Kebencian Itu Awal Dari Hidayah

Kirim Artikel Anda

M. Syamsi Ali, M.A.

Kebencian Itu Awal Dari Hidayah

Kaifa Ihtada
15/2/2010 | 29 Shafar 1431 H | Hits: 4.564

Oleh: M. Syamsi Ali, M.A.


Kirim Print

dakwatuna.com – New York, Pagi ini, Rabu 10 Pebruari, kota New York sedang dilanda badai salju. Sejak tengah malam lalu, salju turun tiada henti membuat jalanan menjadi sepi dan licin. Kebanyakan warga memilih tinggal di rumah, berbagai institusi ditutup sementara, termasuk sekolah-sekolah dan bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Saya sendiri cukup malas untuk meninggalkan rumah pagi tadi. Tapi entah apa, rasanya saya tetap terpanggil untuk melangkahkan kaki menuju kantor PTRI, dan selanjutnya ke Islamic Center. Ternyata kantor PTRI juga pagi ini hanya dibuka hingga pukul 12 siang.

Aku pun segera menuju Islamic Cultural Center of  New York dengan tujuan sekedar shalat Zhuhur dan Ashar sekalian. Lazimnya, ketika ada badai salju atau hujan lebat, jamaah meminta untuk menjamak’ shalat. Setiba di Islamic Center saya segera menuju ruang shalat, selain untuk melihat apakah pemanas ruangan telah dinyalakan atau belum, juga untuk shalat sunnah.

Tiba-tiba saja Sekretaris memanggil, ‘Some one is waiting for you!’. ‘Let me do my sunnah and will be there!’, jawabku.

Setelah shalat sunnah, segera saya menuju ke ruang perkantoran Islamic Center. Di ruang tamu sudah ada seseorang yang relatif berumur, tapi nampak elegan dalam berpakaian. ‘Hi, good morning!’, sapaku. ‘Good morning!’, jawabnya dengan sangat sopan dan ramah. ‘Waiting for me?’, tanyaku sambil menjabat tangan. ‘Yes, and I am sorry to bother you at this early time’, katanya sambil tersenyum.

Saya mengajak pria berkulit putih tersebut ke ruangan kantor saya. Dengan berbasa-basi saya katakan ‘wah mudah-mudahan Anda diberikan pahala atas perjuangan mengunjungi Islamic Center dalam suasana cuaca seperti ini’. ‘Oh not at all!. We used to this kind of weather’, jawabnya.

So, what I can do for you this morning’, tanyaku memulai pembicaraan. Tanpa saya sadari orang tersebut masih berdiri di depan pintu. Barangkali dia tidak ingin lancang duduk tanpa dipersilakan. Memang dia nampak sopan, tapi dari kata-katanya dapat dipahami bahwa dia cukup terdidik. ‘Please do have your sit!’, kataku. ‘Thanks sir!’, jawabnya singkat.

Setelah duduk saya ulangi lagi, pertanyaan sebelumnya ‘what I can do for you this morning?’. ‘Sambil membalik posisi duduknya, dia melihat ke saya dengan sedikit serius, tapi tetap dengan senyumnya. ‘I am here for….’, seolah terhenti..’for some clarifications!’, jawabnya. ‘I have been reading, I have observed, even I have learned about the religion, and to be honest I know about it a great deal!’, jelasnya.

That’s great!’, selaku. Tiba-tiba dia memotong More

Mahasiswa Pengafal Alquran Lebih Cerdas

Mahasiswa Pengafal Alquran Lebih Cerdas

Kamis, 28 Januari 2010, 15:41 WIB

SURABAYA–Ada cerita menarik dari Wakil Gubernur (Wagub) Jawa Timur Drs H Syaifullah Yusuf, tentang secuil hikmah dan manfaat bagi penghafal Alquran. Menurut wagub yang akrab disapa Gus Ipul ini, penghafal Alquran ternyata lebih cerdas dibanding orang lain yang hanya bisa membaca dan tidak hafal. “Ini sudah dibuktikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang,” kata Gus Ipul saat memberi sambutan dalam Silaturami Alquran Bayan di Hotel Sahid Surabaya, kemarin.

