banyak kalangan dalam jama’ah tabligh sendiri terkadang enggan menyebut nama gerakan tersebut dengan nama apapun. Tidak diketahui secara pasti siapakah yang memberi nama jama’ah tersebut dengan sebutan jama’ah Tabligh, namun yang pasti dari jaulah (perjalanan dakwah yang mereka tempuh) mengisyaratkan bahwasanya diambilnya nama tabligh karena keterikatan meraka dengan selalu mengadakan bepergian untuk menyampaikan Islam

Ajaran darsar Jama’ah Tabligh

Jama’ah Tabligh mempunyai suatu asas dan landasan yang sangat dipegang teguh. Asas dan landasan ini mereka sebut dengan al-ushulus sittah (enam landasan pokok) atau ash-shifatus sittah (sifat yang enam), dengan rincian sebagaimana berikut; More

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.