Al Hikam ( 146 )|Tanda Masuknya Cahaya Keimanan

Andaikan Nur keyakinan itu telah menerangi hatimu, niscaya engkau dapat melihat akhirat itu lebuh dekat kepadamu sebelum engkau melangkahkan kaki kepadanya, juga niscaya engkau akan dapat melihat segala kecantikan dunia ini, telah diliputi kesuraman kerusakan yang bakal menghinggapinya.

Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya nur cahaya jika masuk dalam hati, terbuka lapanglah dada untuknya. Ketika nabi SAW ditanya : Ya Rasulullah apakah yang demikian itu ada tandanya?
Jawab Nabi SAW : Ya, yaitu merenggangkan diri dari dunia, dan condong pada akherat yang kekal, dan bersiap siap untuk menghadapi maut sebelum tibanya.

Anas RA berkata : Ketika Rasulullah SAW sedang berjalan bejumpa dengan seorang pemuda dari sahabat anshar, Pada suatu hari, ketika Nabi Muhammad berjalan di kota Madinah, beliau berselisih dengan seorang sahabat yang bernama Harithah bin Syuraqah.

“Harithah! Bagaimana keadaanmu pagi ini?” beliau bertanya.
jawabnya: Saya kini menjadi seorang mu’min yang sungguh – sungguh.

Rasulullah berkata : Hai Haritsah perhatikan perkataanmu, sebab tiap kata itu harus ada bukti hakikinya. Maka berkata haritsah : Ya Rasulullah jiwaku jemu dari dunia , sehingga saya bangun malam dan puasa siang hari, kini seolah – olah aku berhadapan dengan arsy, dan melihat ahli sorga sedang ziarah menziarahi satu sama lain, sebagaimana seolah – olah aku melihat ahli neraka sedang menjerit – jerit di dalamnya. Bersabda Nabi SAW: Engkau telah melihat, maka tetapkanlah ( jangan berubah ). Seorang yang telah diberi cahaya iman dalam hatinya. Haritsah berkata: Ya Rasulullah do’akan aku mati syahid, maka nabi SAW berdo’a untuknya.

Dan pada suatu hari ada panggilan untuk berjihad ( hai kuda Allah bersegeralah ), maka dia yang pertama menyambutnya dan pertama kali mati Syahid.

Dan ketika ibunya mendengar berita bahwa anaknya telah mati syahid, ia datang bertanya kepada Rasulullah.

“Ya Rasulullah , beritakan kepadaku tentang putraku haritsah putraku, jika ia dia berada di sorga aku tidak akan menangis atau menyesal, tetapi jika lain dari itu aku akan menangis selama hidupku di dunia!

“Wahai ibu Harithah! Bersabarlah, sesungguhnya anakmu terbunuh dijalan Allah,” jawab Nabi Muhammad.

Ibunya mengulangi pertanyaan tersebut dan dijawab dengan jawapan yang sama. Untuk kali ketiga, ibu Haritsah bertanya, “Ya Rasulallah, aku tahu kalau anakku terbunuh di jalan Allah kerana itu yang diinginkannya. Tetapi dimana anakku berada, di syurga atau neraka?”

“Wahai ibu Haritsah, apakah engkau tidak tahu? Sesungguhnya syurga itu bukan hanya satu, tetapi banyak sekali tingkatannya. Dan sesungguhnya anakmu telah mencapai syurga Firdaus, iaitu syurga yang paling tinggi,” jawab Nabi Muhammad.

Ibu Harithah merasa gembira mendengarkannya. Ahli sejarah mengatakan bahawa ketika Harithah terbunuh di jalan Allah, dia berusia 17 tahun.

Diriwayatkan dari anas r.a, ia berkata: “Sesungguhnya Muadz bin Jabbal pernah menghadap Rasûlullâh SAW ketika beliau sedang menangis. Lalu Rasûlullâh bertanya kepadanya:”Bagaimana keadaanmu hari ini, wahai Muadz?” Muadz menjawab:”Saya sebagai mu’min yang benar”. Nabi bersabda: “Setiap perkataan itu harus dibuktikan, maka apakah bukti perkataanmu itu?” Muadz menjawab:” Wahai Nabiyullâh, tiadalah aku memasuki waktu pagi melainkan aku mengira bahwa aku tidak mendapati sore hari. Dan bila aku berada pada waktu sore aku mengira bahwa usiaku tidak akan sampai pada pagi hari. Dan tidaklah aku melangkahkan kakiku selangkah melainkan aku mengira bahwa aku sudah tidak dapat melanjutkan langkah berikutnya. Terbayang olehku seolah-olah aku melihat setiap ummat berlutut dan dipanggil untuk menerima buku catatan amal masing-masing dan mereka disertai oleh Nabinya dan berhala-berhala yang disembahnnya selain Allâh, dan seolah-olah aku melihat siksaan ahli neraka dan pahala ahli syurga.” Rasûlullâh SAW bersabda, “Engkau telah mengerti , karena itu lazimlah hal itu.”

About these ads

3 thoughts on “Al Hikam ( 146 )|Tanda Masuknya Cahaya Keimanan

  1. Tiada kenikmatan yang lebih indah selain manisnya rasa keimanan di dada ketika mengingat-Nya dan mengingat Rasul-Nya. Begitu mantap dan indahnya keimanan para sahabat
    rodhiyallahuanhum saat itu. Tidak rindukah kita meneladani mereka R.hum?

  2. dgn bersyukur Akan bertambah nikmat dari Allah dgn bersabar Allah akan menolong hambanya padanya seluruh urusab dipasrahkn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s