Selama ini, kata Gus Ipul, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang memang menerapkan kebijakan cukup langka. Perguruan tinggi ini memberikan perlakukan istimewa kepada para mahasiswa maupun calon mahasiswa yang hafal Alquran. Para mahasiswa dan calon mahasiswa hafal Alquran ini dibebaskan dari SPP dan biaya pendidikan lainnya aliat gratis kuliah di UIN Malang sampai lulus.

Yang lebih mencengangkan, lanjut Gus Ipul, ternyata setiap tahun semua lulusan terbaik dari seluruh fakultas di kampus itu adalah mahasiswa yang hafal Alquran. “Ini membuktikan bahwa bmembaca dan menghafal Alquran tidak menghambat belajar, tapi malah menambah kecerdasan mereka,” ungkap Gus Ipul.

Bahkan menurut Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof Dr Imam Suprayogo, kata Gus Ipul lagi, orang yang hafal Alquran itu kalau meningal jasadnya bisa bertahan utuh selama bertahun-tahun. Kendati belum ada penelitian secara empirik, tapi ada satu peristiwa yang membuktikan hal tersebut.

Dalam acara wisuda mahasiswa sebuah pesantren binaan UIN Malang di Kecamatan Bululawang beberapa waktu lalu, Imam Suprayogo menyatakan saat ada pembangunan jalan di sebuah desa di Bululawang, Kabupaten Malang, terpaksa menggusur area pemakaman. Saat membongkar salah satu makam, pekerja menemukan jasad yang masih utuh baik rambut daging, maupun giginya. Setelah ditelusuri, kata Imam, jasad itu adalah jasad More

Sugen Threen, Masuk Islam Setelah Jadi Pengelana Agama

Sugen Threen, Masuk Islam Setelah Jadi Pengelana Agama

Selasa, 09 Maret 2010, 21:11 WIB
nidia zuraya/republika

nidia zuraya/republika

Mimpi yang dialaminya pada suatu malam di penghujung September 2005 seakan menjadi pembuka jalan hidayah bagi Sugen Threen. “Dalam mimpi tersebut saya mengenakan pakaian gamis, bersorban lengkap dengan selendang sedang berdakwah,” ujarnya membuka pembicaraan dengan Republika, Kamis (4/3).

Setelah mendapat mimpi seperti itu, pria kelahiran Jakarta, 15 Maret 1969, ini lantas menemui seorang ulama kenalannya yang bermukim di daerah Cibarusah, Bekasi. Kepada ulama tersebut, Sugen menceritakan mimpi yang didapatnya. “Mimpi bagus datangnya dari Allah, mimpi buruk datangnya dari setan,” begitu jawaban sang kiai kala itu.

Mendapat jawaban seperti itu, Sugen merasa bahwa mimpi yang datang dalam tidurnya itu merupakan sebuah mimpi bagus. Ia pun teringat dengan perkataannya sendiri tatkala sang ulama memintanya untuk masuk Islam jauh sebelum ia mendapatkan mimpi itu.

Waktu itu ia berkata, “Buat apa masuk Islam, sedang orang Islam sendiri banyak yang tidak benar. Kalau Allah menyuruh secara langsung, saat itu juga saya akan masuk Islam.” Setelah melakukan diskusi dan merenung, Sugen pun dengan mantap memutuskan masuk Islam.

Peristiwa tersebut terjadi tepat 10 hari sebelum datangnya bulan Ramadhan tahun 2005. Di hadapan KH Abdul Haq Hamidy, sang guru spiritualnya, ia mengutarakan keinginannya untuk masuk Islam. Dengan dibimbing oleh KH Abdul Haq Hamidy, ia pun mengucapkan syahadat.

Setelah resmi menjadi seorang mualaf, hari-harinya ia isi dengan belajar shalat wajib lima waktu. Semua itu, ia pelajari secara autodidak, baik melalui bukubuku agama maupun melihat secara langsung gerakan orang shalat. “Saya awalnya belajar shalat dari buku. Lalu, saya catat. Suatu hari, ketika ikut shalat berjamaah, catatan saya bawa. Sambil mengikuti shalat berjamaah, saya memerhatikan catatan tersebut. Akibatnya, jamaah di samping saya bingung dengan tindakan saya,” ujar Sugen mengingat memori masa lalunya belajar Islam.

Awalnya, Sugen adalah pemeluk Hindu. Ayahnya adalah warga Indonesia keturunan India, sementara sang ibu keturunan Arab. Meski kedua orang tuanya menikah secara Islam, namun menurutnya, dalam keseharian mereka tidak pernah menjalankan kewajiban sebagai seorang Muslim. Bahkan, dalam perjalanannya, ibunya memilih untuk menjadi pemeluk Hindu. Keyakinan yang dianut sang ibu ini pun diikuti oleh Sugen dan ketiga orang adiknya.

Ketika mengenyam pendidikan di bangku kuliah, ia sempat berpindah keyakinan ke agama Katolik. Hal ini dikarenakan ia mempunyai seorang pacar beragama Katolik. “Saya sempat dibaptis dan mendapat nama baptis Franciscus Xaverius,” ujarnya.

Namun, karena hubungannya tak direstui sang Ibu, Sugen kembali ke Hindu dan memutuskan hubungan dengan sang pacar. Oleh orang tuanya, Sugen dijodohkan dengan gadis keturunan India yang juga merupakan pemeluk Hindu.

Doa kiai Selepas menamatkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Trisakti pada 1992, Sugen melakoni sejumlah pekerjaan yang menurut istilahnya `bekerja di jalan yang keras’. Dengan postur tubuh yang tinggi besar, tak mengherankan jika ia pernah menjadi seorang More

Testimoni / Karguzari Yang Pernah Keluar 3 Hari

Mustafa (source : http://usahadawah.com)

Saya sudah mengenal jamaah dakwah ini beberapa tahun yang lalu, karena banyak keluarga yang ikut di dalamnya. Tapi saya baru menyempatkan diri ikut keluar tiga hari. Kesan saya adalah subhanalloh, apa yang dilakukan sangat mulia dan sangat baik sekali. Dan semua aktifitasnya memang bersandar kepada sunnah Nabi kita semua yang agung, Nabi Muhammad SAW.

Dengan keluar tiga hari saya merasakan betapa nikmatnya amalan jam’iah, baik saat beribadah sholat berjamaah, taklim berjamaah, bahkan pada saat makan berjamaah dan kegiatan jam’iah lainnya. Dan yang lebih istimewa lagi, amalan jam’iah ini dilakukan oleh semua anggota rombongan tanpa membedakan satu sama yang lain.

Ada ustadz, ada dosen, ada pegawai, ada pengajar, ada mahasiswa, ada santri, ada pensiunan. Ada yang baru keluar, dan ada pula yang sudah sering dan lama keluar. Tapi semua menyatu dan dengan sungguh-sungguh mengikuti semua program yang sudah disiapkan.
Dengan keluar tiga hari saja sudah sangat terasa hubungan persaudaraan sesama muslim yang erat. Sikap saling memuliakan dan menghormati sesama muslim sangat kental terasa. Insya Alloh kegiatan dakwah ini bisa terus mendorong umat muslim untuk terus berdakwah demi tegaknya Islam di seluruh alam.

Bukankan Nabi kita sudah mengajak kita semua untuk berdakwah walaupun dengan satu ayat (mungkin maksudnya walaupun ilmu agama kita masih minim). Tidak perlu menunggu menjadi ulama untuk bisa berdakwah. Tapi sampaikan yang sederhana yang kita pahami. Begitulah sekelumit kesan saya setelah mengikuti keluar tiga hari.

Bagi penggemar durian, enaknya durian, bisa diceritakan hanya kepada orang yang pernah merasakan kelezatannya. Kepada saudaraku sesama muslim, yang belum pernah keluar, coba deh, anda akan merasakan kelezatannya. Wallau ‘alam.

————————————————————————————————-

cara-unik-sebarkan-kebenaran-islam-dalam-40-hari

Sumber : http://usahadawah.com/2009/02/14/cara-unik-sebarkan-kebenaran-islam-dalam-40-hari/ Chilla, sebuah acara perjalanan dakwah melintasi seluruh bagian  dunia telah menjadi salah satu penyebar Islam dengan cara damai.  (SuaraMedia News)

Chilla, sebuah acara perjalanan dakwah melintasi seluruh bagian dunia telah menjadi salah satu penyebar Islam dengan cara damai. (SuaraMedia News)

DHAKA (SuaraMedia) – Seperti tahun-tahun sebelumnya, Mohammed Fauzia selalu mempersiapkan diri untuk melaksanakan “Chilla”, sebuah ritual perjalanan dakwah ke seluruh bagian dunia untuk menyebarkan agama Islam.

“Saya lakukan yang terbaik taip tahunnya dengan mengikuti Chilla dan membawa Islam melintasi dunia”, kata ahli teknik asal Malaysia tersebut.

Moahmmed, juga turut berpartisipasi dalam Chilla, yang diadopsi dari bahasa Persia “Chihli” yang berarti empat puluh, sebuah perjalanan dakwah yang telah dilaksanakan selama lebih dari 15 tahun.

“Saya telah pergi ke beberapa negara seperti Australia, Pakistan, Thailand, dan India”, kenangnya.

Dua tokoh tersebut juga turut berkumpul bersama dengan ribuan Muslim lainnya dalam festival Bishwa Ijtima yang diadakan di Dhaka bulan lalu dan diselenggarakan oleh Tablig-e-Jamaat, sebuah kelompok Muslim non-politik Internasional.

Festival selama tiga hari tersebut, dihadiri sekitar 10.000 Muslim dari 108 negara, bertujuan mengembangkan Islam di seluruh dunia serta memperkuat hubungan Muslim antar negara.

Setelah festival tersebut, ratusan dari Muslim yang datang berkumpul di Masjid Kakrail di Daka untuk melakukan Chilla.

Para partisan yang dibagi dalam beberapa kelompok, terdiri dari 10-20 orang, dan perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih 40 hari.

“Setiap Muslim memiliki andil dalam berdakwah”, kata Erfan Ibrahim, seorang guru asal Afrika Selatan yang turut bergabung dalam Chilla.

Didirikan pada 1920an oleh seorang Ulama India, Tablig-e-Jamaat adalah kelompok Muslim non-politik Internasional.

Kelompok tersebut berpusat di New Delhi dan telah memiliki cabang di sekitar 80 negara.

“Kami telah menyebarkan dakwah dan perdamaian dunia bersama Tablig-e-Jamaat”, kata seorang wirausahawan asal Pakistan yang menjadi perwakilan dari negaranya.

“Kami sangat bahagia dan bangga menjadi bagian dari ini semua.”

Para partisan Chilla mengatakan misi dakwah yang mereka lakukan membawa hal positif bagi diri mereka.

“Sebenarnya salah satu tujuan utama kami dalam misi ini adalah untuk More

Terbesar Setelah Haji | Informasi Haji Departemen Agama Republik Indonesia

Terbesar Setelah Haji

Sumber : Informasi Haji Departemen Agama Republik Indonesia

PDF Cetak E-mail
Senin, 25 Januari 2010 18:06
Jakarta (MCH). Setidaknya empat juta muslim menghadiri acara yang disebut Bishwa Ijtima’ di Bangladesh pada hari Ahad, 24 januari kemarin. “Ini adalah klimaks dari acara Islam tahunan terbesar setelah haji,” kata seorang anggota polisi Bangladesh yang dikutip Hindustan Times edisi Senin, 25 Januari hari ini.
Tiga hari Bishwa Ijtema, atau Kongres Muslim Dunia, berakhir dengan upacara doa yang dipimpin seorang ulama asal India. Jutaan orang memadati jalanan kita. Bishwah pertama kali diselenggarakan tahun 1960 di tepi sungai Turag yang menjadi pusat Jamaat Tablig, sebuah kelompok non-politik yang bercita-cita mendorong orang untuk mengikuti Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hasan Ma’mun, inspektur polisi Dhakka, sedikitnya empat juta orang, termasuk Perdana Menteri Sheikh Hasina, menghadiri acara itu. “Tahun ini jumlah yang datang lebih banyak karena cuaca yang lebih baik,” kata Hasan, seraya menambahkan bahwa aparat keamanan sebanyak 10.000 berjaga-jaga.
Polisi mengatakan ada sekitar 25.000 jemaah asing dari sekitar 110 negara menghadiri acara itu. Namun, diakui, mayoritas yang datang adalah warga miskin dari pedesaan Bangladesh. Mereka menyamakan peristiwa ini dengan haji ke Mekkah.
Dhaka seperti kosong pada hari Ahad kemarin karena sebagian besar penduduknya meninggalkan pekerjaan mereka menuju kota kecil berjarak 40 kilometer arah utara untuk acara itu. Pemerintah menyiapkan kereta api dan feri untuk itu. Puluhan jembatan darurat dan tangki air didirikan serentak.
Bangladesh adalah dunia ketiga-mayoritas Muslim terbesar bangsa, dengan umat Islam hampir 90 persen dari 144 juta penduduk. (Musthafa Helmy)

Tiga Juta Umat Islam Hadir pada Ijtima Dunia Jamaah Tabligh

Tiga Juta Umat Islam Hadir pada Ijtima Dunia Jamaah Tabligh

sumber:http://www.eramuslim.com/berita/dunia/3-juta-umat-islam-hadir-pada-ijtima-dunia-jamaah-tabligh.htm

Senin, 25/01/2010 11:39 WIB | email | print | share

Sekitar 3 juta umat Islam pada hari Ahad kemarin (24/1) mengakhiri “muktamar umat Islam dunia” di tepi sungai Turag kota Tongi, 20 km sebelah utara ibukota Dakha Bangladesh dan acara mukatamar ini merupakan pertemuan umat Islam terbesar kedua di dunia setelah ibadah Haji.

Acara muktamar yang diselenggarakan oleh Jamaah Tabligh ini, memfokuskan pada ceramah-ceramah agama (atau diistilahkan dengan “bayan” oleh Jamaah Tabligh) yang mengajak umat Islam untuk menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari mereka, melaksanakan sholat, bermuhasabah dan mendiskusikan isu-isu yang menitik beratkan pada dimensi spiritual Islam serta mencari jalan keluarnya dengan cara berdakwah menyebarkan nilai-nilai Islam dan mengkampanyekan perdamaian dunia tanpa membicarakan hal-hal yang berbau politik.

Muktamar umat Islam dunia atau lebih dikenal dikalangan Jamaah tabligh dengan istilah “Ijtima’ Dunia” dalam bahasa Bangladesh disebut “Bishwa Ijtima”, merupakan acara tahunan rutin dari rangkaian program kegiatan dakwah Jamaah Tabligh.

Bishwa Ijtima dilaporkan pertama kali diadakan pada tahun 1966 atas prakarsa seorang ulama India yang juga merupakan konseptor Jamaah Tabligh – Syaikh Maulana Ilyas. Awalnya Syaikh Maulana Ilyas memulai kegiatan Bishwa Ijtima dengan sekelompok kecil masyarakat Muslim yang peduli dengan umat Islam dan berkumpul di sebuah masjid di Tongi dan atas usaha dakwahnya, saat ini Bishwa Ijtima bisa dihadiri oleh jutaan umat Islam yang datang dari seluruh dunia dan dalam beberapa tahun terakhir Ijtima tersebut menjadi pertemuan umat Islam dunia terbesar kedua setelah ibadah Haji.

Selama empat puluh tahun lebih, Tongi telah menjadi lokasi tempat berlangsungnya acara Ijtima, meskipun acara sejenis diselenggarakan juga pada skala yang lebih kecil di negara-negara lain.

Acara pertemuan Jamaah Tabligh seluruh dunia ini dimulai pada hari Kamis lalu (22/1) selama 3 hari berturut-turut dan berakhir pada hari Ahad kemarin (24/1), beberapa tokoh penting tampak hadir dalam acara ini termasuk Perdana Mentri Bangladesh Sheikh Hasina dan salah seorang pemimpin oposisi Bangladesh, Khalida Zia.

Program Ijtima berakhir ditandai dengan acara “Akheri Munajat” atau doa terakhir yang dipimpin oleh seorang Ulama Jamaah Tabligh. Untuk Ijtima kali ini, sempat terjadi insiden dengan wafatnya 3 orang peserta pada pagi hari pada hari terakhir acara.(fq/iol)

Ritual Akbar Lebihi Haji | KALTIM POST

Ritual Akbar Lebihi Haji


// <![CDATA[// http://www.kaltimpost.co.id/?mib=berita.detail&id=13183

KERETA JAMAAH: Peserta Biswa Ijtima yang menggunakan kereta api di Dhaka, Bangladesh. Kemarin merupakan hari terakhir sekaligus puncak ritual Muslim terbesar di dunia ini. Tahun lalu 5 orang tewas dalam ritual keagamaan ini.(ap photo/pavel rahman)
TONGI  – Haji ternyata bukan ritual terbesar muslim. Dari jumlah pesertanya, acara Biswa Ijtima atau Pertemuan Muslim Dunia di Bangladesh menjadi yang terakbar. Bila puncak haji yang baru lalu diperkirakan diikuti 2,5 juta orang, Biswa Ijtima dihadiri sekitar 3 juta orang. Bukan hanya bagi dunia Islam, acara itu diperkirakan juga menjadi acara keagamaan terbesar di dunia.

Kemarin Biswa Ijima berakhir. Puncak acara tiga hari itu adalah Jumat lalu, ketika seluruh jamaah salat Jumat. Acara itu secara tradisi digelar di tepian berpasir Sungai Turag di kawasan kota industri kecil Dhaka, ibukota Bangladesh. Sebelas ribu polisi dari kesatuan elite menjaga keamanan acara tersebut.

Sebelum bubaran kemarin dilakukan doa bersama. Doa itu berisi harapan perdamaian dan kesejahteraan dunia muslim. Acara yang dirintis ulama Muhammad Ilyas, pelopor gerakan Tabligh, dimulai pada 1946. Sedangkan acara itu menjadi rutin tahunan sejak 1966. Tablig akbar itu menyedot banyak orang dari berbagai kalangan karena nonpolitis. Tabligh menyerukan agar Islam dijadikan jalan hidup sehari-hari.

Meskipun berdesakan di areal 77 hektare, dilaporkan tak banyak terjadi kecelakaan fatal. Tahun lalu lima orang meninggal akibat kedinginan dan menyebabkan acara diakhiri lebih cepat. Pada setiap acara pertemuan, gelombang massa datang berdesakan dengan berbagai kendaraan. Bus, kereta api, dan perahu selalu dinaiki penumpang yang jumlahnya melebihi kapasitas.

Selama pertemuan tiga hari itu jamaah mendiskusikan Alquran, bertafakur, dan juga mendengarkan ceramah agama dari ulama berbagai negara. Ulama dari India, Iraq, Iran, Afghanistan, dan Arab Saudi ikut berbicara di sana. Sedangkan sebagian besar jamaah berasal dari Bangladesh, negara yang 90 persen dari 144 juta penduduknya muslim. Tetapi, panitia menyebut sekitar 10 ribu orang asing dari 152 negara mengikuti acara tersebut.

Meskipun nonpolitis, para tokoh politik tak dilarang datang ke acara itu. Presiden Iajuddin Ahmed, PM Sheik Hasina, dan juga tokoh oposisi Khaleda Zia ikut berdoa di sana. Sebenarnya acara itu khusus untuk laki-laki. Tetapi, banyak juga perempuan yang mengikuti acara dari gedung-gedung atau atap rumah tak jauh dari lokasi. Sheik Hasina dan Khaleda Zia, yang keduanya perempuan, juga berdoa dari gedung di sekitar tempat acara. (AP/AFP/roy)

Bishwa Ijtima…Largest Da`wah Meeting

By  Ferdous Ahmad, IOL Correspondent

http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1232976629455&pagename=Zone-English-News%2FNWELayout

“I have been attending the Tablig-e-Jamaat meeting for the past 40 years,” Abu Taher told IOL.

DHAKA — Just like every year, Abu Taher joined millions of Muslims from Bangladesh and abroad in threes day of worship and Islamic knowledge in the largest gathering of Muslims after hajj.

“I have been attending the Tablig-e-Jamaat meeting for the past 40 years,” Abu Taher, 59, told IslamOnline.net on Sunday, February 1.

Millions gathered on the banks of the river Turag at Tongi township on the outskirts of the capital Dhaka to attend the Bishwa Ijtima, or the World Muslim Congregation.

The three-day gathering is organized annually by Tablig-e-Jamaat, a Bangladeshi non-political Islamic group.

Dhaka was deserted on Sunday, a normal working day in Bangladesh, as many residents left their jobs and headed to the venue to attend the final prayers, which make the climax of the event.

Organizers said more than 10,000 foreigners from 108 countries attended this year’s event but that most of the worshippers were rural Bangladeshis.

Taher, who has been a member of the Tablig-e-Jamaat for decades, travels to Ijtima from the town of Bogora, some 250 km away from Tongi.

He recalls how 40 years ago, the meeting was attended by only few thousands.

The first Bishwa Ijtima was held in 1946 and began as a small group of people gathering at a local mosque in Tongi.

It has been held annually since then.

In recent years Bishwa Ijtima drew millions of devotees from Bangladesh, the world’s third-largest Muslim-majority nation, and abroad.

“It has become a very big congregation of Muslims. So we feel proud to attend Ijtima,” one devotee told IOL.

Da`wah

“I have joined this Tablig-e-Jamaat to develop my faith as a Muslim through da`wah works,” Mohammad, a university student, told IOL.

The gathering shuns politics and focuses solely on reviving the tenets of Islam and promoting peace and harmony.

For three days, participants pray, discuss the Noble Qur’an, attend lectures given by scholars from around the world and share notes on ways to spread Islam’s message.

“Preaching Islam in the world is the main target of this three-day Bishwa Ijtima,” Abul Bashar Khan, an engineer who attends the annual gathering, told IOL.

He added that participants learn during the meeting about new programs for da`wah works.

Mohammad Saiful Islam, mathematics student at the Jahangir Nagar University in Dhaka, comes to listen to speeches by prominent scholars on da`wah.

“I have joined this Tablig-e-Jamaat to develop my faith as a Muslim through da`wah works.”

Mohammad joined in November a four-month da`wah tour with Tablig-e-Jamaat that took him to several religions across the Asian Muslim country.

Mohammad Anisuzzaman, another devotee, is yet to join one of the Tablig-e-Jamaat’s da`wah convoys.

The trip is expected to take him all the way to Russia.

Mohammad Maruf Bin A. Jabber comes to Bishwa Ijtima to gain more knowledge on how to inform people of Islam’s peaceful message.

The businessman believes that joining da`wah is an obligation for every Muslim.

“We are responsible to preach Islam in today’s world.”
Read more: http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?c=Article_C&cid=1232976629455&pagename=Zone-English-News%2FNWELayout#ixzz0hMAR1FfR

BBC NEWS | In pictures: Bangladesh Muslim gathering

Source :http://news.bbc.co.uk/2/hi/in_pictures/7209970.stm

//

Crowd

Bangladeshis say that the Biswa Ijtema is the largest annual gathering of Muslims outside Saudi Arabia, with two to three million people from Bangladesh and elsewhere expected.

//

Abdul Rahman

Farmer Abdul Rahman says the festival's popularity stems from its accessibility for the poor.

//

Aerial view

The Biswa Ijtema, which takes place beside the Turag river, is organised by missionaries and focuses on learning and prayer.

//

Delwar

Twelve-year-old religious college pupil Delwar says he has come to his first Biswa Ijtema to get closer to God.

//

Rapid Action Battalion

The security forces have deployed 20,000 men, including members of the paramilitary Rapid Action Battalion, to make sure there is no trouble.

//

Rakib

Rakib, who has come with his father from London, described the atmosphere as "spiritual".

//

Men

Getting to the gathering is a struggle for many. Vehicles queued from more than 5km (three miles) away to reach the site, so many decided it was best to walk.

//

// YOUR PICTURE GALLERY IS NOW LOADING…

//

Crowd

// Bangladeshis say that the Biswa Ijtema is the largest annual gathering of Muslims outside Saudi Arabia, with two to three million people from Bangladesh and elsewhere expected.

Abdul Rahman

// Farmer Abdul Rahman says the festival’s popularity stems from its accessibility for the poor.

Aerial view

// The Biswa Ijtema, which takes place beside the Turag river, is organised by missionaries and focuses on learning and prayer.

Delwar

// Twelve-year-old religious college pupil Delwar says he has come to his first Biswa Ijtema to get closer to God.

Rapid Action Battalion

// The security forces have deployed 20,000 men, including members of the paramilitary Rapid Action Battalion, to make sure there is no trouble.

Rakib

// Rakib, who has come with his father from London, described the atmosphere as “spiritual”.

Men

// Getting to the gathering is a struggle for many. Vehicles queued from more than 5km (three miles) away to reach the site, so many decided it was best to walk.

Abu Jaffar

"We have come here to find out how we can best attain peace in this life, and the one after death," Abu Jaffar, from Gazipur, explains. (Pictures and text by Mark Dummett)

//

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.